Menghentak Tanah Menjaga Identitas: Misi Tari Dabke di Jakarta

Menghentak Tanah Menjaga Identitas: Misi Tari Dabke di Jakarta

Di tengah upaya Israel menghapus identitas Palestina dari panggung dunia, sebuah organisasi terus berupaya untuk menyebarkan budaya mereka agar tidak lenyap, salah satunya lewat kesenian.

Kelompok seniman asal Palestina, El-Funoun, membawa dan mengajarkan Tarian Tradisional Dabke ke Indonesia lewat rangkaian kegiatan lokakarya dan diskusi selama empat hari. Pertemuan mendalam terjalin dalam acara Dabke Dialogue bersama Sacred Bridge Foundation di kawasan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan akhir pekan kemarin.

Penari sekaligus Koreografer El-Funoun, Sharaf Darzaid, mengungkap berbagai tantangan dalam upaya menyebarkan budaya Palestina ke berbagai belahan dunia selama 27 tahun terakhir. Tantangan terbesar muncul karena mereka harus terus berkarya di tengah belenggu pendudukan fisik dan ruang.

"Yah, kamu tahu, bekerja di bawah okupasi itu nggak gampang. Dan kami bukan sekadar grup (tari), tapi juga sebuah organisasi, dan tantangan terpenting yang harus kami hadapi adalah penindasan itu sendiri," ungkap Sharaf Darzaid, Koreografer El-Funoun.

Pembatasan ketat yang diberlakukan oleh otoritas Israel membuat kelompok seniman Palestina ini menghadapi tembok tebal untuk membawa kebudayaan mereka ke ranah internasional. Jangankan melintasi batas negara, mobilisasi di dalam kota mereka sendiri pun sudah dijegal oleh pos-pos pemeriksaan.

Padahal, El-Funoun memikul misi besar untuk merawat ingatan kolektif agar identitas Palestina tidak terhapus dari sejarah. Langkah nyata tersebut diwujudkan dengan bergerak menemui masyarakat dunia dan menularkan denyut Tarian Dabke secara langsung.

"Dan kamu tahu, sebagai penari, kami ingin tampil. Kami ingin mengadakan lokakarya, mengikuti lokakarya, bepergian, dan menjalin kerja sama. Dan tentu saja, di bawah pendudukan, hal ini menjadi sangat sulit. Jadi, inilah tantangan utamanya," jelas Sharaf Darzaid, Koreografer El-Funoun.

Prinsip di Tengah Krisis Finansial

Selain jerat politik okupasi, gerak kreatif El-Funoun juga kerap terbentur masalah finansial yang pelik. Walau ruang gerak mereka terbatas akibat cekakan dana operasional, kelompok ini memiliki posisi prinsipil yang kokoh terkait sumber pendanaan kesenian mereka.

"Yang kedua adalah masalah keuangan, karena kau tahu kami tidak memiliki cukup dana untuk bidang kebudayaan, dan kami menolak menerima dana apa pun yang disertai syarat-syarat politik," tambah Sharaf Darzaid, Koreografer El-Funoun.

Sikap tegas ini diwujudkan dengan memboikot donor dari negara-negara yang dinilai terafiliasi atau mendukung kebijakan Israel, termasuk sokongan finansial dari Uni Eropa maupun Amerika Serikat. Konsekuensinya, mereka harus memutar otak demi bertahan hidup dengan mengandalkan swadaya murni dari sesama warga Palestina yang juga sedang dihantam krisis.

"Dan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, serta semua penyandang dana semacam itu, kami menolak menerimanya. Jadi, kami mengandalkan masyarakat Palestina sendiri, dan tentu saja, kami menghadapi situasi ekonomi yang sangat rumit," tegas Sharaf Darzaid, Koreografer El-Funoun.

Kombinasi antara tekanan politik penjajahan dan himpitan ekonomi kedalam negeri memosisikan perjuangan kebudayaan ini berada di jalur yang teramat terjal.

"Jadi, ya, ini bisa dibilang dua tantangan utama yang kami hadapi. Ada tantangan lain, tetapi ini adalah dua tantangan utama," kata Sharaf Darzaid, Koreografer El-Funoun.

Dabke Sebagai Simbol dan Ruang Ekspresi

Secara harfiah, "Dabke" memiliki arti menghentakkan kaki ke tanah. Jauh sebelum garis batas modern memisahkan Timur Tengah lewat Perjanjian Sykes-Picot pada tahun 1916, tarian rakyat ini merupakan warisan bersama yang ditarikan di Palestina, Lebanon, Yordania, Suriah, sebagian Arab Saudi, hingga Iran.

Namun kini, bagi masyarakat Palestina, setiap entakan kaki dalam Dabke telah bermutasi menjadi simbol perlawanan budaya yang hidup. Seni ini menjadi benteng pertahanan terakhir untuk menyuarakan eksistensi mereka di tengah gempuran konflik yang tak kunjung usai.

"Bagi kami, hal itu menjadi bentuk ungkapan perasaan sekaligus terkait erat dengan identitas kami. Kami mengalami krisis identitas, di mana pihak Israel juga berusaha memisahkan kami dari sejarah kami, serta memisahkan kami dari dunia, dan menduduki tanah kami," ungkap Sharaf Darzaid, Koreografer El-Funoun.

Meniti Harapan Melalui Entakan Kaki

Dabke sejatinya menyimpan lapisan makna tersembunyi yang melampaui estetika gerak tubuh. Gerakan komunal ini bertransformasi menjadi ruang dialog interkultural untuk merajut koneksi emosional dengan masyarakat dunia, sekaligus sarana penyembuh trauma di internal mereka sendiri.

Melalui gerak ritmis ini, El-Funoun masuk ke kamp-kamp pengungsian dan wilayah-wilayah marginal demi memberikan wadah bagi anak-anak serta masyarakat tertindas untuk menyuarakan narasi kehidupan mereka yang kerap dibungkam.

"(Tarian Dabke) untuk mengekspresikan perasaan mereka dan berbagi cerita. Bagi kami, Dabke dan menari bukan sekadar teknik, melainkan juga cara hidup dan sumber harapan," pungkas Sharaf Darzaid, Koreografer El-Funoun.

Artikel terkait

Rekomendasi