BRIN Kembangkan SWx AI untuk Prediksi Cuaca Antariksa

BRIN Kembangkan SWx AI untuk Prediksi Cuaca Antariksa

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI) untuk mempercepat prediksi cuaca antariksa secara otomatis dan valid pada Rabu (13/5/2026). Teknologi berbasis agentic AI ini dirancang untuk mengatasi tantangan masa habis data yang sangat singkat.

Pengembangan sistem ini bertujuan meningkatkan akurasi prakiraan cuaca di Indonesia dengan mengolah data yang diperbarui setiap 24 jam. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, SWx AI mengintegrasikan teknologi Large Language Model (LLM) Gemini 2.5 Flash untuk mendukung efisiensi kerja para analis.

Peneliti Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan bahwa sistem ini bekerja dengan mengambil 13 parameter data spesifik dari berbagai lembaga internasional. Data tersebut mencakup aktivitas matahari, kecepatan angin surya, hingga indeks gangguan magnet Bumi.

Daftar Sumber Data Prediksi SWx AI
NoJenis DataSumber Instansi
1Proton FluxSWPC NOAA
2Solar Wind IMF (Speed, Density and Bz)SWPC NOAA
3Planetary Kp IndexSWPC NOAA
4Solar Indices and Radio (F10.7, SN, X-Ray BG)SWPC NOAA
5CME EventsCACTUS SIDC
6Active Regions and FlaresSWPC NOAA
7Active Regions and Magnetic ComplexitySWPC NOAA
8PlagesSWPC NOAA
9Returning RegionsSWPC NOAA
10Global Radioburst (Type II, III and IV)SWPC NOAA
11Coronal HolesSIDC
12Kyoto Dst IndexSWPC NOAA
13Calculate Ionospheric PredictionInternal BRIN

Data yang dihimpun dari Space Weather Prediction Center (SWPC) milik Amerika Serikat dan SIDC Belgia tersebut kemudian diproses secara mandiri oleh kecerdasan buatan. Dani menegaskan bahwa skema agentic AI memungkinkan pencarian data matahari dilakukan secara otomatis dan lebih mendalam.

"Dibangun dengan cara kerja sesuai di riset-riset antariksa, dengan memanfaatkan model-model dengan skema agentic tadi, kami membuat SWx AI untuk mencari data otomatis Matahari dan melihat prediksi dengan berbagai cara," ujar Dani, Peneliti Riset Antariksa Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN).

Sistem ini juga dirancang untuk melakukan ringkasan otomatis terhadap citra matahari yang masuk dalam pangkalan data riset. Dani menambahkan bahwa pembatasan data temporal menjadi kunci utama untuk menjaga validitas hasil prediksi AI tersebut.

"Mulai melihat gambar, melakukan summary, tujuannya menghindari halusinasi di desain dengan cara membatasi data temporal dan aturan-aturan yang sifatnya deterministic," sambung Dani, Peneliti Riset Antariksa Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN).

Implementasi Gemini 2.5 Flash dalam SWx AI difokuskan untuk mengurangi beban kerja forecaster sekaligus menekan potensi kesalahan interpretasi data. Keakuratan sistem diperkuat dengan hanya mengolah data yang berasal dari aktivitas antariksa dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Artikel terkait

Rekomendasi