Klub divisi dua SCU Torreense secara mengejutkan berhasil merengkuh trofi Piala Portugal untuk pertama kali dalam sejarah klub setelah menumbangkan juara bertahan Sporting CP dengan skor 2-1 melalui babak perpanjangan waktu pada pertandingan final di Stadion Nasional Jamor, Oeiras, Minggu, 24 Mei 2026.
Kemenangan bersejarah tim peringkat ketiga Liga Segunda ini dipastikan lewat eksekusi penalti pada babak tambahan, sekaligus menggagalkan ambisi Sporting CP untuk meraih gelar piala domestik ke-19 mereka musim ini.
Pertandingan baru berjalan empat menit ketika Torreense langsung mengejutkan lini pertahanan lawan melalui gol sundulan Kevin Lucien Zohi yang memanfaatkan umpan tendangan sudut dari Javi Vázquez setelah sebelumnya Léo Azevedo menyentuh bola di tiang dekat.
Sporting CP baru mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-54 babak kedua lewat aksi penyerang asal Kolombia, Luis Javier Suárez, yang memanfaatkan bola liar hasil halangan kurang sempurna dari Diadié di dalam kotak penalti.
Memasuki babak perpanjangan waktu, petaka menimpa Sporting CP pada menit ke-109 setelah Maxi Araújo menerima kartu merah langsung akibat melanggar pemain pengganti Seydi yang berhasil meloloskan diri di area terlarang.
Kesempatan penalti tersebut berhasil dikonversi menjadi gol kemenangan oleh bek sekaligus kapten Torreense, Stopira, yang menaklukkan penjaga gawang Rui Silva pada menit ke-111.
Hasil ini sekaligus menjadi perpisahan yang kurang menyenangkan bagi beberapa pilar Sporting CP, termasuk Hidemasa Morita yang keluar lebih awal pada menit ke-69 serta rumor kepindahan Morten Hjulmand dan Pedro Gonçalves.
Bagi Luis Suárez, kegagalan ini memupus harapannya meraih gelar profesional pertama bersama Sporting CP musim ini meski ia tampil impresif dengan mengemas 38 gol di semua kompetisi sebelum bersiap bergabung dengan tim nasional Kolombia untuk Piala Dunia 2026.
Seusai pertandingan, kapten Torreense menyatakan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam kepada seluruh elemen tim serta masyarakat Torres Vedras atas pencapaian luar biasa ini.
"Quero agradecer a todos, à equipa pela dedicação. Chegou a nossa hora e desde o início disse que tínhamos de acreditar. Lutámos sempre, nunca desistimos.Tivemos o penálti e o título merecido, por tudo, pela população de Torres Vedras, pelo clube, pela época que fizemos. Merecemos este título", ujar Stopira, pemain belakang Torreense kepada stasiun televisi RTP.
Pemain yang juga sukses membawa Tanjung Verde lolos ke Piala Dunia 2026 tersebut menegaskan bahwa keberhasilan ini diraih berkat kerja keras dan kekompakan tim yang terus terjaga, bahkan saat menghadapi tim besar seperti Sporting CP.
"Isto é trabalho, esta equipa fez muito por merecer isto. Desde o início lutámos unidos como equipa e mostrámos isso perante uma grande equipa como é o Sporting. Não baixámos os braços, acreditámos e fomos abençoados", kata Stopira.
Meski baru saja merayakan gelar juara, Stopira langsung mengalihkan fokusnya ke pertandingan krusial berikutnya dalam babak play-off promosi demi membawa timnya naik ke kasta tertinggi sepak bola Portugal.
"Não há descanso, são duas finais e vamos dar tudo até ao fim. Já falta só mais um contra o Casa Pia e vamos à luta, até ao fim tentar subir de divisão. Obrigado a todo este povo pelo apoio, estamos juntos. Obrigado a todo o Cabo Verde ainda", tambah Stopira.
Bek tengah veteran itu menutup pernyataannya dengan menegaskan karakter pantang menyerah yang selalu ia pegang sepanjang karier profesionalnya.
"Sou predestinado, abençoado por Deus e também acredito sempre no trabalho. Quem me conhece sabe que não me rendo, vou sempre à luta. Esta vitória é pelo meu povo", pungkas Stopira.
Sementara itu, pelatih Torreense mengakui bahwa dirinya masih belum sepenuhnya menyadari besarnya skala prestasi yang baru saja ditorehkan oleh anak asuhnya dalam kompetisi kasta tertinggi tersebut.
"Ainda não tenho bem a noção do que atingimos. Lembro-me que, na antevisão das meias-finais. perguntaram-me se eu conhecia o treinador finalista em 1956. Admiti que não. Disse que gostava de ser recordado como um dos finalistas. Eu e o grupo inteiro. Este grupo vai ficar marcado para sempre na história do Torreense", kata Luís Tralhão, pelatih Torreense.
Tralhão menjelaskan bahwa minimnya waktu persiapan justru berdampak positif bagi mentalitas para pemainnya yang sudah terbiasa bekerja keras dalam skema pertahanan yang solid sejak awal musim.
"É uma semana muito curta, muito intensa, não tivemos muito tempo para pensar, foi um fator que nos ajudou. Não tivemos muitos dias, mas preparámos o jogo desde o início da época. Sabíamos que o Sporting ia ter uma percentagem gigante de posse de bola. Tínhamos de sair bem. Tivemos a felicidade de marcar logo no início. Esta época trabalhámos muito bem defensivamente. A nossa maior força é a capacidade de sofrimento", jelas Luís Tralhão.
Pelatih yang sebelumnya menangani tim Liga Revelação ini juga mendedikasikan trofi tersebut kepada mantan timnya serta memuji kepribadian kuat para pemain Torreense yang berhasil mengamankan poin terbanyak pada putaran kedua liga.
"Há cinco meses estava na Liga Revelação e dou-lhes um abraço, porque este troféu é deles também. Apanhei um grupo extraordinário. Fui percebendo que os jogadores têm uma grande personalidade. A ideia foi colando, fomos ganhando e fomos a equipa com mais pontos na segunda volta. Hoje tudo era possível. Sem euforias", tutur Luís Tralhão.
Setelah perayaan gelar juara Piala Portugal ini, skuad Torreense dijadwalkan langsung mempersiapkan diri untuk menghadapi Casa Pia pada laga play-off promosi yang berlangsung hari Kamis.