Konsep rezeki dalam Islam tidak melulu berkaitan dengan jumlah atau nominal materi yang dikumpulkan. Keberkahan menjadi indikator utama yang menentukan apakah harta tersebut mendatangkan manfaat atau justru menjadi beban hidup.
Rezeki yang berkah didefinisikan sebagai harta halal yang diperoleh melalui cara-cara yang dibenarkan agama. Sebaliknya, dilansir dari Detikcom, terdapat sejumlah kriteria yang menandakan sebuah rezeki tidak memiliki nilai keberkahan.
Makna rezeki dalam sudut pandang Islam sebenarnya sangat luas, mencakup kesehatan, keharmonisan keluarga, hingga ketenangan batin. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an pada Surat Hud ayat 6:
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ fِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
Artinya: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."
Dikutip dari buku Agar Harta Berkah dan Bertambah karya Didin Hafidhuddin, keberkahan dapat diamati dari dampaknya terhadap pemilik harta. Berikut adalah beberapa ciri rezeki yang tidak berkah menurut ajaran Islam:
1. Hilangnya Ketenangan Hati
Iqro' Firdaus dalam buku Saatnya Mewujudkan Impian menjelaskan bahwa rezeki yang tidak berkah sering kali dibarengi dengan hilangnya kedamaian batin. Meskipun seseorang memiliki kekayaan melimpah, hidupnya tetap dihantui rasa cemas dan kegelisahan yang tidak berujung.
2. Terus Merasa Kurang
Rezeki tanpa berkah memicu sifat tamak dan sulit untuk bersyukur. Muhammad Arham melalui bukunya Setetes Embun Hikmah memaparkan bahwa ambisi yang tidak terkendali membuat hidup terasa sangat berat meskipun secara materi sudah mencukupi.
Kondisi ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup."
3. Berasal dari Sumber yang Haram
Cara memperoleh kekayaan sangat menentukan kualitas rezeki tersebut. Harta yang didapatkan melalui korupsi, riba, penipuan, atau suap secara otomatis kehilangan keberkahannya dan berpotensi menjadi sumber masalah dalam kehidupan.
4. Penggunaan untuk Hal Sia-sia
Harta yang tidak berkah cenderung cepat habis untuk keperluan yang tidak bermanfaat atau bersifat merusak. Pemiliknya sering kali merasa penghasilannya mengalir begitu saja tanpa meninggalkan dampak positif yang nyata bagi diri sendiri maupun orang lain.
5. Membuat Jarak dengan Ibadah
Waspadai jika pekerjaan atau kekayaan justru membuat seseorang melalaikan kewajiban salat dan menjauh dari Allah SWT. Rezeki yang baik seharusnya mempermudah seseorang untuk beribadah dan mempererat hubungan dengan keluarga.
6. Menutup Pintu Kebaikan bagi Sesama
Keberkahan harta tecermin dari kerelaan pemiliknya untuk berbagi. Rezeki yang tidak berkah cenderung membuat seseorang menjadi egois dan enggan menyisihkan sebagian hartanya untuk menolong orang lain melalui sedekah.