Peneliti dari Kyoto University mengajukan hipotesis mengenai keterkaitan aktivitas badai Matahari terhadap pemicuan gempa bumi melalui gangguan elektromagnetik pada lapisan ionosfer. Temuan yang dipublikasikan pada Jumat, 8 Mei 2026, ini menjelaskan bahwa perubahan medan listrik di atmosfer atas dapat menjalar hingga ke kerak Bumi.
Mekanisme ini melibatkan peningkatan kepadatan elektron di ionosfer hingga puluhan satuan TEC saat terjadi suar Matahari yang intens. Kondisi tersebut menciptakan tekanan elektrostatik pada zona patahan aktif yang mengandung fluida superkritis, sehingga mempercepat pelepasan energi pada sistem tektonik yang sudah tidak stabil.
Para peneliti mengidentifikasi bahwa zona patahan di dalam kerak Bumi berfungsi layaknya kapasitor raksasa yang menghubungkan permukaan tanah dengan atmosfer. Berdasarkan perhitungan tim, tekanan elektrostatik yang dihasilkan mampu mencapai angka beberapa megapascal, setara dengan pengaruh gravitasi atau pasang surut.
Komunitas ilmiah memberikan tanggapan beragam terhadap model teoritis ini karena perbedaan skala energi antara radiasi surya dan pergerakan lempeng tektonik. Laporan dari Live Science menekankan bahwa aktivitas tektonik murni tetap menjadi faktor paling dominan dalam setiap peristiwa seismik.
"Efek ini tidak cukup kuat untuk menciptakan gempa dari awal. Namun, jika suatu patahan sudah berada dalam kondisi kritis, gangguan tersebut dapat mempercepat terjadinya gempa," tulis peneliti dalam studi tersebut.
Pihak universitas menegaskan bahwa fenomena ini belum dapat dijadikan instrumen prediksi bencana yang akurat secara mandiri. Meskipun demikian, pola korelasi sempat teramati pada peristiwa gempa Semenanjung Noto di Jepang tahun 2024 yang terjadi setelah periode aktivitas Matahari yang tinggi.
Selain potensi dampak seismik, angin matahari yang membawa aliran elektron dan proton dari korona Matahari juga memiliki dampak langsung terhadap infrastruktur manusia. Partikel bermuatan tersebut dapat mengganggu fungsi satelit, navigasi GPS, hingga memicu arus listrik berlebih pada jaringan transmisi di permukaan Bumi.
| Aspek Penelitian | Keterangan |
|---|---|
| Sumber Utama | Kyoto University |
| Pemicu | Badai Geomagnetik / Gangguan Ionosfer |
| Dampak pada Bumi | Tekanan elektromagnetik pada patahan aktif |
| Status Prediksi | Belum bisa digunakan sebagai alat prediksi resmi |
Tim peneliti selanjutnya berencana mengintegrasikan data tomografi ionosfer berbasis GNSS untuk memetakan kapan gangguan atmosfer atas memberikan efek signifikan pada kerak Bumi. Pemantauan ini dianggap krusial seiring dengan meningkatnya ketergantungan manusia pada teknologi berbasis satelit dan komunikasi radio jarak jauh.