Di mana batas antara menyimpan kenangan dan kebiasaan menumpuk barang, serta mungkinkah keduanya diolah menjadi sesuatu yang lebih bermakna?
Banyak dari kita meyakini bahwa setiap barang lama menyimpan cerita. Ia bukan sekadar benda, melainkan penanda waktu jejak dari peristiwa, orang, dan kenangan yang pernah hadir dalam hidup.
Tak jarang, karena alasan itulah seseorang memilih menyimpan barang-barang tersebut dalam waktu yang lama, bahkan mengabadikannya di ruang khusus.
Namun, siapa sangka, kebiasaan menyimpan itu dalam kondisi tertentu dapat mengarah pada sesuatu yang lebih serius, seperti hoarding disorder.
Ketika berbicara tentang barang lawas dan kenangan, ingatan saya selalu kembali pada satu sosok dalam keluarga seorang laki-laki yang sejak kecil saya panggil Pakde. Ia dikenal sebagai pribadi yang sangat menyukai barang-barang lama, bahkan sejak usia muda.
Ketertarikan itu semakin kuat setelah kepergian orang tuanya. Sejak saat itu, Pakde mulai mengumpulkan dan merawat berbagai benda peninggalan. Mulai dari radio lawas era 1980-an, kaset, keris, patung, tas kulit, lampu klasik, hingga lukisan dan topeng. Semua dirawat dengan telaten, dibersihkan, dan dijaga seperti sesuatu yang sangat berharga.
Seiring waktu, koleksinya terus bertambah. Setiap kali mendapatkan barang baru, Pakde selalu memperlihatkannya dengan penuh kebanggaan. Bagi kami, itu sempat terasa seperti hobi yang wajar bagian dari kecintaan terhadap benda-benda bernilai sejarah.
Antara Kenangan dan Kebiasaan Menyimpan
Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara “barang kenangan” dan “barang kesayangan” mulai menjadi kabur. Koleksi yang awalnya berasal dari peninggalan keluarga, perlahan bercampur dengan barang-barang yang dibeli karena ketertarikan semata.
Rumah Pakde pun mulai dipenuhi berbagai benda. Ruang gerak semakin terbatas, dan ketika kapasitas rumah tidak lagi mencukupi, sebagian barang bahkan sempat dialihkan ke rumah anggota keluarga lain.
Di titik ini, reaksi keluarga mulai berubah. Rasa tidak nyaman muncul, bukan karena tidak menghargai kecintaan Pakde terhadap barang lama, melainkan karena dampak yang mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, setiap kali diingatkan untuk mengurangi barang, respons yang muncul justru berupa penolakan, bahkan emosi. Dari situlah keluarga mulai menyadari bahwa situasi ini mungkin lebih dari sekadar hobi.
Memahami Hoarding Disorder
Setelah melalui proses diskusi dan pemeriksaan, perilaku tersebut akhirnya mengarah pada diagnosis hoarding disorder.
Secara sederhana, kondisi ini merujuk pada kecenderungan menyimpan barang secara berlebihan, sering kali disertai keyakinan bahwa barang tersebut memiliki nilai penting baik sebagai kenangan, potensi kegunaan di masa depan, maupun sumber rasa aman.
Beberapa tanda yang terlihat antara lain kesulitan membuang barang, bahkan yang sudah tidak layak pakai; munculnya kecemasan atau kemarahan ketika ada upaya untuk mengurangi barang; hingga kondisi rumah yang tidak lagi berfungsi optimal karena dipenuhi barang.
Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik seperti ruang yang sempit atau kualitas udara yang menurun, tetapi juga secara emosional. Suasana rumah bisa menjadi lebih tegang, dan interaksi antaranggota keluarga ikut terpengaruh.
Menariknya, kondisi ini tidak selalu berakar pada gangguan psikologis yang berat. Dalam beberapa kasus, ia bisa tumbuh dari kebiasaan yang dibiarkan, atau dari rasa nyaman yang muncul ketika dikelilingi oleh barang-barang tertentu.
Mencari Jalan Tengah
Meski demikian, kondisi seperti ini bukan tanpa solusi. Salah satu hal penting yang kami pelajari adalah bahwa penanganannya tidak bisa dilakukan secara sepihak. Dibutuhkan pendekatan yang melibatkan empati, komunikasi, dan kerja sama keluarga.
Dalam pengalaman kami, ada tiga langkah yang dilakukan secara bertahap. Pertama, memilah barang yang masih layak untuk disumbangkan kepada orang lain.
Kedua, menjual sebagian barang yang memiliki nilai ekonomis. Ketiga, memanfaatkan barang-barang tertentu untuk kebutuhan lain yang lebih fungsional.
Di sinilah muncul ide yang tidak terduga: menjadikan sebagian koleksi tersebut sebagai elemen pendukung sebuah toko buku kecil milik keluarga.
Dari Tumpukan Barang Menjadi Ruang Bermakna
Ruang yang awalnya kosong kemudian diisi dengan barang-barang pilihan. Beberapa dijadikan hiasan dinding, lampu, meja kecil, hingga ornamen yang memperkuat suasana ruang. Perlahan, tempat tersebut berkembang menjadi ruang baca dengan nuansa retro yang hangat dan berbeda.
Bagi Pakde, ini menjadi cara untuk tetap merawat barang-barang yang ia cintai, tanpa harus menyimpannya secara berlebihan di rumah. Sementara bagi keluarga, ini menghadirkan solusi yang lebih seimbang.
Menariknya, kehadiran barang-barang tersebut justru menambah daya tarik ruang. Beberapa pengunjung bahkan tertarik untuk membeli sebagian koleksi, sehingga barang-barang tersebut kembali memiliki nilai guna yang baru.
Apa yang semula dianggap sebagai beban, perlahan berubah menjadi “benih” yang memberi manfaat, baik secara emosional maupun ekonomi.
Belajar dari Pengalaman
Dari pengalaman ini, kami menyadari bahwa kunci utama dalam menghadapi situasi serupa adalah dukungan keluarga. Pendekatan yang hangat dan saling memahami jauh lebih efektif dibandingkan sekadar larangan atau penolakan.
Menjaga keseimbangan antara menghargai kenangan dan menjaga kualitas hidup menjadi hal yang penting. Tidak semua barang harus disimpan, tetapi tidak semua juga harus dilepaskan tanpa pertimbangan.
Pada akhirnya, pengalaman ini mengajarkan bahwa di balik tumpukan barang, ada cerita yang perlu dipahami. Dan ketika dikelola dengan bijak, cerita itu justru bisa menemukan bentuk baru yang lebih bermakna.
Kini, membaca buku di antara barang-barang lawas itu menghadirkan suasana yang berbeda. Ada rasa tenang, ada nostalgia, dan ada kebahagiaan sederhana yang sulit dijelaskan.