Sebanyak 69 persen organisasi di kawasan Asia Pasifik menyatakan kekhawatiran terhadap peningkatan ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) di tengah arsitektur keamanan yang semakin kompleks. Fenomena ini dilansir dari Suara berdasarkan hasil studi terbaru yang dilakukan oleh Fortinet bersama Forrester Consulting terhadap 585 pengambil keputusan keamanan siber.
Data riset menunjukkan bahwa 64 persen responden menganggap hambatan utama mereka adalah kompleksitas alat dan fragmentasi arsitektur keamanan. Kondisi tersebut diperburuk oleh banjir peringatan keamanan yang membuat 46 persen organisasi merasa kewalahan, sementara 43 persen lainnya masih bergantung pada proses penanganan insiden secara manual.
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, menyoroti minimnya integrasi antar solusi keamanan yang digunakan oleh banyak perusahaan saat ini. Hal tersebut dinilai menghambat efektivitas tim dalam merespons serangan siber yang kian canggih.
"Terlalu banyak solusi keamanan yang berdiri sendiri membuat tim kesulitan memperoleh visibilitas menyeluruh dan merespons ancaman dengan cepat," ujar Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia.
Edwin menambahkan bahwa perusahaan sangat membutuhkan arsitektur keamanan yang terpadu demi menunjang efisiensi operasional. Langkah integrasi ini juga dianggap sebagai fondasi penting agar pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dapat dilakukan secara optimal.
Laporan yang sama memprediksi adopsi platform keamanan terpadu akan melonjak menjadi 60 persen dalam kurun waktu 12 hingga 24 bulan mendatang. Saat ini, baru sekitar 29 persen organisasi di Asia Pasifik yang telah mengimplementasikan sistem terintegrasi untuk memperkuat Security Operations Center (SOC) mereka.
Project Lead Forrester Consulting, Amelia Lau, menjelaskan bahwa kawasan Asia Pasifik kini tengah memasuki tahap transisi menuju sistem keamanan yang otomatis. Ia menilai perubahan model keamanan ini sangat krusial bagi ketahanan siber perusahaan.
"Pendekatan berbasis platform akan menjadi fondasi penting untuk meningkatkan visibilitas, efisiensi operasional, dan ketahanan siber," kata Amelia Lau, Project Lead Forrester Consulting.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, 95 persen organisasi berencana menambah nilai investasi pada teknologi AI guna mempercepat deteksi dan respons terhadap insiden siber. Strategi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual yang selama ini rentan terhadap kesalahan.
Namun, VP of Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey, memberikan peringatan mengenai penerapan teknologi AI. Menurutnya, AI tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya dukungan struktur data yang terintegrasi dengan baik.
"Tanpa integrasi, AI justru berisiko memperbesar kompleksitas," tegas Rashish Pandey, VP of Marketing and Communications APAC Fortinet.
Sebagai penutup, Edwin Lim menekankan kembali tiga pilar utama bagi perusahaan dalam menghadapi ancaman siber di era modern. Ketiga unsur tersebut mencakup integrasi sistem, otomatisasi proses, serta visibilitas keamanan yang terpadu di seluruh jaringan organisasi.