Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini semakin meluas ke berbagai sektor seperti operasional bisnis, pemasaran, hingga layanan konsumen. Integrasi teknologi ini diadopsi oleh banyak perusahaan di Indonesia untuk memacu produktivitas serta mengefisiensikan waktu kerja.
Seperti dilaporkan Medcom, kebutuhan kompetensi kecerdasan buatan yang terus meningkat di dunia profesional memicu tren baru dalam pengembangan keterampilan praktis. Penggunaan teknologi ini tidak lagi terbatas pada sektor teknologi atau aktivitas pengodean, melainkan sudah menyentuh ranah harian pekerja.
Masyarakat kini memanfaatkan AI untuk mempermudah tugas rutin, memproduksi konten, menyusun rekam jejak profesional, hingga menciptakan alur kerja otomatis. Pergeseran ini menandai bahwa penguasaan teknologi digital telah memasuki babak baru.
Chief Technology Officer Cakap, Yohan Limerta, menjelaskan bahwa penguasaan AI kini mulai bertransformasi menjadi kompetensi baru yang krusial di pelbagai sektor industri.
"Dulu kemampuan digital seperti Microsoft Excel atau penggunaan tools online menjadi nilai tambah. Sekarang, AI mulai bergerak ke arah yang sama. Bukan hanya untuk engineer atau programmer, tetapi juga untuk profesional, pelaku bisnis, mahasiswa, even pemula yang ingin bekerja lebih efektif dan produktif," ujar Yohan dalam keteranganya dikutip Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut Yohan, hambatan utama saat ini bukan lagi persoalan akses ke piranti teknologi, melainkan pemahaman masyarakat dalam menerapkan AI secara praktis sesuai kebutuhan riil. Metode pembelajaran yang menitikberatkan pada praktik langsung dan pengerjaan proyek pun kini menjadi pilihan utama karena dinilai adaptif dengan dinamika industri.
Merespons situasi tersebut, Cakap meluncurkan program Cakap AI Academy yang memfokuskan pada penguasaan AI untuk efisiensi kerja, bisnis, serta akselerasi karier. Kurikulum program mencakup materi otomatisasi alur kerja, chatbot, pembuatan konten, hingga strategi peningkatan produktivitas usaha.
Sistem pembelajaran di akademi ini mengusung metode tanpa kode (no-code) serta berbasis proyek, sehingga dapat diikuti oleh peserta lintas latar belakang tanpa modal kemampuan pemrograman.
"AI seharusnya menjadi tools yang mempermudah pekerjaan manusia, bukan sesuatu yang terasa rumit dan eksklusif. Karena itu kami ingin membuat pembelajaran AI menjadi lebih accessible, practical, dan applicable untuk kebutuhan sehari-hari," tambah Yohan.
Kebutuhan keahlian kecerdasan buatan di pasar kerja diproyeksikan terus menguat. Pelatihan AI praktis diprediksi menjadi tren pengembangan diri yang dominan dalam beberapa tahun ke depan bagi masyarakat luas agar tetap kompetitif.