Yamaha Desak MotoGP Terapkan Jendela Transfer Pebalap

Yamaha Desak MotoGP Terapkan Jendela Transfer Pebalap

Managing Director Yamaha, Paolo Pavesio, mendesak agar MotoGP segera menerapkan sistem jendela transfer resmi untuk pergerakan pebalap. Manuver cepat di bursa transfer dinilai merugikan investasi yang telah ditanamkan oleh tim.

Seperti dikutip dari Detik Sport, Yamaha dipastikan kehilangan Fabio Quartararo setelah enam tahun bersama. Pebalap berjuluk El Diablo tersebut telah menandatangani kontrak dengan Honda sejak 2025, walau kabar ini baru bocor pada tes pramusim awal tahun 2026.

Merespons situasi tersebut, Yamaha bergerak dengan merekrut Jorge Martin dari Aprilia untuk musim depan. Rider asal Jepang, Ai Ogura, dipastikan menjadi tandem baru Martin setelah pihak tim melepas Alex Rins.

Pergerakan di bursa pebalap sebelum musim dimulai tidak hanya melibatkan Quartararo dan Martin. Pada Desember lalu, Ducati telah mengamankan jasa Pedro Acosta untuk menjadi rekan baru Marc Marquez. Kondisi ini membuat Francesco Bagnaia tersingkir dan memilih sepakat bergabung dengan Aprilia guna mengisi posisi Jorge Martin, yang kemudian diikuti kesepakatan baru Marco Bezzecchi.

Hingga saat ini, pengumuman resmi mengenai perpindahan pebalap untuk musim depan belum dikonfirmasi selain untuk kasus Bezzecchi. Kepastian ini diperkirakan baru muncul setelah kesepakatan komersial baru olahraga ini selesai ditandatangani.

Pavesio menilai bursa pebalap yang tidak terstruktur dan berlangsung terlalu dini sangat merugikan internal tim.

"Ada satu hal yang bisa saya katakan: situasi yang berkembang tahun ini, menurut saya, tidak sehat dan tidak tepat dalam jangka panjang. Bursa pebalap yang masih terlalu dini seperti ini tidak memungkinkan siapa pun untuk memaksimalkan investasi yang telah dilakukan," ucap Pavesio kepada Moto.it.

Menurutnya, fokus pebalap menjadi terpecah saat balapan karena sudah memikirkan masa depan mereka selanjutnya. Pola kontrak standar dua tahun yang disepakati bahkan sebelum kejuaraan dimulai membuat tim kehilangan nilai investasi secara optimal.

"Kemudian, setelah itu, ketika tiba saatnya balapan, para pembalap memikirkan apa yang mereka lakukan sekarang. Tapi karena mengetahui bahwa beberapa pembalap top sudah melakukan langkah-langkah sebelum kejuaraan dimulai, dengan kontrak yang hampir menjadi standar kontrak dua tahun, berarti Anda sebenarnya tidak dapat memanfaatkan 50% dari investasi yang dilakukan pada seorang pembalap secara maksimal," kata Pavesio.

Pavesio berharap manajemen MotoGP dapat meniru regulasi olahraga lain dalam mengatur perpindahan atlet secara terstruktur.

"Saya rasa kita membutuhkan - seperti yang kita bicarakan sebelumnya tentang Liberty, MotoGP Group - pendekatan struktural, seperti di olahraga lain, terkait jendela transfer, di mana segala sesuatunya diselesaikan pada periode tersebut," Pavesio mengungkapkan.

Artikel terkait

Rekomendasi