San Antonio Spurs sukses melangkah ke babak Final NBA setelah menumbangkan juara bertahan Oklahoma City Thunder dengan skor 111-103 pada Gim 7 Final Wilayah Barat di Paycom Center hari Sabtu malam.
Kemenangan tersebut membuat De'Aaron Fox dan kawan-kawan bakal menantang New York Knicks di partai puncak yang dijadwalkan berlangsung mulai hari Rabu mendatang.
Keberhasilan Spurs ini dipastikan lewat performa kolektif yang solid dengan menempatkan tujuh pemain mereka dalam perolehan angka dua digit sepanjang pertandingan penentu tersebut.
De'Aaron Fox menyumbang 15 poin, lima asis, dan tiga steal untuk memastikan tiket final bagi Spurs, sementara Keldon Johnson tampil gemilang di paruh kedua dengan mencetak sembilan dari total 11 poinnya.
Di kubu Thunder, Cason Wallace kembali masuk ke dalam susunan pemain utama menggantikan Jalen Williams yang mengalami cedera hamstring dan Ajay Mitchell yang dibekap cedera betis.
Wallace tampil luar biasa dengan melesakkan lima tembakan tiga angka serta mengemas 17 poin, tujuh rebound, dan empat asis, namun torehan itu belum mampu menyelamatkan timnya dari kekalahan.
Hasil ini sekaligus menjadi antiklimaks bagi bintang Thunder, Shai Gilgeous-Alexander, yang sebelumnya tampil buruk pada Gim 6 di Frost Bank Center pada Kamis malam.
Pada laga keenam tersebut, Gilgeous-Alexander mencatatkan poin terendahnya musim ini dengan hanya mengoleksi 15 poin dan menorehkan angka plus-minus sebesar minus-28 saat Thunder takluk 91-118.
Pelatih Thunder, Mark Daigneault, sempat memberikan analisis mengenai penurunan performa anak asuhnya setelah kekalahan telak di gim keenam tersebut.
"Saya cukup optimis pada pertandingan terakhir karena celah yang berhasil kami manfaatkan untuk merebut bola darinya," kata Daigneault, Pelatih Thunder.
Daigneault menilai taktik bertahan dari San Antonio Spurs menjadi salah satu faktor utama yang menyulitkan pergerakan sang pengatur serangan utama.
"Dan jelas, saya rasa kami tidak mampu melakukan hal yang sama malam ini. Saya tidak akan pernah meremehkan pertahanan dan lawan. Selalu ada faktor itu. Ada hal-hal yang menurut saya bisa kami lakukan lebih baik." kata Daigneault, Pelatih Thunder.
Meski mendapatkan tekanan fisik yang berat dari barisan pertahanan lawan, Gilgeous-Alexander sempat menegaskan kesiapannya secara fisik sebelum melakoni partai hidup mati di gim ketujuh.
"Saya baik-baik saja. Saya siap bermain. Ini pertandingan terbesar dalam karier saya," kata Shai Gilgeous-Alexander, Pemain Oklahoma City Thunder.
Pemain asal Kanada tersebut menyadari besarnya taruhan yang dihadapi oleh timnya dalam mempertahankan gelar juara NBA.
"Ini pertandingan selanjutnya, dan jika saya kalah, musim saya berakhir." kata Shai Gilgeous-Alexander, Pemain Oklahoma City Thunder.
Gilgeous-Alexander juga menambahkan bahwa seluruh skuad Thunder memiliki motivasi yang tinggi untuk menjawab tantangan fisik dari lawan mereka.
"Kami hanyalah kelompok yang termotivasi dan kami menerima tantangan di depan," kata Shai Gilgeous-Alexander, Pemain Oklahoma City Thunder.
Kekalahan pada laga keenam diakuinya memberikan dorongan psikologis ekstra bagi tim untuk bertarung lebih gigih di lapangan.
"Setiap pertandingan akan menghadirkan tantangan yang berbeda, dan jelas ketika Anda kalah, itu terasa lebih menyakitkan dan ada sedikit motivasi tambahan. Kami cenderung bertarung sedikit lebih keras." kata Shai Gilgeous-Alexander, Pemain Oklahoma City Thunder.
Di sisi lain, gaya bermain Gilgeous-Alexander yang kerap mengandalkan tembakan bebas memicu gelombang kritik dari sejumlah media olahraga sebelum gim ketujuh dimulai.
