Atreyu Moniaga Project Dorong Seniman Muda Jakarta Lewat Inkubasi AARO

Atreyu Moniaga Project Dorong Seniman Muda Jakarta Lewat Inkubasi AARO

Program inkubasi seni Atreyu Moniaga Project (AMP) mendorong empat seniman muda untuk menerapkan pola kerja improvisatif melalui pameran bertajuk AARO di CAN’S Gallery, Jakarta, yang berlangsung hingga 11 Mei 2026. Acara ini merupakan puncak dari pendampingan intensif bagi peserta angkatan Mixed Feelings #13 yang dimulai sejak September 2024.

Dilansir dari Lifestyle, pameran tersebut menampilkan karya dari Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry. Selain mengasah teknik produksi, para peserta dibekali kemampuan manajemen proyek kreatif dan pembentukan praktik artistik untuk mempersiapkan mereka menghadapi industri seni profesional secara mandiri.

Penggagas AMP, Atreyu Moniaga, menjelaskan bahwa setiap angkatan dalam program ini memiliki metode pendampingan yang disesuaikan dengan karakter kelompoknya. Menurut penjelasannya, angkatan AARO cenderung lebih cair dan dinamis jika dibandingkan dengan peserta angkatan sebelumnya.

"Saya selalu mencoba beradaptasi sama DNA-nya mereka sebagai grup. ARO itu lebih menantang dan banyak improvisasi," ujar Atreyu Moniaga, Penggagas AMP.

Atreyu menekankan bahwa fase inkubasi merupakan langkah krusial dalam membangun daya tahan seniman di luar program. Keberagaman pendekatan visual dalam pameran ini, mulai dari figur surealis hingga lanskap spiritual, menjadi bukti dari efektivitas metode transisi menuju praktik profesional tersebut.

Salah satu peserta, Red Maerra, menampilkan karya berjudul Mla (2025) yang menggunakan teknik patchwork. Karya tersebut disusun dari kolase panel kecil yang menggabungkan figur manusia, organ tubuh, dan elemen alam sebagai representasi potongan memori.

"Patchwork itu cara aku menggambarkan gimana orang cerita, terkadang bisa acak, lompat, dan chaotic," kata Red Maerra, Seniman.

Pendekatan berbeda ditunjukkan oleh Oddyendry yang mengeksplorasi pengalaman spiritual Buddhis dengan inspirasi dari lukisan tradisional Tibet, thangka. Karya-karyanya dalam seri "Tungkal" menonjolkan detail rumit dan warna-warna ekspresif yang dipengaruhi oleh latar belakangnya di dunia fesyen.

Oddyendry menilai bahwa interaksi antarmanusia merupakan fenomena kompleks yang memiliki banyak lapisan emosional. Hal tersebut menjadi landasan bagi visualisasi karyanya yang menuntut ketelitian pengamat dalam melihat setiap detail.

"Interaksi manusia itu penuh layer, harus diringkas satu per satu," ujar Oddyendry, Seniman.

Artikel terkait

Rekomendasi