Meraih haji mabrur menjadi tujuan utama bagi setiap muslim yang melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Predikat tersebut bukan sekadar status kedudukan, melainkan sebuah petunjuk bahwa ibadah yang dijalankan mendapat rida dari Allah SWT serta membawa perubahan positif dalam perilaku kehidupan.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari Detikcom melalui Buku Pintar & Praktis Haji & Umrah Lengkap Sesuai Sunnah karya Ratih Puspitawati, kata al mabrur secara bahasa berakar dari kata al birru yang memiliki arti kebaikan atau kebajikan. Oleh karena itu, al hajjul mabrur dapat diartikan sebagai ibadah haji yang dipenuhi oleh nilai-nilai kebajikan.
Secara istilah syariat, haji mabrur merupakan ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT, dilaksanakan dengan memenuhi seluruh tuntunan syariat, serta memberikan efek baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Pencapaian ini memerlukan upaya serius yang dimulai sejak sebelum keberangkatan, selama pelaksanaan, hingga setelah kembali ke tanah air.
Dalam ajaran Islam, ibadah yang diterima ini menempati posisi yang sangat mulia. Terdapat sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang menempatkan haji mabrur sebagai salah satu amal paling utama setelah keimanan kepada Allah SWT dan perjuangan jihad di jalan-Nya.
Bahkan Rasulullah SAW menegaskan keutamaan besar ini melalui sabdanya:
"Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga." (HR Bukhari)
Terdapat beberapa indikator perubahan sikap yang dapat diidentifikasi dari seseorang yang telah selesai menunaikan ibadah haji. Berikut adalah tanda-tanda haji mabrur:
1. Menebarkan Kedamaian
Indikator utama dari diterimanya ibadah haji seseorang adalah kemampuan dalam menyebarkan kedamaian kepada masyarakat di sekitarnya. Melalui hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW memberikan penjelasan bahwa tanda haji mabrur tercermin dari kebiasaan memberi makanan kepada yang membutuhkan serta menyebarluaskan salam perdamaian.
Melalui landasan tersebut, seorang jemaah yang meraih predikat mabrur akan mentransformasikan dirinya menjadi individu yang membawa ketenteraman, kenyamanan, serta maslahat bagi orang lain.
2. Bertutur Kata Santun
Perubahan signifikan juga dapat dicermati dari cara berkomunikasi dan kualitas ucapan yang dikeluarkan. Jemaah yang memperoleh kemabruran akan senantiasa membentengi lisannya agar terhindar dari ucapan kasar, hinaan, serta perkataan kotor.
Rasulullah SAW memberikan penegasan bahwa seorang mukmin sejati tidak akan menjadi pribadi yang gemar mencela atau berkata kotor. Pada riwayat lain, sifat santun dalam berbicara disebut secara spesifik sebagai karakteristik utama.
"Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga kotor." (HR At-Tirmidzi)
Kriteria tersebut juga diperkuat oleh hadits berikutnya:
"Dari Jabir RA Berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah bersabda: Memberikan makanan dan santun dalam berkata." (HR al-Hakim dan al-Baihaqi: hadits ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Muslim)
3. Memiliki Kepedulian Sosial
Keberhasilan ibadah haji juga termanifestasi melalui peningkatan solidaritas dan kepedulian sosial terhadap sesama manusia. Hal ini diwujudkan lewat konsistensi dalam membantu masyarakat yang kesusahan, termasuk menyediakan makanan bagi golongan yang memerlukan bantuan.
Penguatan nilai sosial ini menjadi sebuah pembuktian nyata bahwa ibadah haji tidak hanya berorientasi pada kesalehan ritual individual semata, melainkan juga melahirkan kesalehan sosial.
4. Menjauhi Perbuatan Maksiat
Perubahan yang paling prinsipil menyangkut komitmen untuk total meninggalkan segala bentuk tindakan maksiat. Berdasarkan hadits riwayat Muslim, jemaah yang menunaikan ibadah secara benar dengan menjauhi rafats atau perkataan keji serta fusuq atau perbuatan maksiat, akan kembali ke keadaan bersih dari dosa layaknya bayi yang baru dilahirkan.
Dengan demikian, haji mabrur ditandai dengan komitmen penuh untuk menjalani kehidupan yang lebih bertakwa dan tidak lagi mengulangi kesalahan serta dosa pada masa lampau.
Cara Meraih Haji Mabrur
Terdapat sejumlah aspek krusial yang wajib diperhatikan oleh setiap jemaah demi menggapai predikat mulia tersebut. Merujuk pada literatur yang sama, berikut adalah langkah dan metode meraih haji mabrur:
- Meluruskan niat secara ikhlas semata-mata demi mencari rida Allah SWT.
- Mempelajari tata cara manasik haji secara mendalam sesuai petunjuk sunnah.
- Melaksanakan seluruh rukun, wajib, dan sunnah haji secara khusyuk.
- Mengintensifkan bacaan zikir serta kalimat talbiyah selama di tanah suci.
- Menjaga diri dari larangan ihram seperti perbuatan rafats, fusuq, dan jidal atau berbantah-bantahan.
- Memastikan seluruh perbekalan dan dana yang dipakai berhaji bersumber dari harta yang halal.
Terkait pentingnya aspek kebaikan dalam beribadah, Rasulullah SAW mengingatkan melalui sabdanya:
"Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR Muslim)
Melalui pemahaman terhadap karakteristik tersebut, seluruh jemaah diharapkan tidak hanya berfokus pada keabsahan teknis ritual saja, melainkan juga konsisten menjaga kualitas spiritualitas diri guna menggapai surga yang dijanjikan.