Masyarakat Perkotaan Antre Jam Tangan dan Parfum demi Status Sosial

Masyarakat Perkotaan Antre Jam Tangan dan Parfum demi Status Sosial

Masyarakat kelas menengah ke atas di Jakarta rela mengantre panjang demi membeli parfum lokal dan jam tangan koleksi terbaru akibat dorongan status sosial serta pengaruh media sosial pada Sabtu (16/5/2026) dan Minggu (17/5/2026), seperti dilansir dari Money.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad menilai perilaku konsumtif di kota besar ini berkaitan erat dengan simbol keberhasilan yang terbentuk melalui tren digital.

“Ini fenomena kelas menengah ke atas. Karena media sosial, akhirnya muncul simbol status sosial. Ada beberapa kalangan yang merasa memakai jam tangan mahal atau barang terbaru menunjukkan status sosialnya lebih tinggi dibandingkan yang lain,” ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF.

Menurut Tauhid, kepemilikan terhadap produk tertentu kini telah bergeser fungsi menjadi identitas sosial individu di lingkungan mereka.

“Kalau sudah punya barang sosial seperti itu, berarti menggambarkan dia sudah masuk pada level kesuksesan atau keberhasilan dalam hidupnya,” kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF.

Faktor lain yang mendorong kerelaan konsumen mengantre berjam-jam adalah rasa takut tertinggal tren atau dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO).

“Ada fenomena kalau ada barang baru itu ya fenomena FOMO. Apalagi kalau barang itu lagi viral dan susah didapat, akhirnya sering dibicarakan,” ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF.

Kelangkaan produk tersebut pada akhirnya memicu efek psikologis yang membuat barang dinilai jauh lebih berharga oleh konsumen.

“Kalau ikut antrean dan sebagainya, merasa barang itu lebih berharga dibandingkan yang lain. Ada efek psikologis dan emosional dalam konsumsi barang-barang tersebut,” kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF.

Kendati demikian, situasi ini dipandang tidak mencerminkan kondisi ekonomi kelompok masyarakat menengah di Indonesia secara keseluruhan.

“Menurut saya ini tidak menggambarkan fenomena kelas menengah secara umum. Hanya terjadi di kota-kota besar dan tempat-tempat tertentu saja,” ucap Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF.

Berdasarkan laporan media sosial, antrean mengular sempat terjadi di gerai parfum lokal Mykonos di Pondok Indah Mall setelah ramai diulas oleh para pembuat konten.

Sementara itu, peluncuran jam tangan Royal Pop Collection hasil kolaborasi Audemars Piguet dan Swatch di Grand Indonesia dan Pacific Place juga memicu antrean massal sejak pagi buta.

“Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan staf kami di toko Swatch, kami mohon Anda tidak terburu-buru datang ke toko kami dalam jumlah besar untuk mendapatkan produk ini,” tulis Swatch.

Pihak produsen jam tangan menegaskan bahwa produk tersebut masih akan tersedia dalam beberapa bulan ke depan guna meredam lonjakan antrean pengunjung.

“The Royal Pop Collection akan tetap tersedia selama beberapa bulan. Di beberapa negara, antrean lebih dari 50 orang tidak dapat diterima, dan penjualan mungkin perlu dihentikan,” lanjut Swatch.

Artikel terkait

Rekomendasi