Situasi tersebut memancing reaksi dari Forward Golden State Warriors, Draymond Green, yang memberikan pembelaan lewat siniar audionya.
"Going into Game 6, Shai had shot five more free throws on the series than Wemby," kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Green menilai tuduhan media bahwa Gilgeous-Alexander sengaja memancing pelanggaran adalah hal yang tidak masuk akal jika merujuk pada statistik.
"The whole complaint is, 'Shai's getting too many foul calls.' I don't understand it. 'Ah, man, he's foul baiting.' Shai, what I will say is: You've reached a new level of greatness, my man. Congratulations. Your hard work has paid off... you have sports media heads coming out and talking about what they don't like about your greatness." kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Dirinya juga merasa heran mengapa pencapaian Gilgeous-Alexander sebagai peraih MVP dua musim beruntun terus didegradasi oleh opini publik.
"I've been baffled watching people talk about Shai Gilgeous-Alexander," kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Pemain veteran Warriors itu menegaskan bahwa penghargaan individu tertinggi di NBA tidak mungkin didapat hanya melalui aksi pura-pura jatuh.
"Like he just didn't win back-to-back MVPs... this guy who's been No. 1, hands down over the last two years, we're really going to try to discredit him and act like it's all because he flopped? It's because he drew some fouls?" kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Green kemudian membandingkan dedikasi Gilgeous-Alexander dengan etos kerja rekan setimnya di Golden State, Stephen Curry.
"I know the work Steph Curry put in. I've seen that for 14 years. And the guy that I've seen do that, win a championship, and then come back, run it back and win MVP, I know the work I saw him put in." kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Berdasarkan pengalamannya melihat Curry, Green meyakini ada proses latihan yang luar biasa berat di balik kesuksesan sang garda Thunder.
"So I've got an idea of the work Shai puts in. And we're just going to dumb that down to a flop and drawing a foul? Man, stop." kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Analis tamu ESPN itu secara blak-blakan melontarkan kekecewaannya terhadap kualitas jurnalisme olahraga modern saat ini.
"We're talking about these things because sports media fcking sucks," kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Ia mengkritik para pengamat yang dinilai kehilangan pemahaman mendalam tentang taktik dan hanya fokus mencari drama lapangan.
"It's awful. No one talks basketball anymore. But no one knows basketball anymore because the sht is just moving too fast, huh? Everything is moving too fast, and so we want to pinpoint the thing that we can slow down. Shai's falling. Shai's at the free-throw line. Everybody's complaining about Shai getting too many foul calls. And going into Game 6, Shai had shot five more free throws on the series than [Victor Wembanyama]. But the whole complaint is Shai's getting too many foul calls. I don't understand it. 'Oh man, he's foul-baiting!'" kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Green bahkan menyindir para pengkritik dengan perumpamaan ekstrem seolah sang pemain mengendalikan peluit wasit sendiri.
"You've reached a new level of greatness because you've got sports media heads coming out and talking about what they don't like about your greatness. Imagine that! You've got people coming out and talking about what they don't like about your greatness! That's incredible. As if Shai-Gilgeous-Alexander is running up and down the court with the whistle in his mouth, calling a foul for himself. That's what we're going to act like. We're going to act like this man has on a zebra shirt, and he's blowing the whistle for himself." kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Ia menegaskan tudingan adanya keberpihakan dari otoritas liga sama sekali tidak berdasar jika melihat angka di lapangan.
"Or we can just act like the complete integrity of the NBA is all off, and they're just calling fouls for Shai Gilgeous-Alexander. The NBA ain't got no integrity. They're just calling fouls for one guy," kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Menurutnya, data tembakan bebas dari kubu lawan menjadi bukti yang valid untuk membantah spekulasi negatif tersebut.
"Fortunately, that theory doesn't work, because the main guy on the other side, going into Game 6, has shot five less free throws. When all the complaining was happening; that's why I'm saying before Game 7. Imagine that. So, that theory don't work. So, maybe we can just appreciate greatness." kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Sebagai penutup argumen, Green menyatakan ketidaknyamanannya terhadap narasi yang meremehkan iklim kompetisi di liga bola basket tertinggi dunia tersebut.
