Pasangan pembuat konten asal New Jersey, Amerika Serikat, Jesse dan Ashley Ridgway, memutuskan untuk mengakhiri kehamilan mereka setelah janin dalam kandungan terindikasi mengalami Down syndrome atau Trisomi 21 awal pekan ini, seperti dilansir dari Wolipop.
Keputusan berat tersebut diumumkan oleh Jesse melalui unggahan cerita di akun media sosial miliknya. Pengalaman pengguguran kandungan ini diakui memberikan trauma mendalam bagi dirinya maupun sang istri.
"Minggu ini, aku dan istriku membuat keputusan yang sangat sulit untuk mengakhiri kehamilan karena Trisomi 21. Keputusan ini tidak dibuat dengan mudah," tulis Jesse Ridgway.
Pria berusia 33 tahun tersebut menjelaskan bahwa dirinya sempat merasa optimis saat pertama kali mendengar kabar kehamilan Ashley, sebelum akhirnya mempertimbangkan kembali keputusan mereka.
"Ketika pertama kali menerima kabar ini, aku terkejut tetapi optimis. Jika mereka sedikit lambat secara intelektual, maka kita akan berhasil. Aku siap menjadi orang tua, apa pun yang terjadi... tetapi aku tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan Down syndrome," kata Jesse Ridgway.
Jesse kemudian menjabarkan sejumlah risiko kesehatan yang membayangi penyandang Down syndrome, seperti cacat jantung, gangguan pendengaran, hingga keterlambatan perkembangan fisik.
"Sindrom Down bukanlah 'berkah,' secara objektif itu sangat buruk dari perspektif kesehatan. Aku tidak menyadari betapa beratnya bagi anak itu, apalagi bagi keluarganya... seringkali, mereka akan sepenuhnya bergantung pada orang lain selama sisa hidup mereka," tutur Jesse Ridgway.
Sebelum mengambil tindakan, pihak keluarga mengklaim telah berkonsultasi dengan kerabat, dokter, serta konselor genetik. Jesse menyatakan bahwa mayoritas perempuan mengambil langkah serupa setelah diagnosis tersebut, meski data Healthline menunjukkan angka aborsi akibat kasus ini di AS sebesar 67 persen.
"Akan butuh sedikit waktu untuk melanjutkan hidup, tetapi kami bersemangat untuk mencoba lagi di masa depan dan semoga mendapatkan hasil yang lebih baik." pungkas Jesse Ridgway.
Pengumuman terbuka ini memicu perdebatan sengit di kalangan warganet, di mana sebagian memberikan dukungan emosional sementara sebagian lainnya mengecam publikasi detail medis yang dianggap terlalu sensitif.
"Aku mengerti perlunya menggugurkan janin. Itu keputusan pribadi. Yang tidak aku mengerti adalah mengapa mereka merasa perlu mengumumkannya di internet. Apakah karena mereka influencer? Detail itu terlalu pribadi dan sensitif," tulis seorang netizen.
Sejumlah pengguna media sosial lain bahkan melayangkan kritik tajam dan menilai tindakan pembuat konten tersebut sebagai bentuk diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.
"Aku tak percaya kita hidup di zaman di mana seseorang secara terbuka mengunggah di media sosial bahwa mereka membunuh anak mereka," komentar netizen lain.
Gelombang penolakan dari publik terus mengalir di kolom komentar akun pasangan influencer tersebut karena alasan aborsi yang mereka paparkan.
"Membunuh seorang anak karena memiliki disabilitas adalah tindakan gila. Bayangkan jika mereka mengatakan hal itu kepada seseorang yang hidup dengan sindrom Down," tulis netizen.