Masyarakat Perkotaan Gunakan Baby Sitter Harian sebagai Solusi Praktis

Masyarakat Perkotaan Gunakan Baby Sitter Harian sebagai Solusi Praktis

Layanan baby sitter harian kini semakin diminati masyarakat perkotaan sebagai solusi pengasuhan anak yang fleksibel di tengah padatnya aktivitas kerja dan pola hidup mandiri. Fenomena ini muncul akibat pergeseran struktur keluarga besar menuju keluarga inti yang tinggal jauh dari bantuan kerabat, sebagaimana dilansir dari Megapolitan pada Jumat (8/5/2026).

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menjelaskan bahwa kondisi sosial di kota besar memicu peningkatan permintaan jasa tersebut. Perubahan pola kerja dan berkurangnya dukungan dari keluarga besar membuat orang tua memerlukan bantuan profesional yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas tinggi mereka.

“Sekarang keluarga cenderung berbentuk keluarga inti yang hidup lebih mandiri. Jadi kehadiran baby sitter harian itu menjadi solusi praktis,” ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Rakhmat memaparkan bahwa tanggung jawab pengasuhan yang dahulu dilakukan bersama keluarga besar kini sepenuhnya menjadi beban keluarga inti. Hal tersebut diperkuat dengan banyaknya pasangan muda yang menetap di wilayah yang jauh dari jangkauan dukungan anggota keluarga lainnya.

“Jadi saya melihatnya secara sosial itu meningkatnya penggunaan jasa ini berkaitan dengan perubahan pola kerja gaya hidup perkotaan dan berkurangnya dukungan pengasuhan dari keluarga besar atau keluarga inti,” kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Selain faktor jarak, fleksibilitas layanan harian dinilai lebih unggul dibandingkan tempat penitipan anak atau daycare. Orang tua cenderung merasa lebih tenang karena anak tetap berada di lingkungan rumah sendiri saat mendapatkan pengasuhan profesional.

"Ditambah minimnya bantuan keluarga membuat jasa baby sitter harian menjadi alternatif yang dianggap paling realistis dan cepat,” ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Meskipun praktis, Rakhmat mengingatkan adanya tantangan besar terkait kepercayaan dan standar kualitas pengasuhan. Hubungan yang terbangun dalam waktu singkat memaksa orang tua untuk sangat mengandalkan reputasi serta sistem kerja penyedia jasa.

“Kepercayaan tidak lagi hanya berasal dari hubungan keluarga atau kedekatan sosial tetapi juga dari sistem kerja dan reputasi,” kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Rakhmat juga menekankan risiko terhadap kedekatan emosional anak yang harus terus beradaptasi dengan sosok pengasuh yang berganti-ganti. Kurangnya keseragaman pelatihan antar pengasuh juga menjadi catatan penting bagi para orang tua pengguna jasa.

“Karena sifatnya tidak menetap, anak harus terus beradaptasi dengan pengasuh yang mungkin berbeda-beda. Hal ini bisa mempengaruhi kedekatan emosional dan rasa aman anak,” ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Fokus utama dalam industri jasa ini menurutnya tidak hanya sekadar menjaga fisik anak, melainkan juga menjaga aspek psikologis. Keamanan dan profesionalisme harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan emosional anak di bawah pengawasan orang asing.

“Oleh karena itu, saya melihatnya bahwa tantangan utamanya bukan hanya soal menjaga anak tapi juga bagaimana membangun hubungan kerja yang aman, profesional dan tetap memperhatikan kebutuhan emosional anak,” tutur Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.

Seorang orang tua, Safina, mengaku menggunakan layanan pengasuh per jam ini untuk mendapatkan waktu pribadi di sela rutinitas. Ia merasa lebih nyaman dengan sistem ini karena tidak menginginkan adanya orang asing yang tinggal menetap di dalam kediamannya.

“Saya memilih baby sitter harian karena saya sebenarnya enggak nyaman ada orang asing tinggal menetap di rumah,” ujar Safina, Orang Tua.

Safina menggunakan jasa ini saat harus menghadiri rapat atau berolahraga demi menjaga kesehatan mentalnya sebagai ibu rumah tangga. Ia juga memanfaatkan teknologi pemantauan jarak jauh untuk memastikan keamanan anaknya selama diasuh oleh tenaga harian.

“Kedengarannya mungkin sepele, tapi buat ibu yang hampir setiap hari sama anak terus, punya waktu dua atau tiga jam buat diri sendiri itu cukup penting,” kata Safina, Orang Tua.

