Stasiun televisi ANTV menjadwalkan penayangan film horor bertajuk Iblis dalam Darah pada Selasa, 12 Mei 2026 pukul 21.30 WIB. Karya ini menandai debut penyutradaraan Yannie Sukarya yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung sebagai produser di industri layar lebar.
Dilansir dari Suara, film yang pertama kali dirilis pada 2023 tersebut mengeksplorasi ancaman entitas jahat yang bersarang di sistem vital manusia. Premis unik ini dikembangkan dari keyakinan mengenai mahluk halus yang mampu merasuki tubuh melalui aliran darah.
Cerita berfokus pada sosok Nayla, diperankan oleh Michelle Joan, seorang gadis muda yang menunjukkan gelagat mengerikan di luar nalar manusia. Nayla kerap melakukan aksi menyakiti diri sendiri secara ekstrem yang memicu kekhawatiran mendalam bagi adiknya, Hanum (Livi Ciananta).
Pihak keluarga awalnya menduga kondisi Nayla merupakan dampak dari gangguan jiwa atau penyakit medis yang kronis. Namun, serangkaian pemeriksaan medis yang dilakukan tidak memberikan jawaban pasti terkait perubahan perilaku Nayla yang semakin brutal.
Titik terang mulai muncul saat seorang dokter muda bernama dr Ahmad (Ryaas Randa) terlibat dalam penanganan kasus tersebut. Ahmad, yang memiliki latar belakang pemahaman religius kuat, mencurigai adanya kekuatan gelap yang mengendalikan raga pasiennya dari dalam pembuluh darah.
Perjuangan Ahmad dalam menyelamatkan nyawa Nayla turut dibantu oleh Sukma (Soraya Rasyid), sosok misterius, serta bimbingan dari seorang dukun senior yang diperankan oleh aktor kawakan Egi Fedly. Mereka berpacu dengan waktu sebelum iblis tersebut merenggut nyawa Nayla sepenuhnya.
Inspirasi Hadis dan Visual Berani
Film Iblis dalam Darah mengambil landasan cerita dari sebuah hadis yang menyebutkan bahwa setan dapat masuk ke dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah. Pendekatan ini memberikan nuansa horor yang terasa lebih dekat dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat lokal.
Dari sisi teknis, Yannie Sukarya menyuguhkan visualisasi yang dinilai berani dengan menampilkan adegan-adegan gore yang mendukung atmosfer mencekam. Penggunaan teknik ruqyah dengan tensi tinggi menjadi salah satu elemen kunci yang membangun suasana sesak bagi penonton.
Meski menggunakan beberapa pola horor klasik, film ini berupaya tampil beda melalui fokus pada elemen darah sebagai media utama teror. Sinematografi yang dominan gelap serta iringan skoring musik yang tegang memperkuat kesan horor konsisten sejak awal hingga film berakhir.