Selebritas Safrie Ramadan menyampaikan permohonan maaf terbuka pada Selasa, 5 Mei 2026, menyusul perselisihan digital yang melibatkan kreator konten Na Daehoon dan keluarganya. Safrie mengakui tindakannya di platform media sosial tidak mencerminkan kedewasaan dan telah memicu kegaduhan publik yang tidak perlu.
Klarifikasi ini muncul setelah adanya unggahan yang menyinggung pihak Na Daehoon di dunia maya. Safrie menyatakan penyesalannya secara langsung melalui pernyataan resmi yang diunggah untuk memperbaiki kesalahpahaman yang telah terjadi di antara kedua belah pihak.
"Halo semuanya, saya Safrie Ramadan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan yang saya perbuat belakangan ini," ungkap Safrie, dilansir dari WowKeren.
Ia menyadari bahwa setiap konten yang dipublikasikan memiliki dampak luas, terutama terhadap privasi orang lain. Safrie menegaskan komitmennya untuk lebih bijak dalam berkomunikasi di ruang digital pada masa mendatang.
"Saya mengakui apa yang saya perbuat tidak dapat dibenarkan dan saya mengaku bahwa saya belum dewasa dalam bersosial media," lanjut Safrie.
Selain permohonan maaf kepada khalayak umum, Safrie juga menyebutkan nama pihak terkait secara spesifik. Ia berharap permintaan maaf ini dapat diterima oleh pihak yang merasa dirugikan demi menjalin hubungan yang lebih baik.
"Saya juga meminta maaf kepada saudara Na Daehoon dan keluarga atas apa yang sudah saya posting di sosial media," tambahnya.
Di sisi lain, polemik ini menarik perhatian ahli terkait perlindungan privasi anak dalam dinamika hubungan orang dewasa. Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menekankan bahwa anak-anak, khususnya usia balita, berada pada fase pembentukan rasa aman yang sangat krusial.
"Melihat dinamika yang terjadi pada kasus tersebut, terdapat beberapa poin krusial yang bisa ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan dan teori kelekatan atau attachment theory," kata Danti kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Danti menjelaskan bahwa stabilitas emosional anak harus menjadi prioritas utama setelah perpisahan orangtua. Memperkenalkan pasangan baru terlalu dini atau menjadikan anak sebagai objek konten dapat mengganggu fondasi emosional mereka.
"Sebaiknya, anak bisa diperkenalkan kepada pasangan jika hubungan tersebut sudah berada di tahap komitmen yang sangat serius," ujar Danti.
Pakar psikologi tersebut juga mengingatkan risiko penggunaan anak sebagai bahan candaan atau sekadar materi konten demi mendapatkan reaksi publik. Tindakan tersebut dinilai dapat menyebabkan anak menginternalisasi rasa malu yang menghambat perkembangan identitas diri.
"Menjadikan anak sebagai bahan candaan atau objek dalam konten demi reaksi orang dewasa adalah bentuk pelanggaran batasan emosional," tegas Danti.
Danti menyarankan agar orangtua memberikan perlindungan ekstra terhadap kesehatan mental anak dalam menghadapi perubahan keluarga. Langkah protektif ini mencakup menjaga privasi anak dari paparan dinamika romantis orang dewasa yang belum stabil.
"Menjaga privasi anak dan memastikan mereka tidak terpapar pada dinamika romantis orang dewasa yang belum stabil adalah langkah protektif yang esensial bagi kesehatan mental mereka dalam jangka panjang," tutup Danti.