Biaya yang lebih efisien dibandingkan pengasuh bulanan menjadi alasan tambahan bagi Safina dalam memilih layanan harian. Ia tetap mengutamakan faktor kecocokan antara anak dan pengasuh sebelum memberikan kepercayaan penuh.

“Di rumah juga saya pasang CCTV jadi bisa tetap saya pantau,” ucap Safina, Orang Tua.

Pengguna jasa lainnya, Erina, terbantu oleh kehadiran baby sitter harian saat ia harus bekerja dari rumah. Bantuan tersebut memungkinkan dirinya tetap produktif tanpa harus mengabaikan perhatian yang dibutuhkan oleh sang buah hati.

“Kehadiran baby sitter harian bikin saya bisa kerja lebih tenang tanpa merasa anak terabaikan. Walaupun cuma beberapa jam, itu cukup membantu,” kata Erina, Orang Tua.

Erina menegaskan kriteria pengasuh yang ia cari adalah sosok yang komunikatif dan sabar. Baginya, layanan ini hanyalah pendukung sementara dan tidak akan pernah menggantikan peran utama orang tua dalam mendidik anak.

“Yang paling penting tentu rasa aman dan cocok dengan anak. Saya lebih memilih baby sitter yang komunikatif, sabar, dan mau mengikuti aturan orangtua,” ujar Erina, Orang Tua.

Ia memandang pengasuh harian sebagai solusi saat dirinya berada dalam kondisi mendesak. Kerja sama yang baik antara orang tua dan pengasuh menjadi kunci keberhasilan metode pengasuhan tambahan ini.

“Pengasuh bagi saya lebih sebagai bantuan saat dibutuhkan, bukan yang sepenuhnya menggantikan peran orangtua sehari-hari,” kata Erina, Orang Tua.

Dari sisi penyedia jasa, Siti Maryam menawarkan layanan pengasuhan dengan tarif mulai dari Rp 30.000 per jam. Maryam mengawali kariernya setelah konten kegiatannya menjaga pasien anak di rumah sakit menarik perhatian banyak orang di media sosial.

“Awalnya jagain pasien anak-anak saya up video di tiktok, dari video tersebut banyak yang tanya bisa enggak jagain anak-anak tapi bukan sakit, jadi dari situ orderan baby sitter mulai masuk,” ujar Siti Maryam, Penyedia Jasa.

Dalam sehari, Maryam mampu bekerja hingga 10 jam untuk melayani beberapa pelanggan yang berbeda. Fleksibilitas waktu menjadi alasan utamanya memilih profesi ini agar tetap bisa mengurus kebutuhan anak kandungnya sendiri di rumah.

“Karena waktunya fleksibel, saya juga ada anak di rumah, jadi pagi masih bisa anter anak sekolah, baru mulai job,” kata Siti Maryam, Penyedia Jasa.

Permintaan jasa pengasuhan ini biasanya mencapai puncaknya pada akhir pekan dari waktu subuh hingga tengah malam. Maryam menyatakan bahwa kejujuran dan kasih sayang merupakan prinsip utama yang ia pegang dalam bekerja.

“Weekend paling ramai, bisa full dari habis subuh sampai tengah malam,” ujar Siti Maryam, Penyedia Jasa.

Meskipun profesi ini menuntut fisik yang kuat, Maryam mengaku tetap bersemangat karena bisa bertemu dengan banyak orang baru. Ia mengelola jasanya di bawah nama Myambu Caregiver, yang terinspirasi dari kata bahasa Sunda untuk sebutan ibu.

“Utamanya jujur, layani anak-anak mereka seperti anak sendiri, dijaga dengan sepenuh hati, buat anak-anak merasa nyaman di dekat saya,” katanya Siti Maryam, Penyedia Jasa.

Maryam berkomitmen untuk terus memberikan perhatian maksimal kepada setiap anak yang ia asuh layaknya seorang ibu kandung. Ia mensyukuri penghasilan yang didapat dari profesi yang ia jalani dengan penuh kegembiraan tersebut.

“Capek pasti, kalo tertekan enggak, di bawa happy aja, sambil beryukur bisa punya penghasilan, bisa ketemu orang-orang baru. Kalau pusing lelah, ya minum kopi aja,” ucap Siti Maryam, Penyedia Jasa.

Artikel terkait

Rekomendasi