Setiap muslim yang menunaikan ibadah haji tentu berharap pulang dengan predikat haji mabrur. Harapan ini wajar, karena balasan bagi haji mabrur sangat besar.
Dikutip dari Detikcom melalui buku Seri Fiqih Kehidupan susunan Ahmad Sarwat, Rasulullah SAW bersabda:
"Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itulah, banyak orang berlomba melakukan yang terbaik selama berhaji. Di sisi lain, ada pengalaman yang cukup sering terjadi setelah pulang dari Tanah Suci, yaitu batuk dan pilek. Kondisi ini sering dihubungkan dengan anggapan tertentu tentang haji mabrur.
Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan keterangan yang menyebutkan bahwa batuk atau pilek merupakan tanda haji mabrur. Kondisi ini lebih disebabkan oleh faktor kesehatan.
Ibadah haji berlangsung di tengah cuaca panas, aktivitas padat, serta interaksi dengan jutaan jemaah dari berbagai negara. Situasi tersebut membuat tubuh mudah lelah dan daya tahan menurun, sehingga batuk, pilek, atau flu sering dialami setelah pulang. Artinya, batuk pilek tidak bisa dijadikan ukuran diterima atau tidaknya ibadah haji.
Dalam buku Latha'iful Ma'arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang mampu mengumpulkan amal baik serta menjauhi dosa. Tidak ada doa yang lebih utama bagi orang yang berhaji, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, selain memohon agar hajinya menjadi haji mabrur. Penilaian terhadap haji mabrur tidak dilihat dari kondisi fisik, melainkan dari amal dan perubahan sikap.
Berdasarkan buku Kumpulan Khotbah Jumat Menuntun Umat Menuju Ketaatan karya Dr. H. Afifuddin Idrus, S.Ag., M.Pd.I., dkk., serta Tuntunan Manasik Haji dan Umrah Kemenhaj RI, terdapat beberapa ciri haji mabrur yang dapat dikenali dari perubahan sikap dan amal seseorang setelah menunaikan ibadah haji.
Salah satu tanda haji mabrur adalah kebiasaan memberi makanan kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda,
"Di antara amalan yang termasuk haji mabrur adalah memberikan makanan kepada orang lain dan menyebarkan salam." (HR. Ahmad).
Memberi makanan menunjukkan adanya kepedulian dan rasa empati.
2. Menjaga Ucapan
Ciri berikutnya adalah menjaga lisan dengan berkata baik. Orang yang hajinya diterima akan berusaha menjauhi ucapan yang menyakitkan, mencela, atau berdusta. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra ayat 53,
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
Arab latin: Wa qul li'ibādī yaqūlul-latī hiya aḥsan(u), innasy-syaiṭāna yanzagu bainahum, innasy-syaiṭāna kkāna lil-insāni 'aduwwam mubīnā(n).
Artinya: Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
3. Semakin Giat Beramal Baik
Haji mabrur juga terlihat dari meningkatnya semangat dalam melakukan amal kebajikan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 177,
۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ mَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَvِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَال dَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Arab latin: Laisal-birra an tuwallū wujūhakum qibalal-masyriqi wal-magribi wa lākinnal-birra man āmana billāhi wal-yaumil ākhiri wal-malā'ikati wal-kitābi wan-nabiyyīn(a), wa ātal-māla 'alā ḥubbihī żawil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīna wabnas-sabīl(i), was-sā'ilīna wa fir-riqāb(i), wa aqāmaṣ-ṣalāta wa ātaz-zakāh(ta), wal mūfūna bi'ahdihim iżā 'āhadū, waṣ-ṣābirīna fil-ba'sā'i waḍ-ḍarrā'i wa ḥīnal-ba's(i), ulā'ikal-lażīna ṣadaqū, wa ulā'ika humul-muttaqūn(a).
Artinya: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
4. Menjaga Kesederhanaan dan Kebersihan Hati
Sikap zuhud yang terbina saat berhaji tercermin pada gaya hidup yang tidak berlebihan. Hati juga dijaga agar tetap bersih, dengan arah hidup yang lebih fokus pada akhirat.