Upaya pelestarian kebudayaan Palestina terus bergulir di tengah berbagai ancaman yang berusaha melenyapkan identitas bangsa tersebut. Kelompok seniman El-Funoun menjadi salah satu pihak yang gencar menyebarkan warisan leluhur mereka melalui seni Tari Tradisional Dabke.
Seperti diberitakan oleh Medcom, kelompok seni ini hadir di Indonesia untuk menggelar rangkaian kegiatan lokakarya serta diskusi yang berlangsung selama empat hari. Kegiatan tersebut rupanya menarik perhatian seorang praktisi bela diri capoeira angola asal Yunani, Dafne Louzioti.
Dafne Louzioti membagikan kisah awal mulanya mengenal Tari Dabke saat berada di Palestina. Momen tersebut terjadi ketika dirinya tengah berada di titik jenuh terhadap aliran kesenian kontemporer yang sedang ia tekuni.
"Bertahun-tahun yang lalu, saya mengunjungi Ramallah dan berkesempatan bekerja sama dengan beberapa di antara mereka serta mengikuti kelas (Tari Dabke) sebentar; saat itu saya sedang sangat bingung dalam perjalanan kesenian saya. Sebenarnya, saya terlalu terpaku pada gaya kontemporer," kata Dafne Louzioti.
Dabke dan Pencarian Identitas Diri
Seni tradisional ini memberikan pengaruh yang besar bagi Dafne Louzioti, meskipun dirinya bukan merupakan bagian dari masyarakat berbudaya Arab. Kehadiran tarian tersebut diakuinya mampu menghidupkan kembali sesuatu yang sempat mati dalam dirinya.
"El-Funoun mengingatkan saya mengapa kita menari. Titik… Itu seperti melihat kehadiran mutlak dan perwujudan cara mereka menari, tarian mereka. Hal itu mencerminkan atau mengingatkan saya pada sesuatu yang juga tertanam sangat dalam di dalam diri saya," ujar Dafne Louzioti.
Sebelum mendalami bela diri capoeira angola dari Brasil, Dafne Louzioti tumbuh dengan mempelajari tarian rakyat Yunani serta balet. Ia mengekspresikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang memperkenalkannya pada seni Dabke karena telah menghubungkannya kembali dengan akar budayanya sendiri.
"Jadi, mereka menghidupkan kembali sesuatu yang telah saya lupakan dan untuk itu saya sangat berterima kasih seumur hidup saya," tutur Dafne Louzioti.
"Dan saya mengatakannya dengan sukacita karena apa yang mereka ingatkan kepada saya telah memberi saya semangat sejak saat itu. Itulah alasannya," kata Dafne Louzioti.
Dabke Sebagai Bentuk Resistensi
Eksistensi Tari Tradisional Dabke dinilai memiliki esensi perjuangan yang kuat. Dafne Louzioti berpendapat bahwa kehadiran seni ini sebagai identitas budaya sudah cukup menjadi bukti nyata dari sebuah perlawanan.
Langkah kelompok El-Funoun yang memperkenalkan tarian ini ke berbagai belahan dunia dianggap sangat membantu dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya Palestina dari upaya penghapusan.
"Hanya dengan keberadaannya saja. Itu adalah perlawanan. Fakta bahwa ada orang-orang yang menjalaninya dan memahami asal-usulnya, baik mereka orang Palestina maupun bukan, hal itu merupakan perlawanan karena tetap ada meskipun ada kekuatan yang berusaha menghapusnya. Jadi, seberapa politis lagi hal itu bisa?" kata Dafne Louzioti.