Umat Islam Teliti Asal-usul Pembawa Syariat Haji Pertama

Umat Islam Teliti Asal-usul Pembawa Syariat Haji Pertama

Jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Makkah setiap tahun untuk menunaikan ibadah haji. Seperti dilansir dari Cahaya, seluruh rangkaian ritual tersebut telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi simbol persatuan umat Islam.

Di balik ritual yang terus dijalankan, muncul pertanyaan mengenai siapa yang pertama kali melaksanakan ibadah haji. Berbagai literatur klasik Islam memuat pandangan berbeda dari para ulama, mufasir, dan sejarawan mengenai hal ini.

Salah satu pendapat paling awal menyebutkan bahwa ibadah haji telah ada sebelum Nabi Adam AS diciptakan. Pandangan ini berkaitan dengan kisah penciptaan manusia yang tercantum dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 30.

ȱɑɪɗχ Ƣɑɪɑ ʀɑɓɓʊƞɑ lɪl-mɑlā'ɪƞɑtɪ ɪnnī jā‘ɪlʊɲ fɪl-ɑʀɗɪ ƞɠɑlīfɑɧ(ɛɒ), qālū ɑtɑj‘ɑlʊ fīɧā mɑʏ ʏʊɓsɪdʊ fīɧā ʇɑ ʏɑsfɪƞʊd-dɪmā'(ɑ), ʇɑ nɑḥɲʊ nʊsɑɓɓɪḥʊ ɓɪḥɑmdɪƞɑ ʇɑ nʊsɑɗɗɪsʊ lɑƞ(ɑ), qālɑ ɪnnī ā‘lɑmʊ mā lā tɑ‘lɑmūn(ɑ)

Sebagian ulama mengaitkan ayat tersebut dengan riwayat tawaf yang dilakukan para malaikat jauh sebelum manusia hadir di bumi. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan pertemuan malaikat dengan Nabi Adam.

"Wahai Adam, hajimu diterima Allah. Sesungguhnya kami telah berhaji di Baitullah ini dua ribu tahun sebelum engkau."

Meskipun sebagian ahli hadis menilai sanad riwayat tersebut tidak mencapai derajat sahih, kisah ini tetap menjadi bagian khazanah sejarah Islam. Sejumlah ulama menafsirkan adanya hubungan antara Baitullah di bumi dengan Baitul Ma'mur di langit ketujuh.

Berdasarkan penjelasan Al-Kharbuthli yang dikutip Drs. H. Noor Hamid, para malaikat mulanya bertawaf mengelilingi Arsy saat memohon ampun. Allah kemudian menciptakan Baitul Ma'mur di langit dan memerintahkan malaikat di bumi membangun bangunan yang menyerupai rumah ibadah tersebut.

Nabi Adam dan Hawa Sebagai Peziarah Pertama

Pendapat kedua dalam literatur sejarah Islam klasik menyebutkan bahwa Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang melaksanakan haji. Setelah diturunkan ke bumi, Allah memerintahkan Nabi Adam dan Hawa membangun rumah ibadah di lokasi Ka'bah sekarang.

Malaikat Jibril kemudian menunjukkan lokasi Baitullah kepada Nabi Adam. Setelah proses pembangunan selesai, Allah memerintahkan Nabi Adam dan Hawa untuk melakukan tawaf di sekeliling bangunan tersebut.

Ibnu Katsir dalam buku Qashash al-Anbiya menjelaskan bahwa sejumlah ulama salaf meyakini Ka'bah telah dikenal sejak masa Nabi Adam. Para nabi setelah Nabi Adam juga disebut mendatangi Baitullah untuk beribadah.

Namun, para ulama menegaskan bahwa detail pembangunan Ka'bah pada masa Nabi Adam berasal dari atsar dan kisah sejarah yang sanadnya tidak sekuat hadis hukum. Informasi ini diposisikan sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.

Fondasi Ka'bah Sebelum Masa Nabi Ibrahim

Mayoritas umat Islam mengenal Nabi Ibrahim AS sebagai pembangun Ka'bah, namun Al-Qur'an tidak menggunakan kata "membangun" secara harfiah dari nol. Hal ini tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 127 yang menjelaskan bahwa Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail.

M. Quraish Shihab melalui Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa penggunaan kata yarfa'u al-qawa'id mengindikasikan fondasi Ka'bah sudah ada sebelum masa Nabi Ibrahim. Struktur tersebut tinggal ditinggikan kembali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Mengenai siapa yang pertama kali membangun fondasi awal tersebut, muncul pembagian pendapat antara malaikat atau Nabi Adam. Karena tidak ada nash Al-Qur'an maupun hadis sahih yang menegaskan hal itu, ulama memilih tidak memastikan satu pendapat.

Nabi Ibrahim Sebagai Pelopor Syariat Haji

Walaupun ada perbedaan pandangan mengenai pelaku haji pertama, mayoritas ulama sepakat bahwa syariat haji saat ini berakar pada Nabi Ibrahim AS. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyeru manusia untuk berhaji setelah selesai meninggikan fondasi Ka'bah.

Perintah tersebut tertuang dalam Surah Al-Hajj ayat 27 yang berbunyi:

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh."

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim sempat bertanya mengenai cara suaranya bisa didengar seluruh manusia. Allah menegaskan bahwa tugas Nabi Ibrahim hanyalah menyeru, sedangkan Allah yang akan menyampaikan seruan tersebut.

Sejumlah riwayat juga mencatat para nabi lain seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, hingga Nabi Musa pernah berhaji ke Baitullah. Imam An-Nawawi mengutip riwayat yang menunjukkan Ka'bah telah menjadi pusat ibadah tauhid jauh sebelum masa Rasulullah SAW.

Para ulama kontemporer seperti Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal Al-Qur'an mengambil posisi lebih hati-hati dengan menekankan esensi Ka'bah sebagai simbol penghambaan tauhid yang menghubungkan generasi demi generasi sejak zaman para nabi.

Artikel terkait

Rekomendasi