Yahya Al Ghassani Kecewa Absen Bela UEA Akibat Cedera

Yahya Al Ghassani Kecewa Absen Bela UEA Akibat Cedera

Penyerang tim nasional Uni Emirat Arab (UEA), Yahya Al Ghassani, mengungkapkan rasa terpukul akibat cedera yang dialaminya saat membela negara pada babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 pada Rabu, 6 Mei 2026. Pemain sayap Shabab Al Ahli ini terpaksa menepi ketika UEA menelan kekalahan dari Qatar di Doha.

Absennya Al Ghassani menjadi pukulan telak bagi tim nasional yang belum pernah menginjakkan kaki lagi di putaran final turnamen paling bergengsi tersebut sejak 1990. Meskipun sempat diprediksi pulih dalam sepuluh pekan, ia melakukan rehabilitasi cepat sehingga mampu kembali berlatih dalam kurun waktu empat pekan.

"[Anda merasa bangga] membawa harapan bangsa di pundak Anda," ujar Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA, dilansir dari The National.

Ekspektasi besar dari publik dan pimpinan negara diakui menjadi beban tersendiri bagi sang pemain berusia 28 tahun tersebut. Ia merasa mimpinya sejak kecil terhambat oleh kendala fisik di momen yang sangat krusial bagi sejarah sepak bola negaranya.

"Itu adalah sesuatu yang saya impikan sejak kecil. Mengalami cedera di babak pertama [melawan Oman], saya tidak ingin mengatakan itu membunuh saya sedikit dari dalam. Tapi itu menghancurkan saya," kata Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA.

Al Ghassani menambahkan bahwa dirinya sangat memahami besarnya pengorbanan yang telah dilakukan selama masa kualifikasi. Kekecewaannya memuncak karena ia sangat ingin memenuhi keinginan rakyat UEA untuk melihat tim kesayangannya bersaing di level internasional.

"Saya tahu kerja keras yang telah saya lakukan. Saya tahu tentang harapan bangsa, dan para pemimpin serta orang-orang yang ingin pergi ke Piala Dunia. Mereka baru sekali berada di sana. Jadi, sejujurnya, itu menghancurkan saya," ujar Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA.

Meski jalur kualifikasi utama telah tertutup, saat ini muncul spekulasi mengenai peluang UEA masuk menggantikan posisi Iran akibat faktor geopolitik di kawasan. Al Ghassani mengonfirmasi bahwa hal tersebut menjadi bahan pembicaraan hangat di internal timnas UEA.

"Jelas kami membicarakannya. Ada harapan, seperti satu persen berbanding 99 persen [untuk bermain di Piala Dunia]," kata Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA.

Sebagai seorang atlet profesional, Al Ghassani menegaskan bahwa dirinya tetap mendambakan kelolosan melalui hasil perjuangan di lapangan. Baginya, martabat seorang pemain terletak pada kelayakan yang diraih lewat performa murni.

"Tetapi sejujurnya, sebagai pemain individu, sebagai atlet individu, saya akan selalu suka dan bangga untuk lolos dengan performa saya sendiri, [dan tahu] saya layak berada di sana," ujar Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA.

Ia juga mengakui pentingnya partisipasi di ajang tersebut untuk memajukan standar sepak bola nasional di Uni Emirat Arab. Menurutnya, tidak akan ada pemain yang menolak kesempatan tampil di panggung sebesar Piala Dunia.

"Anda tidak pernah tahu. Mungkin kita layak berada di sana dengan masalah seperti ini. Jelas, tidak ada yang akan menolak [keinginan] pergi ke Piala Dunia. Itu adalah impian setiap pemain untuk bermain di sana, terutama bagi pesepak bola UEA," kata Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA.

Kondisi di level internasional ini berbanding lurus dengan nasib klubnya, Shabab Al Ahli, yang nihil gelar pada musim 2026. Klub tersebut harus merelakan gelar domestik kepada Al Ain dan gagal melaju ke final kompetisi elite tingkat Asia.

"Sisi negatif dari sepak bola adalah tidak memenangkan apa pun musim ini. Musim ini tidak buruk. Tapi bagi kami, jika tidak memenangkan gelar apa pun, itu sangat buruk. Tim seperti Shabab Al Ahli memasuki setiap musim dengan tujuan memenangkan gelar sebagai standar minimum," ujar Yahya Al Ghassani, Penyerang Shabab Al Ahli.

Al Ghassani memandang kegagalan total musim ini sebagai momentum krusial untuk melakukan refleksi diri. Ia berpendapat bahwa hasil buruk memberikan pelajaran yang tidak didapatkan saat tim sedang berada di puncak kemenangan.

"Tapi ini adalah sesuatu yang harus kita pelajari. Sepak bola bukan hanya tentang menang. Terkadang Anda juga belajar dari kekalahan," kata Yahya Al Ghassani, Penyerang Shabab Al Ahli.

Di sisi lain, pemain sayap ini masih menyimpan hasrat besar untuk melanjutkan karier profesionalnya di benua Eropa. Sebelumnya, ia sempat menjalani komunikasi dengan klub Prancis seperti Paris FC dan Angers sebagai langkah awal menuju mimpinya.

"Ini adalah sebuah impian. Saya telah memimpikannya sejak saya masih kecil, dan itu adalah sesuatu yang tidak akan meninggalkan pikiran saya sampai saya mencapainya," ujar Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA.

Determinasi tinggi tetap menjadi prinsip utama sang pemain dalam menghadapi rintangan di masa depan. Ia menyatakan tidak akan berhenti berusaha hingga target karier yang dicanangkannya membuahkan hasil nyata.

"And, sesuatu tentang saya; jika saya memiliki sesuatu di pikiran saya, saya harus mencapainya. Saya tidak peduli," kata Yahya Al Ghassani, Penyerang Timnas UEA.

Artikel terkait

Rekomendasi