Sutiono Lamso Kenang Sejarah Juara Persib Menjelang Laga Kontra Persijap

Sutiono Lamso Kenang Sejarah Juara Persib Menjelang Laga Kontra Persijap

Legenda Persib Bandung Sutiono Lamso membagikan kisah keberhasilan masa lalu saat skuad Maung Bandung bersiap mencetak sejarah tiga kali juara berturut-turut pada laga pamungkas BRI Super League melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (23/5/2026).

Pertandingan krusial ini menjadi momentum penting bagi pasukan Bojan Hodak untuk mengunci gelar hattrick juara di hadapan ribuan pendukung setia mereka, Bobotoh. Sejarah mencatat bahwa fondasi kejayaan klub tidak lepas dari generasi emas era 1990-an yang dipimpin oleh pemain depan tangguh seperti Sutiono Lamso.

Sutiono Lamso menceritakan kembali kenangan manis saat mencetak gol tunggal kemenangan ke gawang Petrokimia Putra pada laga final Liga Indonesia edisi pertama di Stadion Utama Senayan Jakarta, Minggu 30 Juli 1995.

"Sangat spesial sekali. Karena Perserikatan dan Galatama disatukan jadinya Liga Indonesia. Yang pertama itu, ya tahun 1994/1995. Saat kita bikin gol dan kita juara, ya saya sangat antusias sekali ya waktu itu," kata Sutiono Lamso melalui kanal YouTube Bicara Bola yang dilansir Bola.com.

Mantan penyerang yang membela Pangeran Biru dari tahun 1988 hingga 2000 ini menambahkan bahwa antusiasme Bobotoh sangat luar biasa bahkan sebelum tim tiba di stadion.

"Begitu pulang, saya juga diarak. Sebelum datang ke stadion juga saya sudah dicari-cari sama penonton. Mereka bilang,'Mana Sutiono, mana Sutiono'. Alhamdulillah, saya bisa bikin gol ya," imbuh Sutiono Lamso.

Keberhasilan merengkuh trofi tersebut dirasa sangat istimewa lantaran Persib murni mengandalkan pemain lokal di bawah asuhan pelatih legendaris Indra Thohir, berbeda dengan tim lawan yang bertabur legiun asing.

"Ya, sangat meriah sekali waktu itu. Jadi tonggak sejarah Persib, kita jadi bintang satu. Itu awalnya bintang satu di jersey Persib. Tanpa pemain asing. Pemain lokal semua. Tapi musuhnya pemain asing," ujar Sutiono Lamso.

Atmosfer luar biasa di dalam stadion yang didominasi oleh warna biru membuat motivasi bertanding Sutiono Lamso berlipat ganda untuk membongkar pertahanan lawan.

"Banyaklah ya, momen-momen waktu itu. Pokoknya saya sebagai pemain depan, apalagi karena Bobotoh yang sangat besar sekali ya. Mayoritas 90 persen itu, Stadion Gelora Bung Karno sudah dikuasai oleh Persib," tukas Sutiono Lamso.

Strategi matang diterapkan oleh Sutiono Lamso yang terus bergerak mencari kelemahan barisan belakang musuh demi menciptakan peluang emas sepanjang jalannya laga final yang sengit.

"Jadi gimana caranya nih saya bisa bikin gol lawan Petrokimia Putra di final. Saya berusaha terus pokoknya mencari kelemahan-kelemahan pemain belakang lawan. Saya berusaha untuk bikin peluang dari awal pertandingan. Bila atas kena, bola bawah masih kena juga. Harus gimana caranya?" tutur Sutiono Lamso.

Gol penentu kemenangan akhirnya tercipta pada menit ke-79 memanfaatkan umpan matang dari gelandang lincah Yusuf Bachtiar yang mengecoh antisipasi penjaga gawang asing lawan.

"Akhirnya ada momen. Waktu itu ada umpan dari Kang Yusuf di depan gawang, enggak saya shooting. Kalau saya tembak, reflek kipernya bagus. Itu kipernya pemain asing. Kalau saya shooting, pasti kena blok," kata Sutiono Lamso.

Taktik pura-pura menendang yang dilakukannya terbukti ampuh membuat pergerakan kiper mati langkah sebelum bola diceploskan perlahan ke dalam gawang.

"Makanya, begitu saya pura-pura nembak, saat kipernya mulai gerak, baru saya shooting. Bolanya masuk gawang sangat lambat. Karena kalau langsung saya shooting pasti kena blok karena refleksnya bagus," jelas Sutiono Lamso.

