Umat Islam Kumandangkan Takbir Idul Adha Hingga Akhir Hari Tasyrik

Umat Islam Kumandangkan Takbir Idul Adha Hingga Akhir Hari Tasyrik

Lantunan takbir yang menggema menjelang Idul Adha menjadi bagian penting bagi umat Islam dalam menyambut hari raya kurban dengan semangat ibadah dan ungkapan syukur kepada Allah SWT. Pembacaan takbir ini merupakan amalan yang dianjurkan dalam merayakan kebesaran Allah SWT.

Umat Islam dianjurkan untuk bertakbir pada Hari Raya Idul Adha sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah dan Al-Hajj. Allah SWT berfirman:

۞ ... وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ

Artinya: "Berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. " (QS. Al Baqarah: 203)

كَذٰلِكَ Sَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: "Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu." (QS. Al Hajj: 37)

Dikutip dari Detikcom melalui kitab Fiqh as-Sunnah oleh Sayyid Sabiq terjemahan Khairul Amru Harahap, hukum mengumandangkan takbir pada Hari Raya Idul Adha adalah sunnah. Amalan ini dilangsungkan selama lima hari, mulai dari Subuh hari Arafah pada 9 Zulhijah hingga petang hari terakhir tasyrik yaitu tanggal 13 Zulhijah.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari mengungkapkan bahwa tidak terdapat hadits yang langsung berasal dari Rasulullah SAW mengenai ketetapan waktu tersebut. Kendati demikian, riwayat terkuat mengenai pembatasan ini bersumber dari sahabat Ali dan Ibnu Mas'ud.

Melalui riwayat Ibnu Mundzir dan perawi lainnya, mereka menyatakan bahwa takbir Idul Adha dimulai sejak Subuh hari Arafah sampai waktu Asar pada hari terakhir di Mina. Pandangan ini disetujui oleh Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad, serta sahabat Umar bin Khattab dan Ibnu Abbas.

Mengenai ketetapan waktunya, umat Islam dapat melantunkan takbir kapan saja sepanjang hari-hari tasyrik tanpa adanya batasan waktu tertentu. Imam Bukhari mencatat bahwa Umar bin Khattab pernah bertakbir di dalam tendanya di Mina, yang kemudian diikuti oleh orang-orang di masjid dan pasar.

Sementara itu, Ibnu Umar terbiasa melantunkan takbir dalam berbagai situasi untuk menunjukkan kebebasan dalam mengamalkannya. Beliau mengumandangkan takbir setelah menunaikan salat, saat sedang berbaring, duduk, berjalan, hingga ketika berada di dalam kemah.

Jadwal Batas Akhir Takbiran dan Kurban 2026

Kementerian Agama melalui hasil sidang isbat menetapkan bahwa tanggal 1 Zulhijah jatuh pada Senin 18 Mei 2026. Berdasarkan keputusan tersebut, hari raya Idul Adha yang bertepatan dengan 10 Zulhijah jatuh pada hari Rabu 27 Mei 2026.

Merujuk pada ketetapan tersebut, gema takbir Idul Adha telah berlangsung sejak Selasa 26 Mei 2026. Masa mengumandangkan takbir ini berakhir pada hari ini Sabtu, 30 Mei 2026, yang bertepatan dengan tanggal 13 Zulhijah 1447 H.

Tanggal 13 Zulhijah sendiri merupakan hari terakhir dalam fase hari Tasyrik. Momentum ini tidak hanya menjadi batas akhir berkumandangnya takbir, melainkan juga menandai batas akhir pelaksanaan pemotongan hewan kurban.

Lafaz Bacaan Takbir Idul Adha

Terdapat pilihan lafaz yang dapat diamalkan oleh umat Islam dalam bertakbir. Berdasarkan buku Panduan Praktis Salat Wajib & Sunah karya Abdul Bakir, berikut adalah bacaan takbir Idul Adha dalam versi pendek:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Bacaan latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamdu

Artinya: "Allah Mahabesar , Allah Mahabesar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan bagi Allah segala pujian."

Selain versi di atas, umat Islam juga dapat mengumandangkan takbir Idul Adha dengan lafaz yang lebih panjang berikut ini:

اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرَ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْد

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً,

لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعZَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Bacaan latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamdu 3x. Allaahu akbar kabiira wal hamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukrataw wa ashiila. Laa ilaaha illallaahu wa laa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahud diina wa lau karihal kaafiruun. Laa ilaaha illallaahu wahdahu, shadaqa wa'dahu, wa nasara 'abdahu, wa a'azza jundahu wa hazamal ahzaaba wahdahu. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil hamdu.

Artinya: "Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, dan segala puji bagi Allah. Allah Mahabesar dan Mahaagung dan segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah pada pagi dan petang, tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang kami sembah kecuali hanya Allah, dengan ikhlas kami beribadah kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tidak ada Tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, benar janji-Nya, Maha Penolong kepada hamba-Nya dan Dia mengusir musuh nabi-nabi-Nya dengan sendiri-Nya, tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dan bagi-Nya segala puji."

Artikel terkait

Rekomendasi