Doa melembutkan hati seseorang sering kali diamalkan oleh umat Muslim saat ingin menyampaikan nasihat kepada keluarga, pasangan, hingga anak. Dilansir dari Detikcom, upaya memohon pertolongan Allah SWT menjadi penting karena hati manusia sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya.
Selain berusaha berkomunikasi secara bijak, membaca doa khusus agar orang lain mau mendengarkan nasihat merupakan ikhtiar yang sangat dianjurkan. Tujuannya adalah agar hati target nasihat menjadi lebih tenang serta mudah menerima kebaikan tanpa memicu keributan.
Dikutip dari buku Shalat Tahajud dan Shalat Hajat karya Mahmud asy-Syafrowi, terdapat satu doa yang dapat dibaca untuk meluluhkan hati saat memberikan nasihat. Berikut adalah teks sakral tersebut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَبِكَ فِي ضلال مُّبِينٍ
Latin: Yaa ayyuhaalladziina aamanuush-biruu washaabiruu warabithuu wattaquullaaha la'allakum tuflihuuna. Afaman syaarahallaahu shadrahu lil-islaami fahuwa 'alaa nuurimmin rabbihi, fawailullilqaasiyati quluubuhummin dzikrillaahi uulaaika fiidhalaalimmubiin.
"Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. Maka apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam sehingga ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan yang keras hatinya)? Maka celakalah bagi orang-orang yang hatinya keras dari mengingat Allah. Mereka itulah yang berada dalam kesesatan yang nyata."
Adab Menasihati Sesuai Ajaran Rasulullah SAW
Seorang Muslim juga perlu menerapkan tata cara yang tepat saat memberikan masukan kepada orang lain. Merujuk pada buku Pintar 50 Adab Islam karya Arfiani, penyampaian yang buruk justru dapat memicu rasa benci daripada perubahan positif.
Mengharap Ridha Allah SWT
Niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT harus menjadi landasan utama saat menasihati sesama. Hal ini membuat setiap ucapan bernilai ibadah dan melindungi pemberi nasihat dari rasa kecewa jika saran tersebut tidak segera dijalankan.
Menggunakan Cara yang Baik dan Bijaksana
Memilih waktu yang tepat menjadi kunci efektivitas sebuah nasihat. Nasihat sebaiknya disampaikan saat suasana hati seseorang sedang tenang, bukan saat mereka sedang dilanda amarah atau beban pikiran yang berat.
Sebagaimana kutipan dari Ibnu Mas'ud:
"Sesungguhnya ada kalanya hati bersemangat dan mudah menerima dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka, ajaklah hati saat seseorang bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat ia malas dan mudah menolak."
Bahasa yang santun juga mutlak diperlukan, terutama saat berhadapan dengan orang yang lebih tua agar tidak terkesan menggurui. Allah SWT bahkan memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara lembut kepada Fir'aun yang dikenal sangat keras hati.
فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيْنَا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ تَخْشَى
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Ath Thaha: 44).
Mempertimbangkan Situasi dan Kerahasiaan
Nasihat yang disampaikan secara pribadi jauh lebih efektif dalam menjaga perasaan seseorang. Menghindari pemberian saran di depan umum sangat penting agar pihak yang dinasihati tidak merasa dipermalukan atau direndahkan.
Manusia hanya berkewajiban menyampaikan kebenaran, sementara hidayah sepenuhnya merupakan otoritas Allah SWT. Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya untuk selalu berkata baik atau lebih baik memilih diam jika tidak mampu berbicara dengan benar.
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam...." (HR. Bukhari dan Muslim).