Pengalaman bertanding pada babak penyisihan grup melawan tim yang sama memberikan keuntungan bagi skuad Persib untuk membaca peta kekuatan lawan.

"Itu dari apa? Dari pengalaman main pertama kan kita sebetulnya pas penyisihan ketemu Petrokimia Putra juga. Soalnya kita satu grup. Kan jadi lebih mengenal. Pas main pertama itu di penyisihan, hasilnya kosong-kosong kalau enggak salah," ucap Sutiono Lamso.

Evaluasi dari pertandingan pertama membuat tim pelatih dan para pemain memahami formula tepat untuk menembus pertahanan tim asal Gresik tersebut pada pertemuan kedua.

"Makanya, pas main keduanya baru kita tahu. Oh ini, caranya seperti ini. Kelemahannya mungkin di sini. Kita coba terus pokoknya," tutur Sutiono Lamso.

Sesaat setelah gol tercipta, situasi stadion menjadi emosional lantaran ribuan suporter mulai merangsek turun ke pinggir lapangan sebelum peluit panjang dibunyikan.

"Waktu saya bikin gol, penonton kayaknya sudah masuk ke dalam lapangan. Saking apa ya, senangnya. Bobotoh itu, sampai wah, saya juga, sudah itu kan diamankan juga karena pertandingan belum selesai. Banyak kuda-kuda kalau enggak salah waktu itu, yang di pinggir lapangan untuk mengamankan penonton. Karena di sentel ban pononton sudah banyak waktu itu," ujar Sutiono Lamso.

Pesta kemenangan berlanjut setelah laga usai hingga para penonton menggendong sang pahlawan dan mengamankan baju seragamnya sebagai kenang-kenangan sejarah.

"Begitu pertandingan selesai, saya sudah enggak biasa apa-apa. Semua masuk ke lapangan. Saya diangkat. Kaus saya dibuka, diambil. Celana juga sudah mau diambil. Bahaya kalau celana sampai diambil. Ya sudah, kaus saja enggak apa-apa," pungkas Sutiono Lamso.

Karier awal Sutiono Lamso di Bandung dimulai saat merantau dari Purwokerto pada akhir 1988 dan bergabung ke klub internal Produta.

"Saya pertama kali datang ke Bandung itu pada 1988 akhir. Kami datang dari Purwekerto. Terus masu klub Produta. Dulu kan anggota Persib tuh. Ada kompetisi internal Persib," kata Sutiono Lamso.

Performa impresif dengan mencetak banyak gol dalam liga internal membuat namanya langsung dilirik untuk dipromosikan ke tim utama.

"Karena waktu itu, Persib mengambil pemain dari anggotanya. Makanya saya masuk ke Produta. Begitu saya main, sekali main sudah bikin dua gol. Main keduanya bikin gol lagi," imbuhnya.

Bakat alaminya memikat pelatih Nandar Iskandar yang tanpa ragu langsung memanggil pemuda berusia 22 tahun tersebut masuk ke dalam jajaran skuad senior.

"Nah, di situ kita langsung dipanggil pelatih, waktu itu Pak Nandar Iskandar. Dia minta saya untuk bergabung ke tim senior Persib. Saya juga kaget. Dua kali main langsung dipanggil ke Persib. Antwara percaya enggak percaya," kenang Sutiono Lamso.

Kesempatan emas membela tim impian masa kecil dibayar tuntas dengan sumbangan delapan gol pada musim perdana kompetisi Perserikatan.

"Persib itu tim idola saya waktu kecil. Saya sempat berpikir,'Benar nih'. Kayak mimpi gitu, kita bisa gabung dengan tim senior. Saya berumur 22 tahun ketika itu," paparnya.

Ketajamannya berlanjut pada turnamen pramusim Piala Utama 1992 yang mempertemukan empat tim terbaik Perserikatan dan Galatama hingga meraih gelar pencetak gol terbanyak.

"Dulu itu, pertama main di Perserikatan. Saya sudah bisa bikin gol banyak, ada delapan. Tapi karena banyak pemain yang golnya sama, jadi akhirnya enggak diadakan," ujar Sutiono Lamso.

Keberhasilan menembus partai final melawan Pelita Jaya pada tahun 1992 sekaligus menobatkan dirinya sebagai top skor kompetisi tersebut.

