PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) memaparkan sepuluh pola perilaku impulsif masyarakat melalui eksperimen sosial bertajuk Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang (JEDA). Program yang dilansir dari Teknologi ini berlangsung sejak 19 Februari hingga 31 Maret 2026 dengan melibatkan 158.000 partisipan.
Inisiatif tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya kasus penipuan digital di Indonesia. Indonesia Anti Scam Center mencatat 432.637 aduan dengan kerugian mencapai Rp9,1 triliun sejak November 2024 hingga Januari 2026. Selain itu, Survei APJII 2025 melaporkan 22,12 persen pengguna internet pernah menjadi korban penipuan daring.
Head of PR Blibli Nazrya Octora menegaskan perlunya kolaborasi berkelanjutan untuk memperkuat literasi digital agar konsumen lebih kritis. Kejernihan berpikir dinilai menjadi faktor utama dalam menentukan kualitas keputusan di ruang digital.
“Hal ini sejalan dengan upaya perlindungan konsumen yang terus digaungkan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat,” kata Nazrya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Nazrya menambahkan bahwa ekosistem digital yang aman sangat bergantung pada kebiasaan pengguna dalam mengolah informasi. Pilihan untuk berhenti sejenak dianggap sebagai langkah awal menuju keputusan yang lebih baik.
“Di tengah arus informasi yang serba cepat, kita selalu punya pilihan untuk berhenti sejenak, karena keputusan yang lebih baik dimulai dari ruang jeda. Mari mulai dengan jeda10detik.com–Jangan reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang,” tegas Nazrya.
Eksperimen JEDA menemukan bahwa konten clickbait menjadi pemicu utama impulsivitas, terutama pada kelompok Baby Boomers dengan tingkat klik 7,06 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok Gen Z yang hanya mencatatkan 3,43 persen.
Data geografis menunjukkan warga Jakarta paling responsif terhadap dorongan impulsif dengan tingkat klik 7,81 persen. Perilaku ini mayoritas terjadi pada jam sibuk serta periode tertentu seperti awal Ramadan dan libur Lebaran.
Psikolog Irma Gustiana menjelaskan bahwa penggunaan gamifikasi dalam eksperimen ini efektif membantu pengguna melatih kendali diri. Aktivitas ringan yang berulang dapat mengalihkan dorongan impulsif menjadi kegiatan yang terkendali.
“Dengan mengalihkan energi impulsif menjadi aktivitas yang memuaskan secara kognitif, kita sebenarnya sedang melatih kendali diri dengan cara yang menyenangkan,” ujar Irma.
Irma juga menekankan pentingnya melakukan aktivitas mindful untuk menciptakan ketenangan pikiran dalam waktu singkat. Sekitar 70 persen responden mengaku merasa lebih tenang setelah mengambil jeda selama sepuluh detik.
“Ketenangan itu bukan soal berapa lama, tapi seberapa terasa. Kalau sekali main sudah membuat ‘lega’, artinya tujuan mindful-nya berhasil,” tambah Irma.
Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menyambut positif temuan ini. Menurutnya, kemampuan berhenti sejenak adalah komponen krusial dalam literasi digital masa kini.
“Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital. Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian,” ujar Bonifasius.
Direktorat Pemberdayaan Konsumen mencatat mayoritas pengaduan konsumen berasal dari transaksi daring. Hingga Desember 2025, terdapat 7.836 aduan atau 99,35 persen dari total laporan yang masuk ke pihak berwenang.
| Jenis Transaksi | Jumlah Aduan | Persentase |
|---|---|---|
| Transaksi Online | 7.836 | 99,35% |
| Transaksi Offline | 32 | 0,40% |
| Isu Lainnya | 19 | 0,24% |
Direktur Pemberdayaan Konsumen Ditjen PKTN Kementerian Perdagangan, Immanuel Sibero Tarigan, mendorong perubahan perilaku konsumen sebagai benteng perlindungan. Ia menilai prinsip kritis sebelum membeli sangat relevan dengan kampanye perlindungan konsumen nasional.