Alasan Ilmiah Larangan Mencuci Daging Kurban Sebelum Membuat Sate

Alasan Ilmiah Larangan Mencuci Daging Kurban Sebelum Membuat Sate

Keputusan untuk tidak mencuci daging kurban sebelum diolah menjadi sate ternyata merupakan langkah yang sangat tepat. Dilansir dari Medcom, pilihan ini terbukti benar jika ditinjau dari sudut pandang kuliner maupun kesehatan.

Daging memiliki sifat seperti spons yang sangat mudah menyerap air. Apabila daging kurban dicuci, kandungan air di dalamnya akan meningkat drastis atau menjadi waterlogged.

Kondisi basah ini membuat proses pematangan saat dibakar menjadi lebih lama karena air yang terperangkap harus menguap terlebih dahulu. Akibatnya, sari-sari daging asli justru keluar bersama air cucian dan menghasilkan tekstur sate yang keras, alot, serta kering.

Permukaan daging yang basah setelah dicuci juga menyulitkan bumbu marinasi untuk menempel dan meresap sempurna. Sebaliknya, permukaan daging yang kering mampu mengikat bumbu seperti kecap, ketumbar, atau bawang secara lebih baik sehingga menghasilkan rasa yang lebih gurih.

Dari sisi higienitas, para ahli pangan sangat melarang aktivitas mencuci daging mentah di wastafel. Aliran air tidak akan membunuh bakteri pada daging, melainkan memicu cipratan bakteri ke piring bersih, wastafel, dinding dapur, hingga pakaian.

Bakteri pada daging mentah sebenarnya hanya bisa mati melalui paparan suhu panas yang tinggi. Proses pembakaran sate itu sendiri yang berfungsi sebagai pemusnah bakteri berbahaya.

Jika terdapat kotoran atau darah berlebih pada daging kurban, Anda tidak perlu merendam atau membilasnya dengan air. Pembersihan cukup dilakukan dengan cara mengelap atau menepuk-nepuk permukaan daging menggunakan tisu dapur yang bersih sebelum dipotong dan ditusuk.

Artikel terkait

Rekomendasi