Sektor teknologi global menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada tahun 2026, namun perusahaan raksasa justru secara signifikan meningkatkan alokasi anggaran untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna menjaga efisiensi operasional.
Dilansir dari Tekno, Meta telah merumahkan sekitar 10 persen tenaga kerjanya di saat yang bersamaan dengan peningkatan belanja modal AI yang diproyeksikan mencapai angka antara 125 hingga 145 miliar dollar AS.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, memberikan penjelasan mengenai arah kebijakan perusahaan yang menempatkan teknologi sebagai alat penunjang kinerja manusia di masa depan.
"orang akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya." kata Zuckerberg, CEO Meta.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan Reuters yang menyoroti langkah Meta dalam memangkas beban biaya personel demi membiayai infrastruktur digital yang lebih canggih.
Fenomena ini kerap dipandang sebagai strategi restrukturisasi organisasi, di mana AI digunakan sebagai justifikasi untuk melakukan perampingan jumlah karyawan di berbagai departemen.
Chief AI Officer Cognizant, Babak Hodjat, mengungkapkan bahwa narasi mengenai kemajuan teknologi sering kali digunakan untuk menutupi kebutuhan mendasar perusahaan dalam melakukan efisiensi finansial.
"Terkadang AI menjadi kambing hitam dari sisi finansial. Ini bisa terjadi ketika perusahaan merekrut terlalu banyak atau ingin merampingkan organisasi," kata Hodjat kepada TechSpot.
Data industri menunjukkan sekitar 20 persen kasus PHK di sektor teknologi sepanjang tahun 2026 berkaitan dengan integrasi AI, meskipun para analis melihat hal ini lebih sebagai penataan ulang alur kerja.
Analis dari perusahaan bisnis RationalFX, Alan Cohen, menegaskan bahwa industri saat ini sedang menjalani proses transformasi fundamental pada sistem kerja mereka.
"Sektor teknologi sedang direorganisasi secara fundamental di sekitar workflow yang lebih efisien berbasis teknologi," kata Cohen, Analis RationalFX.
Di sisi lain, terdapat optimisme mengenai dampak jangka panjang dari penggunaan alat otomatisasi ini terhadap penciptaan lapangan kerja baru melalui peningkatan permintaan pasar.
Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, memberikan pandangan melalui teori ekonomi klasik mengenai efisiensi yang justru memicu ekspansi bisnis.
"Jevons Paradox" sebut Slok, Ekonom Apollo Global Management.
Google juga mencatat dampak positif dari penggunaan AI dalam lingkup internal mereka, terutama pada efisiensi divisi teknis yang membantu perusahaan mencapai target output lebih cepat.
CEO Google, Sundar Pichai, mengonfirmasi bahwa penerapan teknologi ini telah mendongkrak kinerja para pengembang aplikasi di perusahaannya.
"ukuran tim ideal" sebut Susan Li, CFO Meta.
Angka produktivitas engineer di Google dilaporkan meningkat sekitar 10 persen berkat adopsi AI, sementara manajemen Meta mengakui masih terus bereksperimen untuk menemukan keseimbangan jumlah staf yang optimal dalam ekosistem kerja baru ini.