Nilai kartu Pokemon kini telah mengalami pergeseran drastis dan tidak lagi dianggap sebagai mainan anak-anak biasa. Beberapa kartu bergambar monster tersebut kini menjadi buruan para kolektor karena dinilai langka, hingga harganya melejit mencapai ratusan juta rupiah.
Lonjakan harga ini memicu kemunculan kartu-kartu palsu yang dibuat oleh pihak tidak bertanggung jawab demi meraup keuntungan sepihak. Keberadaan produk tiruan ini kerap mengecoh para kolektor baru, seperti dikutip dari Megapolitan.
Dampak dari peredaran kartu palsu tersebut membuat banyak kolektor pemula tertipu hingga mengalami kerugian materi mencapai jutaan rupiah. Guna mengantisipasi hal itu, sejumlah kolektor sekaligus pedagang kartu Pokemon membagikan metode untuk membedakan kartu asli dan palsu.
Seorang kolektor sekaligus pemilik Sultan Pokebab Card Shop di Tanjung Duren, Jakarta Barat, WY (38), menjelaskan bahwa banyak orang tertipu karena tidak memahami cara membedakan kartu. Bagi kolektor lama, perbedaan dapat langsung terlihat dari aspek serat serta tampilan visualnya.
Meski begitu, untuk mendapatkan hasil yang lebih valid, kolektor masa kini dapat memanfaatkan alat bantu berupa sinar UV untuk memeriksa serat kartu. WY juga mengingatkan para pembeli agar lebih cermat dan tidak mudah tergiur oleh penawaran harga yang murah.
"Dari serat kartunya beda, warnanya juga beda, tulisannya pun beda. Untuk cek keasliannya zaman sekarang orang-orang pakai alat bantu sinar UV," ucap WY ketika dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2026).
WY menyarankan kepada para kolektor baru untuk melakukan pembelian secara langsung melalui acara komunitas atau sistem Cash On Delivery (COD), dan menghindari transaksi daring. Melalui metode COD, pembeli dapat memeriksa fisik kartu secara langsung sebelum melakukan pembayaran.
"Zaman sekarang mereka bisa menipu dengan cara menawarkan harga murah suruh transfer dulu baru dikirim yang berujung barang tidak dikirim," sambung WY.
Memeriksa Tekstur Kertas dan Memilih Penjual Tepercaya
Metode lain untuk mendeteksi keaslian kartu dipaparkan oleh Bagir (37), kolektor sekaligus pedagang online dari akun @elite4.collectibles. Menurutnya, kualitas bahan kertas antara kartu asli dan tiruan memiliki perbedaan yang sangat mencolok.
"Kualitas kertas kartu asli dan palsu itu sangat berbeda. Jika disorot dengan lampu senter, kartu palsu biasanya cahayanya akan menembus dengan sangat jelas, sedangkan kartu asli lebih samar karena tekstur kertasnya lebih padat dan berkualitas," kata Bagir ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Bagir sependapat dengan WY dan menyarankan para pemula untuk membeli kartu langsung di acara pameran besar. Di tempat tersebut, terdapat banyak pedagang dan kolektor senior yang bersedia memberikan edukasi agar pembeli terhindar dari penipuan.
Sementara itu, Erin (25) selaku pemilik toko online @hi.pokerin, menekankan pentingnya memilih penjual yang memiliki reputasi baik. Langkah paling aman bagi kolektor baru adalah melakukan transaksi di toko-toko besar yang sudah terpercaya.
"Beli lah dari penjual yang tepercaya (trusted), jangan orang sembarangan. Salah satu tips paling gampang adalah beli di toko besar atau di "Pokearin"," tutur dia ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Melalui pemilihan penjual yang jelas, para kolektor memiliki jaminan untuk melayangkan komplain jika kartu yang diterima terbukti bermasalah atau palsu.
Analisis Risiko Ekonomi dan Potensi Bubble
Pakar Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agung Satria Permana, mengonfirmasi bahwa hukum penawaran dan permintaan berlaku dalam pasar kartu koleksi ini. Kartu edisi khusus atau karakter populer yang memiliki permintaan tinggi otomatis akan mengalami kenaikan harga.
"Jika sebuah kartu memiliki supply terbatas seperti edisi khusus atau yang demand tinggi karena karakternya populer atau sedang viral, maka harganya cenderung naik," ucap Agung saat dihubungi Kompas.com, Senin.
Namun, Agung menyoroti adanya masalah asymmetric information, di mana terdapat ketimpangan informasi antara penjual dan pembeli. Penjual berpotensi membesar-besarkan klaim kelangkaan suatu kartu guna memanipulasi persepsi pasar dan melambungkan harga di luar kewajaran.
Kondisi ini memicu risiko ekonomi terbesar berupa fenomena bubble, yaitu ancaman kerugian akibat lonjakan harga aset yang tidak realistis. Fenomena tersebut didorong oleh euforia pasar, spekulasi berlebihan, serta rasa takut tertinggal tren atau FOMO.
"Ketika tren mulai mereda atau bubble tersebut pecah, harganya jatuh secara drastis yang akhirnya malah merugikan," sambung dia.
Agung menilai fenomena kartu Pokemon ini memiliki kemiripan dengan tren NFT (Non-Fungible Token) beberapa tahun lalu yang nilainya menyusut drastis saat antusiasme pasar mereda.
Kelayakan Investasi dan Dampak Finansial
Melihat tingginya risiko ekonomi yang ada, kartu Pokemon dinilai belum layak dikategorikan sebagai instrumen investasi alternatif. Harga aset jenis ini masih sangat rentan terhadap praktik manipulasi harga oleh para spekulan.
"Nampaknya belum masih hanya sebatas collectible item yang bernilai. Karena harganya yang rentan untuk "menggoreng" harga," tutur Agung.
Perencana Keuangan dari Finante.ic, Rista Zwestika, ikut menegaskan bahwa kartu Pokemon memiliki tingkat volatilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan aset arus utama seperti emas atau saham. Emas memiliki fungsi lindung nilai yang mapan, sedangkan saham ditopang oleh fundamental bisnis yang jelas.
"Jauh lebih volatil dan kurang stabil. Emas punya fungsi lindung nilai dan pasar global yang mapan. Saham punya fundamental bisnis dan dividen," tutur Rista ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Nilai kartu Pokemon sangat bergantung pada momentum pasar, tren komunitas, serta pengaruh dari figur publik. Oleh karena itu, Rista menyarankan agar porsi penempatan dana untuk kartu Pokemon di dalam portofolio keuangan diperkecil.
"FOMO membuat orang membeli bukan karena mampu atau paham nilainya, tetapi karena takut merasa tertinggal," sambung dia.
Rista mengingatkan dampak buruk bagi kondisi finansial jika masyarakat membeli kartu hanya karena ikut-ikutan tanpa pemahaman. Fenomena ini berisiko membuat seseorang mengorbankan dana darurat, mengambil pinjaman, atau mengabaikan kebutuhan utama demi tren sesaat.
Guna menjaga hobi tetap sehat, masyarakat diimbau menggunakan alokasi dana hiburan bulanan yang sudah direncanakan secara bijak. Pembelian kartu tidak boleh mengganggu kebutuhan pokok, disertai pemahaman realistis bahwa nilai barang koleksi tersebut dapat berfluktuasi kapan saja.