Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menekankan pentingnya penataan regulasi yang adil bagi pelaku usaha domestik dan pemain satelit orbit GEO dalam menghadapi gempuran satelit orbit rendah (LEO). Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference (APSAT) ke-22 pada Kamis (7/5/2026).
Dilansir dari Teknologi, industri satelit nasional saat ini menjadi pusat perhatian di kawasan Asia Pasifik karena luas wilayah kepulauan Indonesia yang sangat potensial bagi pasar satelit global. Namun, masuknya penyedia layanan konstelasi LEO menciptakan tantangan baru bagi keseimbangan kompetisi industri.
Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah, menyatakan bahwa konferensi tersebut merupakan langkah penting untuk menyelaraskan arah kebijakan industri dalam negeri dengan perkembangan teknologi dunia. Pihaknya berupaya menyatukan visi antara regulasi pemerintah dan kesiapan teknis para operator.
"ASSI berharap terjadi penggabungan peluang konkret antara kebutuhan industri dan agenda pemerintah," ujar Risdianto, Ketua Umum ASSI.
Tekanan dari pemain global yang merambah pasar Indonesia membuat ASSI menyerukan adanya kebijakan yang menjamin kesetaraan bagi semua pihak. Risdianto menilai diperlukannya evaluasi mendalam terhadap aturan main yang berlaku saat ini agar tetap relevan dengan model bisnis teknologi terbaru.
"Muncul tantangan regulasi dan kebutuhan kebijakan yang adil atau level playing field," ucap Risdianto.
Perubahan mendasar yang diusulkan mencakup penyesuaian biaya hak penggunaan (BHP) spektrum, mengingat karakteristik satelit LEO yang menambah kapasitas melalui jumlah armada satelit yang banyak. ASSI juga menyoroti potensi integrasi antara jaringan terestrial dan non-terestrial menuju era 6G.
Teknologi satelit masa depan diproyeksikan berperan sebagai pendukung infrastruktur seluler melalui skema Fixed Mobile Convergence (FMC) dan Direct-to-Device (D2D). Organisasi ini juga mendorong agar data dari konstelasi satelit internasional tetap mendarat secara resmi di wilayah Indonesia.
"Kami ingin mengubah ekosistem ini menjadi lebih segar, agile, dan inovatif, sekaligus mempertemukan dunia kampus dengan industri agar talenta muda memperoleh ruang lebih besar," pungkas Risdianto.