Chatbot kecerdasan buatan bernama Claude kerap menarik perhatian karena mampu memberikan respons yang terasa sangat manusiawi dan hangat. Ketika pengguna membagikan keluh kesah atau masalah pekerjaan, mesin ini tidak membalas dengan draf kaku khas robot.
Claude sering memuji dan mendengarkan dengan peduli layaknya seorang teman, seperti dilansir dari Tekno. Kemampuan responsif yang penuh empati ini membuat Claude dinilai sebagai AI yang paling memanusiakan manusia.
Karakter unik di dalam sistem Claude tersebut dibentuk oleh seorang filsuf perempuan asal Skotlandia bernama Amanda Askell. Kehadiran Askell menjadi sebuah anomali di Silicon Valley yang umumnya didominasi oleh para insinyur komputer.
Askell menjabat sebagai Kepala Tim Penyelarasan Kepribadian di Anthropic. Tugas utamanya bukan mengurus kecepatan server atau merancang perangkat keras, melainkan menanamkan kompas moral serta mendefinisikan kepribadian Claude.
Minat Askell pada pertanyaan eksistensi dan moralitas telah muncul sejak kecil karena gemar membaca karya J.R.R. Tolkien dan C.S. Lewis. Latar belakang pendidikannya juga jauh dari dunia pemrograman komputer.
Ia mempelajari seni rupa dan filsafat secara bersamaan di University of Dundee, kemudian meraih gelar BPhil di University of Oxford. Askell lalu meraih gelar PhD di New York University dengan tesis yang mengulas etika tak terbatas.
Kariernya di industri kecerdasan buatan bermula di OpenAI pada tahun 2020 sebagai ilmuwan riset keselamatan AI. Ia bahkan ikut menjadi salah satu penulis pendamping untuk makalah penelitian GPT-3 yang monumental.
Namun, Askell memilih mundur dari perusahaan pembuat ChatGPT tersebut karena melihat adanya pergeseran prioritas. OpenAI dinilai lebih mengedepankan kecanggihan teknis model AI dibandingkan memprioritaskan faktor keselamatan.
Pada Maret 2021, Anthropic yang didirikan oleh mantan petinggi OpenAI merekrut Askell untuk mendefinisikan seluruh kepribadian Claude. Di laboratorium Anthropic, ia menerapkan metode revolusioner bernama Constitutional AI.
Askell melatih Claude menggunakan dokumen "Konstitusi" berupa naskah moral setebal kurang lebih 30.000 kata yang disuntikkan ke sistem. Nilai di dalamnya mengambil inspirasi dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB hingga ketentuan layanan Apple.
Melalui metode tersebut, Claude dilatih agar mampu bernalar secara independen mengenai prinsip kejujuran, sikap menolong, dan meminimalisasi bahaya. Askell bertugas mengajari teknologi ini bagaimana caranya menjadi sosok yang baik.
Sentuhan personal sang filsuf membuat Claude mampu merespons dengan penuh empati tanpa terkesan menggurui. Askell meramu keseimbangan yang pas agar Claude tetap teguh memegang nilai keselamatan sekaligus memperlakukan pengguna layaknya orang dewasa.
Pendekatan filosofis ini membawa Claude meraih tingkat kepercayaan publik tertinggi di angka 82 persen di antara model AI lainnya. Tingkat kepuasan pengguna chatbot ini juga sukses menyentuh angka 92 persen.
Claude memiliki skor penyarian materi tak pantas mencapai 97,2 persen dalam menolak konten berbahaya secara halus. Tingkat halusinasi atau kecenderungan mengarang fakta pada Claude tercatat paling rendah di industri, yakni hanya 1,8 persen.
Dedikasi tersebut membuat majalah TIME memasukkan nama Amanda Askell ke dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di dunia AI pada tahun 2024 lalu. Askell juga berkomitmen menyumbangkan 10 persen pendapatan seumur hidupnya untuk yayasan amal pengentas kemiskinan ekstrem.