Menatap Ka’bah untuk pertama kalinya dan menyentuh Hajar Aswad menjadi pengalaman spiritual luar biasa bagi jamaah yang menjalankan ibadah haji maupun umrah. Momen berhadapan langsung dengan kiblat umat Islam ini kerap memicu rasa haru mendalam yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dikutip dari Cahaya, momentum berharga tersebut memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi, sehingga sangat dianjurkan untuk diisi dengan zikir dan doa. Beberapa riwayat hadis telah mencatat bacaan doa yang diamalkan oleh Rasulullah SAW serta para ulama saat berada di tanah suci.
Dalam kitab Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah, terdapat riwayat mengenai doa yang diucapkan Rasulullah SAW saat menatap Ka’bah. Doa ini berisi permohonan agar Allah menambah kemuliaan pada rumah suci tersebut serta para jemaah yang mengunjunginya.
"اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَبِرًّا"
Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah kepada rumah ini (Ka’bah) kemuliaan, keagungan, dan kewibawaan. Dan tambahkanlah kepada orang yang menunaikan haji atau umrah kepadanya kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kebaikan.” (Al-Mushannaf, juz 6, h. 81).
Selain itu, terdapat doa lain yang sering dibaca oleh tabi’in Sa’id bin al-Musayyib saat memasuki area Masjidil Haram. Bacaan ini memohon keselamatan yang menyeluruh bagi setiap hamba-Nya.
"اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ"
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari-Mulah segala keselamatan, maka hidupkanlah kami wahai Tuhan kami dengan keselamatan.”
Doa tersebut sangat populer di kalangan umat Muslim Indonesia karena umum dibaca setelah salat fardu. Maknanya mencakup permohonan keselamatan iman, jasmani, keluarga, hingga keselamatan di akhir hayat kelak.
Bacaan Saat Menyentuh Hajar Aswad
Aktivitas menyentuh atau memberi isyarat kepada Hajar Aswad merupakan bagian krusial dalam rangkaian tawaf. Praktik ini dilakukan sepenuhnya untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Salah satu lafaz singkat yang bisa dibaca adalah sebagai berikut.
"بِاسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ"
Artinya: “Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar.” (As-Sunan al-Kubra, juz 5, h. 128).
Terdapat pula riwayat lain yang mencantumkan kalimat tambahan sebagai bentuk penegasan iman dan komitmen mengikuti ajaran Nabi. Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm juga meriwayatkan bacaan serupa yang mempertegas pengagungan kepada Allah.
"بِاسْمِ اللَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، إِيمَانًا بِاللَّهِ، وَتَصْدِيقًا بِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"
Artinya: “Dengan nama Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Mahabesar. Pernyataan ini sebagai wujud keimanan kepada Allah dan pembenaran terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.”
Penting bagi jamaah untuk memahami bahwa amalan ini merupakan bentuk ketaatan, bukan karena meyakini benda tersebut memiliki kekuatan gaib. Hal ini ditegaskan melalui sikap Umar bin Khattab saat menghadapi Hajar Aswad.
"أنَّ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنه قال للرُّكنِ: أما واللهِ، إنِّي لَأعلَمُ أنَّكَ حَجَرٌ لا تَضُرُّ ولا تَنفَعُ, ولَولا أنِّي رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم استَلَمَكَ ما استَلَمتُكَ"
Artinya: “Sesungguhnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Hajar Aswad: ‘Demi Allah, sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi SAW menyentuhmu, niscaya aku tidak akan menyentuhmu.” (HR Bukhari).
Pernyataan Umar bin Khattab tersebut menjadi landasan kuat bahwa segala ritual yang dilakukan di sekitar Ka'bah murni bertujuan menjalankan perintah agama dan mengikuti teladan Rasulullah SAW.