Audemars Piguet dan Swatch Luncurkan Jam Saku Kolaborasi Royal Pop

Audemars Piguet dan Swatch Luncurkan Jam Saku Kolaborasi Royal Pop

Produsen jam tangan Swatch dan merek mewah Audemars Piguet resmi meluncurkan koleksi jam saku kolaborasi bernama Royal Pop pada Sabtu, 16 Mei 2026. Perilisan global ini langsung memicu antrean panjang calon pembeli di berbagai kota besar serta menimbulkan polarisasi di kalangan kolektor horologi.

Koleksi ini menggabungkan siluet oktagonal ikonis Audemars Piguet Royal Oak tahun 1972 dengan konsep penuh warna dari lini Swatch Pop era 1980-an. Jam saku kontemporer tersebut menggunakan material biokeramik yang ramah lingkungan dan ditenagai oleh mesin mekanik otomatis SISTEM51 khas Swatch tanpa menggunakan teknologi digital.

Peluncuran ini diwarnai antrean masif di Singapura sejak Jumat, 15 Mei 2026, malam di pusat perbelanjaan Ion Orchard dan The Shoppes at Marina Bay Sands. Dilansir dari The Straits Times, para pengantre bahkan membawa kursi lipat dan selimut demi mendapatkan nomor antrean untuk membeli jam edisi terbatas yang dibanderol sekitar 400 hingga 420 dolar AS atau berkisar Rp 7 jutaan tersebut.

Untuk mengantisipasi tingginya permintaan di gerai Swatch pilihan, pihak manajemen menerapkan pembatasan ketat dengan hanya memperbolehkan satu orang membeli satu jam saku per hari. Selain itu, seluruh hasil keuntungan yang diperoleh Audemars Piguet dikabarkan akan dialokasikan untuk mendanai pelestarian seni pembuatan jam langka serta membina generasi baru talenta horologi.

Langkah berisiko merilis jam saku dengan harga terjangkau ini memicu perdebatan di industri karena dianggap berpotensi mengikis eksklusivitas merek mewah. Namun, manajemen kedua jenama menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk inovasi dan ekspresi kreatif yang berani untuk menjangkau generasi muda.

"A completely new way to wear time" kata pihak manajemen melalui bahasa peluncuran resmi mereka.

Produk kolaborasi yang hadir dalam delapan varian warna cerah ini dilengkapi tali lanyard kulit berkualitas untuk digantungkan pada pakaian atau tas. CEO Audemars Piguet menyatakan bahwa proyek ini membawa semangat keceriaan yang tinggi.

“bembodied audacity and a zest for life.” ujar Ilaria Resta, CEO Audemars Piguet.

Kendati menuai kritik dari pencinta jam tangan tradisional karena perbedaan kasta kedua merek, strategi ini dinilai positif oleh mantan petinggi perusahaan. Ia berpendapat bahwa kolaborasi massal seperti yang pernah dilakukan kompetitor justru efektif memberikan edukasi sejarah horologi tanpa merusak integritas merek utama.

“we need to change the way the industry promotes itself, and stop criticizing certain innovative strategies,” kata François-Henry Bennahmias, Mantan CEO Audemars Piguet.

Kemitraan inovatif ini dianggapnya sukses memperluas pasar ke konsumen baru. Menurutnya, respons pasar yang masif membuktikan keberhasilan formula pemasaran tersebut.

“their collaboration is a great idea, which does not affect the integrity of Omega at all, contrary to what you may have heard. Why is that? Because it educates the younger generation about the icons of watchmaking.” lanjut François-Henry Bennahmias, Mantan CEO Audemars Piguet.

Di sisi lain, seorang pengamat dari industri jam tangan mewah memproksimasi adanya potensi kekecewaan dari basis pelanggan tradisional akibat perbedaan kasta yang terlalu jauh antara Swatch dan Audemars Piguet.

“this partnership is certainly surprising and might not please valued customers of Audemars Piguet,” ungkap seorang sumber anonim, Pekerja Haute Horlogerie.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, Swatch berhasil memanfaatkan momentum budaya pop untuk menciptakan efek viral yang masif di media sosial. Pihak perusahaan pun menegaskan bahwa koleksi ini merupakan perpaduan seni horologi tingkat tinggi dengan provokasi positif.

“a disruptive collaboration that fuses joyful boldness and positive provocation with the art of haute horlogerie.” tulis manajemen dalam unggahan Instagram Swatch.

Artikel terkait

Rekomendasi