Peneliti dari Universitas Kyoto mengungkapkan temuan ilmiah pada Kamis, 7 Mei 2026, yang menghubungkan fenomena badai Matahari dengan kemunculan gempa Bumi melalui pergeseran muatan ionosfer. Studi ini menguraikan bagaimana gangguan atmosfer atas akibat aktivitas matahari mampu meningkatkan tekanan elektrostatis pada zona patahan di kerak Bumi.
Mekanisme fisik ini melibatkan wilayah kerak Bumi yang retak dan mengandung air dengan suhu serta tekanan tinggi. Berdasarkan laporan Science Daily, zona patahan tersebut berfungsi sebagai kapasitor elektrik yang menghubungkan permukaan tanah dengan lapisan ionosfer bawah dalam satu sistem elektrostatis yang luas.
Hasil perhitungan tim menunjukkan bahwa aktivitas matahari dapat meningkatkan kandungan elektron hingga puluhan satuan TEC. Kondisi ini menciptakan tekanan elektrostatis mencapai beberapa megapaskal pada rongga kerak Bumi, yang menjadi faktor pendorong terjadinya patahan saat tekanan sudah menumpuk.
Data penelitian mencatat anomali ionosfer sebelum bencana terjadi, termasuk lonjakan kepadatan elektron dan penurunan ketinggian ionosfer. Fenomena ini teramati pada beberapa gempa besar di Jepang, salah satunya peristiwa di Semenanjung Noto pada 2024 yang terjadi segera setelah aktivitas suar matahari intens.
Selain fenomena alam global, catatan sejarah juga menyoroti Bir Tawil, sebuah wilayah seluas 2.060 km persegi di perbatasan Mesir dan Sudan yang tidak diklaim oleh negara mana pun. Ketidakjelasan status ini berawal dari perbedaan peta perbatasan versi 1899 dan 1902 yang dikeluarkan Inggris, menyebabkan kedua negara saling tolak demi memperebutkan wilayah Segitiga Hala'ib.
Meskipun sering dianggap sebagai gurun kosong tanpa hukum dan pemerintahan, penelitian dari Pusat Studi Austronesia Universitas Lancashire menemukan adanya aktivitas ekonomi di sana. Peneliti rekanan Dean Karalekas mengonfirmasi keberadaan perkemahan permanen dan tambang emas industri di wilayah tersebut.
"Jauh dari sekadar hamparan gurun yang tidak berpenghuni, suatu bangsa yang disebut Ababda telah mendiami daerah itu setidaknya sejak zaman Kekaisaran Romawi," tulis Dean Karalekas, peneliti rekanan di Pusat Studi Austronesia Universitas Lancashire.
Karalekas menambahkan bahwa kawasan tersebut memiliki infrastruktur dasar seperti bilik telepon dan alat penukar uang meski bangunannya sederhana. Aktivitas pertambangan di lokasi tersebut melibatkan peralatan canggih dari ekskavator hingga pemisah industri.
"Berkisar dari pencari emas independen yang bekerja dengan detektor logam portabel kecil, hingga operasi penggalian tingkat industri yang canggih, dengan ekskavator, bor, trammel, dan pemisah," ungkap Dean Karalekas.
Kekosongan klaim kedaulatan mendorong sejumlah individu mencoba mendirikan negara sendiri di Bir Tawil, termasuk warga Amerika Serikat bernama Jeremiah Heaton. Dilansir dari World Atlas, Heaton memproklamasikan "Kerajaan Sudan Utara" demi memenuhi keinginan putrinya untuk menjadi putri kerajaan.
"Sejauh ini, Bir Tawil adalah tempat yang kosong," kata John Elledge, jurnalis dalam bukunya A History of the World in 47 Borders.
Upaya Heaton tersebut menuai kritik tajam dari komunitas internasional yang menganggap tindakannya sebagai bentuk imperialisme modern. Hingga saat ini, Bir Tawil tetap menjadi salah satu dari sedikit wilayah di dunia yang berstatus terra nullius atau tanah tak bertuan secara hukum internasional.