Memahami Arti Hari Tasyrik dan Deretan Amalan yang Dianjurkan

Memahami Arti Hari Tasyrik dan Deretan Amalan yang Dianjurkan

Umat Islam menyambut kehadiran hari Tasyrik dengan penuh rasa syukur setelah merayakan Iduladha, seperti dikutip dari Medcom. Waktu istimewa ini menjadi momen penting karena masyarakat masih diperbolehkan untuk menyembelih hewan kurban.

Hari-hari tersebut memiliki keterkaitan erat dengan ibadah haji serta penyembelihan kurban. Setiap muslim senantiasa diingatkan mengenai keutamaan serta ketentuan ibadah pada waktu tersebut.

Salah satu aturan mendasar yang wajib dipatuhi adalah larangan untuk menunaikan ibadah puasa. Larangan tersebut diberlakukan agar umat Islam dapat menikmati berkah makanan dari hewan yang telah disembelih.

Istilah tasyrik atau tasyriq dalam bahasa Arab diambil dari kata masdar ‘syarraqa’ menurut laman Majelis Ulama Indonesia. Kata tersebut memiliki makna berupa matahari yang terbit atau aktivitas menjemur sesuatu di bawah terik matahari.

Tasyrik juga dapat diartikan sebagai tindakan menghadapkan sesuatu ke arah timur atau arah datangnya sinar matahari. Syekh Ibnu Manzur (711 H) menjelaskan adanya dua pandangan ulama mengenai asal-usul penamaan waktu istimewa ini.

Pertama, dinamakan tasyrik karena waktu tersebut merupakan hari-hari saat umat Islam menjemur daging kurban mereka untuk dijadikan dendeng. Pada masa Rasulullah SAW, teknologi pendingin seperti kulkas belum ada, sehingga menjemur daging menjadi cara efektif agar persediaan makanan dapat disimpan dalam jangka panjang.

Kedua, penamaan ini merujuk pada pelaksanaan ritual penyembelihan hewan kurban. Proses penyembelihan tersebut baru boleh dilakukan setelah matahari terbit di ufuk timur.

Durasi Hari Tasyrik

Hari Tasyrik berlangsung selama tiga hari berturut-turut setelah perayaan Iduladha pada 10 Dzulhijjah berdasarkan kalender Hijriah. Tiga hari yang dimaksud jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Selama tiga hari ini, umat Islam dilarang keras untuk berpuasa karena waktu tersebut merupakan momen untuk makan, minum, dan bersyukur. Larangan berpuasa selama tiga hari ini ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

"Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma, keduanya berkata: “Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan qurban ketika menunaikan haji.” (HR. Bukhari, no. 1859)

Penegasan mengenai status tiga hari tersebut sebagai hari raya dan waktu makan-minum juga tertuang dalam sabda Rasulullah SAW selanjutnya.

"Dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hari Arafah, hari Iduladha, dan hari Tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, serta merupakan hari-hari untuk makan dan minum.” (HR. An-Nasa’i, no. 2954)

Masyarakat sangat dianjurkan untuk terus meningkatkan amal ibadah mereka sepanjang tiga hari ini. Amalan tersebut meliputi memperbanyak zikir, memanjatkan doa, serta menuntaskan penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu.

Perintah kurban ini juga sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Kautsar ayat 2.

Rekomendasi Amalan yang Dianjurkan

Terdapat beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan oleh umat Islam sepanjang Hari Tasyrik untuk mendapatkan pahala menurut laman jombang.nu.or.id. Selain menyembelih hewan kurban, ibadah lain juga dapat memperbanyak pahala.

Amalan pertama adalah memperbanyak bacaan takbir setelah salat. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip pandangan Imam Abu Hanifah mengenai amalan utama pada Hari Tasyrik ini.

Artinya: “Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa amal pada Hari Tasyrik adalah takbir setelah shalat.” (Fathul Bari, juz II, halaman 525).

Amalan kedua adalah memperbanyak tahlil, tahmid, dan takbir. Dalam riwayat lain, umat Islam juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak lisan mereka dengan lantunan tahlil, tahmid, dan takbir selama Hari Tasyrik berlangsung.

Artinya: “Pada riwayat Ibnu Umar ada tambahan kalimat di akhir, ‘Perbanyaklah tahlil, tahmid, dan takbir pada Hari Tasyrik.” (Fathul Bari, juz II, halaman 529).

Amalan ketiga adalah memperbanyak berbagai amal saleh. Hari Tasyrik menjadi momentum emas untuk memperbanyak segala bentuk kebajikan bagi umat Islam.

Menurut Ibnu Abi Jamrah, amal apa pun yang dilakukan pada Hari Tasyrik memiliki nilai keutamaan yang lebih tinggi dibanding jika dikerjakan pada hari-hari biasa.

Artinya: “Ibnu Abi Jamrah mengatakan, ‘Hadis ini menunjukkan bahwa amal apa pun pada Hari Tasyrik lebih utama daripada amal yang sama di luar Hari Tasyrik.” (Fathul Bari, juz II, halaman 527).

Hari Tasyrik merupakan waktu istimewa bagi setiap muslim untuk meningkatkan ketakwaan melalui zikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, maupun amal kebaikan lainnya. Keistimewaan waktu ini menjadi bukti nyata bahwa Allah SWT memuliakan waktu-waktu tertentu, sebagaimana Dia memuliakan tempat-tempat tertentu di bumi.

Artikel terkait

Rekomendasi