"Nah, baru waktu Perserikatan 1994, eh Piala Utama dulu. Kita dulu, sebelum ada liga, ada Piala Utama. Empat besar Galatama, empat besar Perserikatan. Kita waktu itu masuk final sama Pelita Jaya, tahun 1992," kenang Sutiono Lamso.

Prestasi individu sebagai penyerang tersubur mengantarkannya mendapatkan bonus uang tunai dalam jumlah besar yang kemudian dibagi bersama rekan setim.

"Dari 1992 ke 1993, saya top skornya. Saingan saya waktu kalau enggak salah Alexander Saununu. Dapat hadiah uang Rp15 juta. Buat saya sebagian, sebagian lagi saya bagi-bagi sama teman-teman," paparnya.

Setelah purna tugas sebagai Pegawai Negeri Sipil, sang legenda kini memilih kembali ke lapangan hijau untuk menyalurkan ilmunya sebagai pelatih sepak bola.

"Saya sekarang sudah pensiun nih. Dulu PNS. Begitu pensiun main bola, kita terus kerja jadi PNS. Nah, sekarang sudah pensiun. Saya kembali lagi ke lapangan, jadi pelatih. Jiwa saya memang di bola," tutup Sutiono Lamso.

Kekuatan utama armada lokal Persib kala itu bertumpu pada aspek kebugaran fisik yang prima serta kekompakan tim yang solid hasil tempaan pelatih Indra Thohir.

"Yang jelas, kita kan tanpa pemain asing. Mungkin kalau saya, ada pemain lokal ada pemain asing, masih bisa ngandalkan nih. 'Ini saya punya pemain asing mungkin bisa ngebantu saya'. Nah, terus, sementara kita kan enggak ada pemain asing. Apa yang harus kita lakukan?" urai Sutiono Lamso.

Faktor ketahanan fisik yang tinggi membuat tim asal Jawa Barat ini mampu meladeni permainan deretan bintang dunia yang merumput di kompetisi tanah air.

"Otomatis, kita jelas, kebugaran itu harus kita jaga. Terus, yang kedua, kekompakan. Jadi dengan kekompakan dan kebugaran yang bagus, kita bisa mengatasi tim-tim lawan. Misalnya, ada pemain asing nih. Kita misalnya ketemu sama Pelita Jaya, waktu itu ada Maboang Kessack, Roger Milla. Pemain dunia itu kan," kata Sutiono Lamso.

Rasa percaya diri yang tinggi menjadi kunci utama para pemain lokal Persib saat berhadapan dengan tim-tim besar yang diperkuat legiun asing tangguh.

"Di Bandung Raya ada Olinga Atangana, ada Dejan Gluscevic. Itu di kandang kita main lawan Dejan. Tapi, kita ya enggak kalah walaupun Persib pemain lokal semua. Ya itu tadi, karena kita punya daya tahannya kuat ditambah kekompakan," tandas Sutiono Lamso.

Kebersamaan skuad yang terjalin sejak era amatir Perserikatan menciptakan kesepahaman taktik yang matang antar-pemain di dalam lapangan.

"Karena tim ini kan dari era Perserikatan, terus bertahan sampai ke Liga. Jadi kita sudah lama bergabungnya. Satu sama lainnya sudah saling tahu," pungkas Sutiono Lamso.

Selain memori final 1995, catatan sejarah koran-gala.id mengisahkan ketajaman Sutiono Lamso saat mencetak gol dramatis pada menit ke-89 untuk membungkam Persija Jakarta dengan skor 2-1 di Stadion Siliwangi pada 21 Mei 1995.

Keberhasilan karier Sutiono Lamso tercermin dalam beberapa pencapaian prestisius berikut:
Kategori PrestasiMusim / TahunKeterangan Tambahan
Juara Perserikatan1989/1990, 1993/1994Gelar ganda di era amatir menuju profesional.
Juara Liga Indonesia1994/1995Edisi pertama penggabungan Perserikatan & Galatama.
Pemain Terbaik1993/1994Penghargaan individu tertinggi di liga nasional.
Top Skor Piala Utama1992Mencetak gol terbanyak mengalahkan pemain top lain.
Pahlawan Final1995Pencetak gol tunggal kemenangan di laga final.

Kini perhatian publik tertuju pada laga kontra Persijap Jepara di Stadion GBLA untuk melihat apakah generasi Marc Klok mampu menyamai kedigdayaan sejarah masa lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi