Penggalian formal di lokasi makam Ratu Elisenda dari Aragon di Biara Kerajaan Santa Maria dari Pedralbes justru mengungkap kejutan lain yang menggemparkan. Proyek yang digelar untuk memperingati ulang tahun ke-700 biara tersebut menemukan sisa-sisa kerangka lain di luar perkiraan semula.
Makam utama memang berisi sisa-sisa kerangka yang sesuai dengan rekam jejak Elisenda dari Montcada, seperti dikutip dari Detik iNET. Berdasarkan pernyataan resmi Institut Kebudayaan Barcelona, tulang-tulang sang ratu ditempatkan dalam kotak kayu abad pertengahan yang dihiasi sutra dan berbagai pernak-pernik.
Elisenda dikenal sebagai ratu yang sangat religius dan memilih pindah ke istana kecil di sebelah biara setelah suaminya, James II dari Aragon, wafat. Biara tersebut dikelola oleh sekelompok biarawati Katolik bernama Poor Clares, namun Elisenda tetap memegang pengaruh kuat dengan mengeluarkan empat peraturan dan mengatur warisan hartanya.
Bukti arkeologis memperlihatkan hubungan dekat tersebut melalui pakaian pemakaman Elisenda yang sangat sederhana.
"Mungkin terkait dengan gaya hidup monastik," menurut pernyataan tersebut.
Hasil analisis lebih lanjut mengindikasikan bahwa Elisenda meninggal dunia pada usia sekitar 70 tahun. Sang ratu diduga mengidap berbagai penyakit tulang semasa hidupnya.
Kejutan besar justru datang dari tujuh makam lain yang ikut dibuka dalam rangka peringatan sejarah tersebut. Makam yang awalnya diduga milik ksatria Aragon, Artau de Foces, ternyata berisi sisa-sisa jenazah dari tiga bayi dan dua wanita muda.
"Ini adalah lompatan kualitatif, karena sampai sekarang kita hanya dapat mempelajarinya melalui bukti yang tersisa, seperti bangunan bersejarah ini, makam sang ratu sendiri, atau lambang kebangsawanan," kata Anna Castellano, kepala kurator biara, kepada Catalan News.
Para peneliti sama sekali tidak menemukan tanda-taba keberadaan jasad laki-laki di dalam makam yang dikaitkan dengan ksatria Artau de Foces tersebut.
Sementara itu, makam lain yang diyakini milik keponakan Elisenda, Francesca Saportella, berisi sisa-sisa tulang dari minimal sembilan individu berbeda dari lintas periode waktu. Temuan di dalamnya mencakup empat jenazah laki-laki dengan luka tusuk serta torso mumi dari seorang wanita hamil, namun tidak satu pun dari jasad tersebut merupakan Francesca Saportella.
"Ini adalah kesempatan untuk mempelajari karakteristik fisik orang-orang ini dan juga segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara pemakaman dan sistem penguburan di komunitas-komunitas seperti ini," ujar Josep Maria Vila, salah satu direktur proyek, kepada APD.
Pengungkapan misteri ini menjadi titik awal bagi penelitian mendalam yang dijadwalkan terus berlangsung hingga minimal tahun 2027. Tim peneliti kini telah mengumpulkan lebih dari 200 sampel arkeobotani serta jejak DNA dari Ratu Elisenda dan individu lainnya di situs pemakaman kuno tersebut.
"Tujuh ratus tahun setelah berdirinya biara, banyak pertanyaan yang masih belum terjawab," pernyataan tersebut menyimpulkan.
"Tantangan untuk tahun mendatang adalah mengubah temuan awal ini menjadi pembacaan sejarah yang lengkap yang memungkinkan kita untuk lebih memahami tidak hanya siapa orang-orang ini, tetapi juga bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka meninggal, dan bagaimana mereka dikenang," tandas mereka.