"You all think the NBA is that easy, to where thisguy just flops and goes to the free-throw line, and he becomes the back-to-back MVP? In this league? We're going to really dumb the NBA down to that? That's a shame. It's actually sickening." kata Draymond Green, Forward Golden State Warriors.
Sementara itu, performa dominan Victor Wembanyama di gim keenam menjadi kunci penting bagi kebangkitan Spurs setelah sempat menelan kekalahan di gim kelima.
Pemain asal Prancis itu mengemas 28 poin, sepuluh rebound, dan tiga blok untuk memperpanjang napas San Antonio di babak playoff.
"We haven't finished anything. When your back is against the wall, that's the best time to prove yourself," kata Victor Wembanyama, Center San Antonio Spurs.
Keberhasilan menahan laju serangan Thunder pada laga tersebut tidak lepas dari kontribusi krusial para pemain muda, termasuk performa bertahan dari penyerang pendatang baru Carter Bryant.
Bryant sukses membantu membatasi ruang gerak Gilgeous-Alexander di gim keenam serta mengamankan empat rebound defensif yang sangat krusial bagi tim.
"Baginya, menjadi pemain baru dan masuk serta tidak ada penurunan dalam bertahan, itu saja sudah berarti banyak," kata Stephon Castle, Penjaga Spurs.
Castle mengapresiasi kontribusi maksimal dari rekan barunya tersebut dalam meminimalkan kesalahan di fase krusial postseason.
"Bagi dia untuk datang dan memberi kami istirahat dan rebound defensif untuk kami dan mencoba membuat kesalahan minimal, itu besar karena kami necesitamos menit-menit itu, dan di babak playoff, setiap penguasaan bola penting." kata Stephon Castle, Penjaga Spurs.
Keberanian menurunkan Bryant di fase penting ini menjadi respons positif setelah sang pemain sempat mendapatkan teguran keras dari pelatih Mitch Johnson pada gim keempat.
"Baginya untuk datang dan memberi kami istirahat dan rebound defensif untuk kami dan mencoba membuat kesalahan minimal, itu besar karena kami membutuhkan menit-menit itu, dan di babak playoff, setiap penguasaan bola penting. Jadi ketika dia melakukan itu dan mempersulit (Gilgeous-Alexander), dalam jangka panjang, itu pasti membantu." kata Stephon Castle, Penjaga Spurs.
Pelatih Mitch Johnson mengungkapkan bahwa evaluasi tajam beberapa pertandingan sebelumnya berdampak positif pada perkembangan mental bertanding anak asuhnya.
"Saya tahu, ada banyak kaitannya dengan apa yang terjadi beberapa pertandingan lalu, secara visual," kata Mitch Johnson, Pelatih Spurs.
Johnson memuji kedisplinan Bryant yang dinilai mampu mengombinasikan naluri alami bertandingnya dengan agresivitas yang terkendali.
"Carter bisa dilatih seperti orang lain. Terkadang dia mungkin mencoba melakukan hal yang benar terlalu banyak dan di situlah urgensi dan daya saing dari diri saya muncul karena saya hanya ingin anak itu bermain cepat dan agresif. Dia memiliki naluri mentah yang sama baiknya (seperti siapa pun) dan ketika dia bermain bebas dan membiarkan nalurinya mengikuti sifat atletis dan agresivitasnya, hal-hal baik terjadi. Dan ketika dia bisa sedikit disiplin, itu menyenangkan untuk ditonton." kata Mitch Johnson, Pelatih Spurs.
Di sisi lain, pemain veteran Harrison Barnes yang merayakan ulang tahun ke-34 tepat pada hari Sabtu turut memberikan dampak kepemimpinan yang besar bagi skuad muda Spurs.
Bagi Barnes, situasi ini mengulang memori sepuluh tahun lalu ketika dirinya bersama Golden State Warriors memenangi Gim 7 melawan Thunder pada tanggal yang sama untuk melaju ke Final NBA 2016.
"Everybody's got to be ready, everybody's got to step up and do what is asked of them," kata Harrison Barnes, Pemain San Antonio Spurs.
Rangkaian Final NBA 2026 antara San Antonio Spurs melawan New York Knicks akan segera dimulai dengan Gim 1 yang dijadwalkan berlangsung di markas Knicks pada hari Rabu malam waktu setempat.