Keluarga Menyambut Jemaah dengan Doa Pulang Haji agar Mabrur

Keluarga Menyambut Jemaah dengan Doa Pulang Haji agar Mabrur

Jemaah haji telah pulang ke Tanah Air secara bertahap. Memanjatkan doa pulang haji agar mabrur menjadi hal tepat yang bisa dilakukan keluarga untuk menyambut kedatangan mereka, seperti dilansir dari Detikcom.

Menjadi haji mabrur merupakan harapan setiap muslim yang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Berdasarkan buku Catatan Ramadhan karya Kholid A Harras, kata mabrur berasal dari barra-yaburru-barran atau al-barra, al-birrun yang berarti berbuat baik atau patuh. Al-birrun bermakna kebaikan, ketaatan, kesalehan, atau dapat diartikan diterima.

Predikat mabrur ditujukan bagi laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut mabruroh. Hadits terkait haji mabrur merujuk pada sabda Nabi SAW.

"Haji yang mabrur tidak ada balasan lain baginya kecuali surga." (HR Bukhari dan Muslim)

Para ulama berpendapat bahwa haji mabrur berarti ibadah yang tidak dicampuri dengan dosa-dosa. Ungkapan tersebut mengindikasikan kebaikan haji yang diperoleh jemaah mampu membentengi dirinya dari dosa besar maupun kecil, sebagaimana dimuat dalam buku Sederhana Indah oleh Didin Hafidhudin.

Dalam ajaran Islam, haji adalah rukun Islam yang wajib dilaksanakan bagi muslim yang mampu. Dari Abu Hurairah RA berkata:

"Rasulullah SAW pernah ditanya, 'Amal apa yang paling afdhal?' Beliau menjawab, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Beliau ditanya lagi, 'Setelah itu amal apa?' Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah.' Beliau ditanya lagi. 'Selanjutnya apa?' Beliau menjawab, 'Haji yang mabrur'." (HR Bukhari Muslim)

Kerabat yang menyambut kedatangan jemaah dapat mengamalkan doa pulang haji mabrur. Setidaknya terdapat tiga versi doa yang dapat dilafalkan oleh umat muslim.

Doa Pulang Haji Mabrur Versi Pertama

Doa pertama dikutip dari buku Untaian Mutiara Doa tulisan Ali Manshur dengan bacaan sebagai berikut:

اللهُمَّ اجْعَلْهَا حَاجًا مَبْرُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا

Allaahummaj-'alhaa hajjan mabruuran wa dzanban maghfuuraan.

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah ia (ibadah) sebagai ibadah haji yang mabrur dan dosa yang diampuni."

Doa Pulang Haji Mabrur Versi Kedua

Pilihan doa kedua dinukil dari buku Fiqh As Sunnah Sayyid Sabiq terjemahan Khairul Amru Harahap dengan lafal berikut:

زَوَّدَكَ اللَّهَ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Zawwadakallaahut-taqwaa, wa ghafara dzan-baka, wa yassara lakal-khaira haitsu maa kunta.

Artinya: "Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam jalan kebaikan di mana pun kau berada."

Doa Pulang Haji Mabrur Versi Ketiga

Versi doa berikutnya juga bersumber dari buku yang sama dengan bacaan sebagai berikut:

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

Astaudi'ullaha diinaka wa amaanataka wa khawaatima 'amalik.

Artinya: "Aku menitipkan agamamu, amalanmu dan akhir amal perbuatanmu kepada Allah."

Ciri-Ciri Jemaah yang Meraih Haji Mabrur

Buku 65 Kultum Kamtibmas susunan Syarif Hidayatullah dan buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah karya M Syukron Maksum menyebutkan beberapa tanda yang tampak pada seseorang yang meraih predikat haji mabrur.

Ciri-ciri tersebut meliputi santun dalam berkata-kata (thayyibul kalam), menebarkan kedamaian (ifsya'us salam), serta memiliki kepedulian sosial (ith'amut tha'am). Jemaah juga menjadi semakin taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya, memiliki akhlak yang lebih baik, banyak bersedekah, serta semangat berdakwah.

Tanda lainnya adalah baik dalam menjaga amanah, suka menolong sesama, gemar menyambung kembali tali silaturahmi, serta semakin mencintai ilmu dan majelis ilmu.

Karakteristik haji mabrur juga dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Riwayat dari Jabir RA dengan sanad hasan menyatakan:

"Sesungguhnya wujud dari haji mabrur adalah (tertanamnya sifat asih) dengan memberi makanan (kepada yang berhak) dan ucapannya lembut." (HR Ahmad)

Dalam redaksi lainnya, Rasulullah SAW memberikan jawaban berupa, "Memberi makanan dan menebarkan kedamaian."

Pengertian Kebalikan dari Haji Mabrur

Haji mardud merupakan kebalikan dari haji mabrur. Buku Yang Tersembunyi di Balik Ritual Haji susunan M Sadat Ismail menjelaskan bahwa mardud berasal dari kata radda-yaruddu yang berarti menolak dan mengembalikan.

Secara makna sebagai maf'ul, mardud berarti ditolak, sehingga haji mardud diartikan sebagai ibadah haji yang ditolak oleh Allah SWT. Imam Al Ghazali dalam Asrar al-Haj yang diterjemahkan Mujiburrahman mencantumkan hadits terkait haji mardud dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa menyengaja datang ke Baitullah ini sebab pekerjaan haram, maka ia adalah pribadi yang tidak taat kepada Allah SWT. Apabila ia bersiap berangkat, kedua kakinya menaiki kendaraan, kemudian kendaraannya berjalan dan ia berkata, 'Labbaika Allahumma Labbaik (Kami datang menyambut panggilan-Mu ya Allah, kami datang menyambut panggilan-Mu),' maka malaikat berseru dari langit menjawab, 'Tidak ada sambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu. Pekerjaanmu haram, pakaianmu haram, kendaraanmu haram dan perbekalanmu haram. Pulanglah kamu membawa haji mardud (ditolak), bukan haji mabrur (diterima), dan bergembiralah dengan hajimu yang buruk.'

Apabila seseorang menunaikan haji menggunakan harta halal, ia menaiki kendaraan, kemudian kendaraanya berjalan dan ia berkata, 'Labbaik Allahumma Labbaik', maka malaikat berseru dari langit menjawab, 'Kami menyambut kamu dan semoga kebahagian menyertaimu. Kamu wajib mendapatkan apa yang kamu cintai, kendaraanmu halal dan pakaianmu halal serta perbekalanmu halal, maka pulanglah membawa haji mabrur, bukan mardud, dan mulailah berkerja." (Abu Dzar dalam kitab Manasik)

Artikel terkait

Rekomendasi