Dodongkal: Dari Perekat Sosial hingga Menjadi Kudapan Nostalgia

Dodongkal: Dari Perekat Sosial hingga Menjadi Kudapan Nostalgia

Aroma khas bambu menguar bersama uap panas dari sebuah sudut dapur tempo dulu. Di dalam wadah anyaman, adonan tepung beras dan lelehan gula aren matang perlahan, membentuk sebuah kerucut yang menyerupai tumpeng mini. Di Jakarta dan sekitarnya, masyarakat Betawi lebih mengenalnya dengan sebutan dongkal, sementara di Bandung dan wilayah Jawa Barat bagian selatan, makanan ini akrab disebut awug. Namun di balik kesederhanaan bahan bakunya, dodongkal atau dongkal menyimpan narasi yang jauh lebih mendalam daripada sekadar pengisi perut di waktu luang.

Bukan Sekadar Jajanan Tradisional

Meskipun saat ini lebih sering dijumpai di pasar tradisional, dalam kehidupan sosial masyarakat masa lalu, kue khas masyarakat Sunda ini memegang peranan penting dalam merekatkan hubungan antarwarga. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan yang nyata dalam aktivitas sehari-hari.

"Dalam kehidupan masyarakat Sunda dan Betawi tempo dulu, dodongkal memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar pengganjal perut. Ia berfungsi sebagai media interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga," ujar Imam Setyobudi, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI).

Sebagai makanan sambat atau simbol gotong royong, dodongkal menjadi hidangan wajib yang disajikan saat warga bahu-membahu membangun rumah atau memperbaiki saluran air. Ukurannya yang besar dalam satu cetakan memungkinkan makanan ini dibagi-bagikan kepada banyak orang, mencerminkan semangat berbagi yang tinggi. Selain itu, piring-piring berisi dodongkal kerap berpindah tangan antar-tetangga sebagai buah tangan yang merawat kerukunan.

Kue bertekstur padat ini juga menjadi penanda identitas masyarakat agraris yang menghargai hasil bumi. Penjualnya yang memikul dagangan berkeliling kampung pada subuh atau sore hari secara tidak langsung menciptakan ruang sosial informal, tempat warga berkumpul dan mengobrol hangat sembari menunggu pesanan.

"Menikmati dodongkal bersama setelah panen adalah cara warga merayakan keberhasilan kolektif mereka sebagai petani," kata Imam Setyobudi, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI).

Sajian ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan yang khidmat tidak selamanya harus dibayar mahal. Menggunakan bahan-bahan yang melimpah di kebun sendiri, masyarakat mampu menghadirkan sebuah penghormatan sosial yang tulus.

"Singkatnya, dodongkal adalah 'perekat sosial' yang menyatukan orang-orang dari berbagai lapisan usia dan status untuk duduk bersama dan berbagi rasa manis yang sama," ujar Imam Setyobudi, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI).

Evolusi Rasa dan Cara Pembuatan

Seiring berjalannya waktu, dodongkal terus menyesuaikan diri dengan gerak zaman. Sebelum era 1970-an, adonannya lazim menggunakan tepung gaplek atau singkong kering tumbuk karena komoditas tersebut sangat melimpah di pedesaan. Ketika gaplek mulai langka, masyarakat beralih menggunakan tepung beras yang menghasilkan tekstur lebih lembut, kenyal, dan pulen.

Kini, variasi bahan baku semakin kaya dengan penambahan ubi jalar kuning sebagai pewarna alami hingga campuran susu untuk memperkuat rasa gurih. Kendati demikian, beberapa perajin masih setia mempertahankan penggunaan aseupan atau kukusan bambu kerucut serta seeng alias dandang tembaga.

"Alat ini krusial untuk menjaga suhu uap agar matang merata dan aroma bambunya meresap," ujar Imam Setyobudi, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI).

Metode selang-seling antara tepung dan gula aren pun tetap dipertahankan demi menghasilkan motif belang-belang khas saat dipotong. Perubahan kasat mata justru terlihat pada kemasan; dari yang dulunya disajikan utuh dalam acara adat, kini dikemas praktis menggunakan kotak kertas atau mika, lengkap dengan pilihan rasa modern seperti cokelat dan green tea untuk memikat generasi muda.

Dilema Pengaruh Modernisasi

Derasnya arus modernisasi membawa dampak ganda bagi eksistensi dodongkal. Di satu sisi, ada nilai-nilai luhur dan spiritual yang perlahan menguap, namun di sisi lain, adaptasi teknologi membuka peluang baru untuk bertahan hidup.

"Di satu sisi ada nilai yang tergerus, namun di sisi lain muncul upaya rebranding agar tetap relevan," ujar Imam Setyobudi, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI).

Pergeseran ini mengubah dodongkal yang awalnya bernilai sakral dalam ritual sedekah bumi menjadi sekadar komoditas kuliner instan. Penggunaan alat masak tradisional pun mulai terancam oleh kepraktisan kukusan logam modern, yang lambat laun menghilangkan aroma khas serta filosofi kedekatan manusia dengan alam. Di mata generasi muda, bentuk kerucutnya kerap dipandang sebagai keunikan visual belaka, tanpa memahami maknanya sebagai simbol penghormatan kepada Tuhan.

Kendati demikian, ruang digital seperti Instagram justru membantu memperluas popularitas dodongkal hingga ke luar wilayah asalnya melalui visualisasi yang estetik. Penjual yang masih mempertahankan alat tradisional kini naik kelas menjadi daya tarik wisata kuliner yang bernilai tinggi.

"Secara keseluruhan, modernisasi memang menipiskan nilai filosofis mendalam yang dulu dianut masyarakat agraris, namun di saat yang sama ia menjadi alat penyelamat agar dodongkal tidak punah ditelan zaman dengan cara mengubahnya menjadi identitas kuliner yang membanggakan," ujar Imam Setyobudi, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI).

Artikel terkait

Rekomendasi