Musisi Ashley MacIsaac Gugat Google Terkait Kesalahan Informasi AI

Musisi Ashley MacIsaac Gugat Google Terkait Kesalahan Informasi AI

Musisi biola ternama asal Kanada, Ashley MacIsaac, resmi mengajukan gugatan perdata terhadap Google setelah fitur AI Overview secara keliru mengidentifikasi dirinya sebagai pelaku kejahatan seksual. Ashley MacIsaac melayangkan tuntutan ganti rugi sebesar 1,5 juta dolar atau sekitar Rp 26 miliar di Pengadilan Tinggi Ontario sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Gugatan tersebut muncul setelah komunitas adat Sipekne'katik First Nation membatalkan kontrak konser MacIsaac secara mendadak pada Desember tahun lalu. Panitia menemukan informasi dari ringkasan AI Google yang menyatakan bahwa peraih tiga Juno Award tersebut merupakan terpidana kasus kekerasan berat.

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa kecerdasan buatan Google mencampuradukkan data pribadi MacIsaac dengan catatan kriminal orang lain yang memiliki nama belakang serupa di wilayah Kanada Atlantik. Fitur tersebut menuduh MacIsaac melakukan kekerasan seksual, penjeratan anak melalui internet, hingga penganiayaan fisik.

Pihak penggugat menegaskan bahwa perusahaan teknologi raksasa tersebut memegang kendali penuh atas algoritma yang mereka operasikan. Google dianggap lalai dalam memastikan keakuratan informasi sensitif yang dipublikasikan secara otomatis kepada pengguna internet.

"Sebagai pencipta dan operator AI Overview, Google bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari desain produk yang cacat," bunyi pernyataan dalam gugatan tersebut.

MacIsaac menilai perusahaan seharusnya memiliki mekanisme kontrol yang lebih ketat mengingat potensi dampak buruk dari disinformasi. Kegagalan sistem ini dianggap telah merusak reputasi profesional yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

"Google bersikap acuh tak acuh terhadap publikasi pernyataan yang sangat palsu ini, yang bahkan melibatkan tuduhan kejahatan serius terhadap anak-anak," kata MacIsaac.

Selain kerugian materiil akibat pembatalan jadwal panggung, musisi asal Cape Breton ini mengungkapkan adanya tekanan psikologis yang signifikan. Ia sempat merasa tidak aman untuk tampil di depan publik akibat label negatif yang muncul secara luas di hasil pencarian.

Meskipun komunitas Sipekne'katik First Nation telah meminta maaf secara terbuka, MacIsaac tetap melanjutkan proses hukum untuk menciptakan preseden bagi tanggung jawab perusahaan teknologi. Google telah menghapus ringkasan AI yang dipermasalahkan, namun tuntutan hukum tetap berjalan di pengadilan.

Artikel terkait

Rekomendasi