Ada sebuah titik balik yang membuat Bill Gates tega menyebut Elon Musk sebagai sosok yang 'super jahat' dan merasa bahwa sang CEO Tesla tidak bisa dianggap 'terlalu pribadi'. Pernyataan tajam ini muncul dalam biografi Elon Musk karya Walter Isaacson yang dirilis tahun 2023, mengungkap tabir salah satu perseteruan paling tersohor di jagat teknologi.
Akar Konflik di Pasar Saham
Ketegangan antara dua tokoh paling berpengaruh di dunia ini tidak muncul begitu saja. Benih perselisihan bermula ketika Gates mengambil posisi short selling terhadap Tesla, sebuah langkah finansial yang secara langsung bertaruh pada kegagalan perusahaan mobil listrik tersebut. Sejak saat itu, hubungan mereka berubah menjadi panggung bentrokan publik yang melibatkan isu iklim, aktivitas filantropi, hingga bantuan global.
Bill Gates secara terbuka mengakui kepada Isaacson bahwa ia memang melakukan short selling saham Tesla. Tindakan ini memicu kemarahan besar dari Elon Musk. Dalam sebuah pertukaran pesan teks pribadi yang akhirnya bocor ke publik, Musk secara langsung menanyakan apakah Gates masih memegang posisi short selling senilai USD 500 juta terhadap perusahaannya.
"Maaf, saya belum menutupnya. Saya ingin membahas kemungkinan filantropi," balas Bill Gates, Pendiri Microsoft.
Permintaan Gates untuk mendiskusikan kerja sama kemanusiaan tersebut justru menemui jalan buntu. Musk yang sudah merasa dikhianati oleh manuver pasar modal Gates, memberikan jawaban yang menutup pintu dialog tersebut dengan tegas.
"Maaf, saya tidak dapat menganggap serius filantropi Anda tentang perubahan iklim ketika Anda memiliki posisi short selling besar-besaran terhadap Tesla, perusahaan yang paling banyak berupaya untuk mengatasi perubahan iklim," ujar Elon Musk, CEO Tesla.
Dari Finansial Menuju Serangan Pribadi
Perselisihan ini tidak berhenti pada perdebatan angka dan moralitas lingkungan. Tak lama setelah percakapan tersebut, Musk membalas di media sosial dengan mengunggah sebuah meme yang mengejek penampilan fisik Gates. Langkah ini menandai pergeseran konflik dari yang semula bersifat masalah keuangan profesional menjadi serangan yang jauh lebih personal di mata publik.
Hingga tahun lalu, ketegangan ini masih terasa membara. Elon Musk sempat melontarkan peringatan keras melalui sebuah unggahan yang menyebutkan bahwa Bill Gates mungkin akan mengalami kerugian besar hingga bangkrut jika Tesla berhasil menjadi perusahaan paling berharga di dunia. Hal ini kembali memantik ingatan publik atas posisi investasi Gates yang berlawanan dengan raksasa kendaraan listrik tersebut.
Strategi short selling yang dilakukan Gates sendiri merupakan metode di mana investor meminjam saham untuk dijual dengan harapan harga akan turun, sehingga mereka bisa membelinya kembali dengan harga lebih murah demi meraup keuntungan. Namun bagi Musk, langkah ini bukan sekadar strategi pasar, melainkan penghinaan terhadap visi masa depan hijau yang tengah ia bangun.