Militer Amerika Serikat tengah berupaya mengatasi salah satu persoalan krusial dalam perang modern, yakni melumpuhkan drone musuh tanpa perlu menguras anggaran. Langkah ini diambil karena biaya produksi rudal pertahanan bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal dibanding target yang dihancurkan.
Kondisi tersebut sempat terjadi dalam konflik Iran, saat drone Shahed membanjiri lini pertahanan Amerika Serikat. Situasi itu memaksa militer mereka merespons serangan menggunakan rudal dengan harga yang sangat tinggi.
Seperti dikutip dari Detik iNET, Korps Marinir Amerika Serikat kini mengandalkan sistem baru bernama Marine Air Defense Integrated System atau Madis sebagai bagian dari jalan keluar. Madis beroperasi menggunakan dua Joint Light Tactical Vehicles (JLTV) yang merupakan penerus kendaraan Humvee buatan Kongsberg Defence & Aerospace.
Salah satu armada kendaraan tersebut dipersenjatai dengan radar khusus untuk mendeteksi objek terbang seperti drone. Selain itu, sistem ini dibekali kemampuan perang elektronik yang berfungsi untuk mengacaukan sinyal musuh.
Platform Madis mengintegrasikan serangkaian sensor serta persenjataan pada sasis JLTV guna mewujudkan sistem pertahanan udara yang bergerak dinamis. Senjata utama yang digunakan adalah senapan rantai XM914 30mm produksi Northrop Grumman untuk melancarkan tembakan cepat terhadap drone dan ancaman di ketinggian rendah.
Amunisi pada senapan ini dirancang secara khusus untuk meningkatkan efektivitas gempuran terhadap target udara berukuran kecil yang bergerak lincah. Target semacam ini biasanya sulit dihalau jika hanya menggunakan sistem pertahanan udara konvensional.
Selain senapan mesin, platform Madis juga menyediakan opsi penggunaan rudal Stinger untuk memberikan hantaman dengan dampak kerusakan yang lebih besar. Kehadiran opsi ini memberikan fleksibilitas taktis bagi para komandan di area pertempuran.
Selama ini di Timur Tengah, Amerika Serikat bersama negara Teluk mengoperasikan helikopter serta pesawat yang dilengkapi senapan untuk menjatuhkan drone Iran. Namun, mereka masih bergantung pada rudal udara ke udara AIM-120 yang sulit diproduksi dan berbiaya USD 1 juta atau sekitar Rp 16 miliar per unit berdasarkan laporan Center for Strategic and International Studies.
Konsep dasar dari pengembangan Madis adalah menyediakan berbagai opsi bagi komandan lapangan, mulai dari senapan, rudal, hingga perang elektronik. Melalui opsi tersebut, mereka dapat memilih metode terbaik untuk melindungi pasukan dan aset berharga tanpa membebani anggaran militer.
Kendati operasional senapan ini jauh lebih murah daripada rudal, para produsen pertahanan di Amerika Serikat masih menghadapi kendala. Mereka dituntut untuk mampu memproduksi peluru senapan tersebut dalam jumlah yang memadai bagi kebutuhan perang.
"Ada begitu banyak jenis drone di luar sana, Anda tidak tahu persis apa yang akan Anda hadapi. Anda hanya bisa berharap data intelijen Anda akurat, lalu Anda maju ke medan dengan semua persenjataan yang Anda miliki, sambil berharap yang terbaik," kata Sersan Staf Konie dari militer AS yang dikutip detikINET dari WSJ.