BRIN Gunakan Agentic AI Guna Tingkatkan Akurasi Prediksi Cuaca Antariksa

BRIN Gunakan Agentic AI Guna Tingkatkan Akurasi Prediksi Cuaca Antariksa

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadopsi teknologi agentic AI untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan prediksi cuaca antariksa. Penggunaan kecerdasan buatan ini diperkenalkan dalam kolokium mingguan Pusat Riset Antariksa bertajuk LINEAR pada Rabu (13/5/2026) guna mengatasi keterbatasan metode konvensional.

Dilansir dari Detik iNET, Peneliti Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan bahwa meskipun agentic AI berkembang pesat, terdapat tantangan signifikan jika hanya mengandalkan teknologi tersebut sepenuhnya. Salah satu kendala utama yang diidentifikasi adalah batasan memori pada model bahasa besar (LLM) yang digunakan.

"Kadang kalau misalnya saya pribadi pakai Gemini pagi, siang menjelang sore agak ngaco karena LLM ada context windows, jadi dia akan mengingat ada tokennya. Ada batasan dalam mengingat apa yang sudah dia kerjakan," terangnya Tiar Dani, Peneliti Riset Antariksa Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN).

Kecenderungan AI untuk berhalusinasi tanpa batasan yang jelas membuat keterlibatan manusia tetap krusial dalam memberikan unsur subjektivitas. Meski demikian, otomatisasi ini diklaim mempermudah kerja ilmuwan dibandingkan metode riset terdahulu yang memakan waktu lama dan proses yang lebih rumit.

Pekerjaan prediksi cuaca antariksa di Indonesia telah bertransformasi dari format buletin cetak pada 2013 menjadi ekosistem digital terintegrasi sejak 2015. Saat ini, BRIN mengelola Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) sebagai bagian dari International Space Environment Service (ISES).

Sistem terbaru yang dikembangkan, yakni Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI), dirancang untuk bekerja secara otomatis dalam mencari data matahari. Teknologi ini memanfaatkan LLM Gemini 2.5 Flash dengan aturan data yang ketat untuk menekan potensi kesalahan informasi.

"Dibangun dengan cara kerja sesuai di riset-riset antariksa, dengan memanfaatkan model-model dengan skema agentic tadi, kami membuat SWx AI untuk mencari data otomatis Matahari dan melihat prediksi dengan berbagai cara," ujar Tiar Dani, Peneliti Riset Antariksa Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN).

Sistem ini dirancang untuk melakukan ringkasan data sekaligus membatasi data temporal guna menjaga validitas hasil prediksi. Penerapan aturan deterministik menjadi kunci dalam memastikan AI bekerja sesuai koridor riset antariksa yang telah ditetapkan oleh tim ahli.

"Mulai melihat gambar, melakukan summary, tujuannya menghindari halusinasi di desain dengan cara membatasi data temporal dan aturan-aturan yang sifatnya deterministic," sambung Tiar Dani, Peneliti Riset Antariksa Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN).

Guna menjamin ketepatan hasil peramalan, SWx AI fokus mengolah data yang terkumpul dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Langkah ini diambil BRIN untuk mengurangi beban kerja forecaster sekaligus meminimalisir risiko halusinasi pada sistem kecerdasan buatan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi