Grup band veteran Slank membantah tudingan bahwa mereka tidak lagi bersikap kritis terhadap pemerintah. Band yang bermarkas di Potlot ini membuktikannya lewat peluncuran album ke-26 mereka.
Seperti dikutip dari Suara, album terbaru Slank tersebut diberi judul Republik Fufufafa. Dari total 10 lagu yang terangkum, empat di antaranya memuat kritik sosial yang tajam.
Pentolan Slank, Bimbim, memastikan bahwa konsistensi grupnya sejak dulu tidak pernah berubah. Ridho selaku gitaris juga menegaskan bukti lagu-lagu kritik yang tetap mereka rilis.
Empat lagu bernada kritik dalam album baru ini meliputi Republik Fufufafa, PPN 12%, Rusak Ancur, dan Jangan Rakus. Lagu Republik Fufufafa sendiri telah diperkenalkan sejak November 2025.
Karya tersebut menyoroti masalah moral, perjudian, narkoba, pendidikan, hingga gizi. Bimbim memilih diksi tersebut karena menganggap nama akun misterius itu seksi dan mewakili kekhawatiran publik, meski masyarakat luas mengaitkannya dengan Gibran Rakabuming Raka.
"Di tahun berapa, gitu, ada akun Fufufafa yang kita anggap mewakili kekhawatiran terhadap Indonesia," kata Bimbim.
"Entah siapa dia ya, kita pun nggak ada yang tahu nggak ada yang ngaku. Jadi itulah mengapa kita anggap Fufufafa itu seksi (dijadikan judul)," ujarnya lagi.
Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Buatan
Selain isu sosial, Slank juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan video klip lagu PPN 12%. Visual video tersebut menggambarkan para personel sebagai Robin Hood yang mengambil uang koruptor untuk dibagikan kepada rakyat.
Bimbim berpesan agar para seniman tidak memusuhi perkembangan teknologi. Menurutnya, manusia harus bisa mengendalikan AI dengan cerdas sebagai alat bantu kreativitas.
"Ini adalah budak-budak teknologi yang harusnya jangan dimusuhin, tapi kita pergunakan dengan ya sebaik-baiknya lah," ujar Bimbim.
Ia menambahkan, "Ai itu kan kalau kita pintar, dia juga jadi lebih bagus. Tapi kalau kita nyuruhnya goblok, dia goblok juga."
Kritik Lingkungan Hidup dan Korupsi
Lagu ketiga berjudul Rusak Ancur resmi diperkenalkan pada Sabtu, 5 Juni 2026. Peluncuran ini bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk menyuarakan kerusakan hutan di Indonesia.
Slank menyoroti dampak lingkungan yang terjadi di daerah akibat pembangunan infrastruktur besar. Salah satu titik yang menjadi perhatian mereka adalah wilayah Donggala.
"Ini kita tidak mengada-ada, bahwa ada daerah namanya Donggala, alamnya rusak batu-batu itu dibawa buat bangun IKN. Setelah bukitnya rusak, banjir bandang," kata Bimbim.
Sementara itu, lagu Jangan Rakus diciptakan oleh sang vokalis, Kaka. Lagu ini menjadi pengingat sekaligus sindiran langsung bagi para pelaku korupsi di Indonesia.
"Akhir-akhir ini kan kita dikasih tontonan tentang korupsi. Korupsi kan basisnya karena lu merasa kurang terus, sampai akhirnya lu butuh untuk korupsi," ujar Kaka Slank.