BRIN Percepat Pembangunan Observatorium Nasional Gunung Timau NTT

BRIN Percepat Pembangunan Observatorium Nasional Gunung Timau NTT

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginstruksikan percepatan penyelesaian pembangunan Observatorium Nasional Gunung Timau di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) agar segera beroperasi penuh pada Mei 2026. Fasilitas pengamatan antariksa ini diproyeksikan menjadi salah satu yang tercanggih di Asia dengan progres fisik saat ini telah mencapai 95 persen.

Kepala BRIN Arif Satria melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek pada Selasa, 5 Mei 2026, guna memastikan kesiapan infrastruktur strategis tersebut. Keberadaan observatorium di kawasan khatulistiwa ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi riset internasional serta mendukung operasional pangkalan antariksa nasional atau spaceport di Biak, Papua.

"Kami ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, karena akan menjadi fasilitas strategis bagi penguatan riset antariksa Indonesia. Sekaligus mendukung pengembangan spaceport nasional di Biak, Papua," kata Arif Satria, Kepala BRIN.

Selain percepatan fisik, pimpinan BRIN juga menekankan penguatan ekosistem riset melalui penambahan tenaga peneliti dan perbaikan fasilitas pendukung lainnya. Upaya ini mencakup revitalisasi gedung magnetometer demi menjamin akurasi data yang dihasilkan pusat observasi tersebut.

"Tidak hanya membangun teleskop, tetapi kami juga perlu memperkuat ekosistem risetnya. Penambahan peneliti dan revitalisasi gedung magnetometer menjadi bagian penting untuk mendukung operasional observatorium secara optimal," ujar Arif Satria, Kepala BRIN.

Arif juga menyoroti pentingnya aksesibilitas logistik dengan meminta Pemerintah Kabupaten Kupang untuk memperbaiki infrastruktur jalan menuju kawasan Gunung Timau. Hal ini bertujuan agar operasional pusat penelitian tidak terhambat oleh isolasi wilayah.

"Observatorium ini memiliki peran strategis bagi riset antariksa Indonesia. Karena itu, akses jalannya juga harus diperkuat agar kawasan ini tidak terisolasi," ucap Arif Satria, Kepala BRIN.

Research Fellow Pusat Riset Antariksa BRIN, Andre Pandie, memberikan pandangan teknis mengenai integrasi fasilitas ini dengan visi kedirgantaraan nasional. Menurutnya, observatorium ini akan menjadi pilar utama dalam pengembangan aktivitas luar angkasa Indonesia di masa depan.

"Observatorium ini nantinya diharapkan menjadi fasilitas pendukung utama dalam operasional dan pengembangan aktivitas antariksa nasional," kata Andre Pandie, Research Fellow Pusat Riset Antariksa BRIN.

Secara spesifikasi, teleskop di Gunung Timau merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan hanya memiliki satu tandingan serupa di Jepang. Posisi geografis Indonesia yang berada di jalur khatulistiwa menjadi nilai tawar tinggi bagi mitra global untuk melakukan pengamatan benda langit secara optimal.

"Dan juga posisi kita yang strategis di khatulistiwa sehingga menjadi spot yang ideal untuk pengamatan luar angkasa. Karena itu, sudah ada kerja sama internasional dan akan ada kerja sama berikutnya yang menunggu bila teleskop ini sudah beroperasi," ujar Andre Pandie, Research Fellow Pusat Riset Antariksa BRIN.

Artikel terkait

Rekomendasi