Viktor Axelsen Ungkap Alasan Pensiun Karena Cedera Punggung Parah

Viktor Axelsen Ungkap Alasan Pensiun Karena Cedera Punggung Parah

Mantan pemain bulu tangkis asal Denmark, Viktor Axelsen, mengungkapkan kisah kehidupannya setelah memutuskan gantung raket akibat cedera punggung yang berkepanjangan pada Minggu (24/5/2026) di Jakarta. Dilansir dari Detik Sport, pria berusia 32 tahun tersebut merefleksikan pencapaian dua medali emas Olimpiade serta keputusannya menyudahi karier profesional.

Pengumuman pensiun Axelsen secara resmi dilakukan pada 14 April 2026 setelah mendapat saran dari tim medis dan spesialis untuk berfokus menjaga kondisi tubuh jangka panjang. Rasa sakit pada punggungnya terus memburuk dan membatasi performanya di lapangan, bahkan sejak sebelum ia mengalami kekalahan mengejutkan dari Li Chun-Yi di turnamen All-England 2025.

Axelsen tercatat sempat absen dari kompetisi selama lima bulan dan baru kembali bertanding pada September di ajang Hong Kong Open 2025. Namun, kondisi badannya yang tidak kunjung pulih membuatnya terpaksa mengundurkan diri dari ajang Kumamoto Masters 2025 dan Australia Open 2025.

"Saya pikir sebenarnya, memenangkan satu Olimpiade tentu saja sangat sulit, tetapi memenangkan dua kali jauh lebih sulit. Dan saya rasa yang paling saya banggakan sebenarnya adalah konsistensi sepanjang karier saya," kata Viktor Axelsen.

Axelsen mengukir prestasi tertinggi dengan memenangkan dua medali emas berturut-turut pada Olimpiade 2020 dan Olimpiade 2024. Dedikasi tinggi pada rutinitas harian menjadi kunci utamanya dalam mempertahankan performa di level tertinggi dunia.

"Setelah memenangkan medali emas Olimpiade pertama, saya sebenarnya mulai bermain lebih baik lagi. Jadi saya sangat konsisten dalam latihan dan kehidupan harian saya, dan di samping hasil-hasil tersebut, saya sangat bangga tentang bagaimana saya mengelola hal itu," ujar Viktor Axelsen.

Masalah fisik yang dialami atlet bertinggi badan 1,94 meter ini mencapai puncaknya menjelang Olimpiade Paris. Tim dokter kemudian melakukan tindakan operasi pada bulan April tahun lalu untuk mengatasi nyeri tersebut.

"Saya sempat merasa takut sebelum Olimpiade di Paris. Saya mengalami banyak nyeri punggung. Dan kemudian, setelah Olimpiade, jelas saya menjalani operasi pada bulan April tahun lalu," tutur Viktor Axelsen.

Pascaoperasi, rasa nyeri yang luar biasa tetap kembali muncul saat ia mencoba bertanding lagi. Hal tersebut membulatkan tekadnya bahwa melanjutkan karier sebagai atlet profesional sudah tidak memungkinkan lagi.

"Dan setelah kembali, saya tidak benar-benar bisa kembali tanpa rasa sakit yang hebat. Jadi ketika rasa sakit itu muncul kembali setelah operasi saya, maka saya tahu akan sangat sulit untuk melanjutkan karena saya merasakan sakit yang terlalu besar," ucap Viktor Axelsen.

Pascapensiun, Axelsen kini mengalihkan fokus pada berbagai aktivitas bulu tangkis di luar lapangan pertandingan. Saat ini ia aktif menjadi duta untuk Monitor ERP dan menjalani kegiatan menyapa para penggemarnya di Jakarta.

"Saya rasa dengan Monitor ERP, kami memiliki nilai-nilai yang sama dalam hal bagaimana kami menjalani kehidupan profesional kami dan juga kehidupan di luar bisnis dan performa. Kami suka memperlakukan orang dengan baik, dan kami memperlakukan orang dengan rasa hormat," kata Viktor Axelsen.

Kerja sama baru ini disambut baik oleh Axelsen sebagai bagian dari fase baru kehidupannya selepas tidak lagi aktif bermain. Ia menilai kesamaan visi menjadi dasar utama dalam menjalin kemitraan tersebut.

"Dan saya pikir, jika Anda melakukan itu, itu adalah cara terbaik untuk hidup dan berbisnis. Jadi saya sangat, sangat senang memiliki mitra seperti Monitor ERP bersama dengan semua mitra saya yang lain," kata Viktor Axelsen.

Artikel terkait

Rekomendasi