Manajemen Real Madrid berpeluang menjatuhkan sanksi administratif berupa penangguhan kerja dan pemotongan gaji selama satu bulan kepada Aurélien Tchouaméni dan Fede Valverde. Langkah tegas ini dipertimbangkan setelah kedua pemain terlibat perkelahian fisik dalam sesi latihan tim pada Rabu dan Kamis, 7 Mei 2026.
Insiden tersebut mengakibatkan Valverde harus dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan jahitan akibat luka robek di wajahnya. Selain berdampak pada citra klub, tindakan kedua pemain ini dikategorikan sebagai pelanggaran peraturan internal yang dapat dijatuhi hukuman berdasarkan hukum ketenagakerjaan dan perjanjian kolektif sepak bola profesional di Spanyol.
Klub memiliki kewenangan penuh untuk memproses kasus ini secara hukum ketenagakerjaan melalui pembukaan berkas sanksi. Proses tersebut mencakup pemberian kesempatan bagi kedua pemain untuk memberikan pembelaan sebelum denda akhir ditetapkan oleh manajemen Los Blancos.
"abrir un expediente sancionador a ambos jugadores, darles turno para que expongan sus alegaciones y proceder a las multas correspondientes" kata sumber hukum kepada media sport.es.
Perjanjian kolektif yang berlaku saat ini mengelompokkan agresi fisik dalam dua kategori yaitu pelanggaran berat atau sangat berat. Jika dianggap melanggar Pasal 6.4, tindakan tersebut diklasifikasikan sebagai agresi serius yang dilakukan selama menjalankan aktivitas profesional, kecuali jika terjadi dalam situasi permainan normal.
"La agresión grave a cualesquiera personas, siempre que se trate de actos cometidos con ocasión del desempeño de la actividad profesional, salvo que los mismos se produzcan con ocasión de lances de juego, tanto en entrenamientos como en partidos" bunyi Pasal 6.4 dalam dokumen perjanjian tersebut.
Namun, jika intensitas perkelahian dinilai lebih ringan, insiden ini akan masuk ke dalam Pasal 5.12 sebagai pelanggaran berat. Aturan ini mencakup penganiayaan fisik atau verbal yang terjadi di lingkungan kerja atau saat latihan.
"Malos tratos físicos, verbales o la agresión de carácter leve a cualesquiera personas, cometidas con ocasión del desempeño de la actividad profesional, salvo que los mismos se produzcan con ocasión de lances de juego, tanto en entrenamientos como en partidos" tertulis dalam Pasal 5.12.
Meskipun regulasi memungkinkan adanya pemutusan hubungan kerja atau pemecatan untuk pelanggaran sangat berat, para ahli hukum menilai opsi tersebut sangat mustahil diambil oleh Real Madrid. Pemecatan hanya dianggap sah secara hukum jika pemain yang menjadi korban harus absen dalam waktu yang sangat lama akibat agresi tersebut.
"Un despido por este hecho no tendría cabida, porque difícilmente se podría demostrar la causa justa, salvo que habláramos de que el futbolista agredido va a estar de baja por un tiempo prolongado" tegas sumber hukum tersebut.
Sanksi yang lebih realistis bagi pelanggaran sangat berat adalah suspensi gaji dan kerja selama 11 hingga 30 hari serta denda 25 persen dari gaji bulanan. Sementara untuk pelanggaran berat, suspensi berkisar antara dua hingga sepuluh hari dengan pemotongan gaji maksimal sebesar 7 persen.
Kasus serupa pernah terjadi di Liga Spanyol 20 tahun lalu saat kiper Deportivo La Coruna, Gustavo Munúa dan Dudu Aouate, berkelahi hingga melibatkan jalur hukum pidana. Saat itu, jaksa penuntut bertindak secara otomatis setelah melihat luka jahitan pada wajah Aouate, yang berujung pada hukuman penjara enam bulan bagi Munúa yang kemudian diganti dengan denda finansial.