PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menjalin kerja sama dengan PT ASIX Indonesia Cerdas pada Mei 2026 untuk membangun pusat inovasi, teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan robotik di BSD City sebagai respons atas proyeksi lonjakan pasar teknologi frontier dunia.
Langkah strategis ini diambil menyusul laporan Technology and Innovation Report 2025 dari UNCTAD yang memprediksi nilai pasar teknologi frontier akan meningkat dari 2,5 triliun dollar AS pada 2023 menjadi 16,4 triliun dollar AS pada tahun 2033 sebagaimana dilansir dari Kompas.
Pengembangan kawasan ini menandai perubahan fungsi robotik di Indonesia yang sebelumnya hanya dianggap sebagai alat pelengkap industri manufaktur atau atraksi teknologi menjadi pilar utama dalam ekosistem kota masa depan.
Irawan Harahap, CEO Digital Tech Ecosystem and Development Sinarmas Land, menjelaskan bahwa transformasi yang dilakukan saat ini sudah melampaui aspek pembangunan fisik infrastruktur semata.
"Kolaborasi ini menandai langkah nyata transformasi BSD City sebagai kawasan township masa depan yang tidak hanya unggul dalam infrastruktur fisik, tetapi juga menjadi episentrum inovasi teknologi di Indonesia," ujarnya Irawan Harahap, CEO Digital Tech Ecosystem and Development Sinarmas Land.
Pusat inovasi ini juga dirancang untuk mengatasi tantangan keterbatasan talenta serta kesenjangan riset agar fasilitas yang dibangun tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan perangkat keras tanpa produktivitas.
Andrie Tjioe, CEO & Presiden Direktur PT ASIX Indonesia Cerdas, menyatakan bahwa kemitraan ini bertujuan memutus ketergantungan terhadap teknologi luar negeri melalui penciptaan ekosistem riset yang subur.
"Melalui kerja sama ini, kami ingin menciptakan ekosistem di mana riset dan pengembangan AI serta robotik dapat tumbuh subur dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri di Indonesia," kata Andrie Tjioe, CEO & Presiden Direktur PT ASIX Indonesia Cerdas.
Fokus pada pembangunan akademi dan pusat penelitian internal dinilai menjadi solusi yang lebih efisien bagi industri nasional dibandingkan terus mengandalkan pembelian teknologi dari pihak eksternal.
"Fokus pada akademi dan pusat riset menandakan bahwa industri mulai menyadari bahwa membeli teknologi jauh lebih mahal daripada membangun kapasitas untuk menciptakannya," imbuh Andrie Tjioe, CEO & Presiden Direktur PT ASIX Indonesia Cerdas.