Drone Balap Blackbird Pecahkan Rekor Kecepatan Hingga 730 Km per Jam

Drone Balap Blackbird Pecahkan Rekor Kecepatan Hingga 730 Km per Jam

Dunia teknologi penerbangan tanpa awak mencetak sejarah baru melalui pencapaian drone balap bernama Blackbird. Wahana terbang ini sukses menembus kecepatan puncak hingga 730 kilometer per jam.

Dikutip dari Tekno, catatan tersebut menempatkan Blackbird sebagai salah satu drone tercepat di dunia. Kecepatan puncaknya bahkan melampaui kemampuan jet darat Formula 1 (F1) modern.

Perangkat mutakhir ini dirancang oleh dua insinyur asal Australia, Ben Biggs dan Aidan Kelly. Keduanya dikenal sebagai sosok di balik saluran YouTube Drone Pro Hub.

Ketika dilakukan pengujian terbaru, Blackbird mengukur kecepatan tertinggi 730 km/jam saat terbang searah hembusan angin (downwind run). Saat diuji terbang melawan arah angin, kecepatannya bertahan pada angka 640 km/jam.

Akumulasi rata-rata dari kedua arah penerbangan tersebut membuahkan catatan kecepatan 685 km/jam. Hasil ini melewati rekor resmi Guinness World Records milik drone Peregreen V4 dengan kecepatan rata-rata 657,59 km/jam.

Walakin, rekor baru yang dibukukan oleh Blackbird ini masih berstatus belum resmi. Hal tersebut terjadi karena proses pengujian belum diverifikasi secara langsung oleh pihak Guinness World Records.

Kemampuan melesat Blackbird yang menyentuh angka 730 km/jam berada jauh di atas performa mobil F1 modern. Berdasarkan catatan sejarah Grand Prix, mobil F1 tercepat di lintasan balap resmi melaju sekitar 372,56 km/jam.

Rekor F1 tersebut diukir oleh pembalap Kolombia, Juan Pablo Montoya, saat mengendarai mobil tim McLaren Mercedes di GP Italia 2005. Hingga kini, catatan tersebut masih diakui oleh Guinness World Records.

Mobil balap F1 sebenarnya sempat bergerak lebih cepat pada momen tertentu. Pembalap tim Williams, Valtteri Bottas, menembus kecepatan 372,5 km/jam sewaktu balapan GP Meksiko 2016 berlangsung.

Valtteri Bottas bahkan mencetak kecepatan 378 km/jam pada sesi kualifikasi GP Azerbaijan di trek lurus Sirkuit Baku pada tahun yang sama. Namun, performa ini tidak masuk rekor resmi karena terjadi di luar sesi balapan utama Grand Prix.

Semua catatan kecepatan jet darat tersebut tetap berada jauh di bawah performa maksimal Blackbird. Drone balap ini terbukti mampu melesat hampir dua kali lipat lebih cepat daripada mobil F1 terkencang dalam sejarah.

Inovasi Desain Baling-Baling Berbahan Karbon

Akselerasi luar biasa Blackbird ditopang oleh penggunaan baling-baling baru berbahan serat karbon (carbon fiber) yang diproduksi secara khusus. Komponen ini dipasang untuk menggantikan propeller APC 7x15 yang digunakan pada generasi terdahulu.

Spesifikasi mendalam mengenai komponen penggerak baru ini masih dirahasiakan oleh tim pengembang. Sesuatu yang terungkap ke publik adalah struktur baling-baling ini menerapkan desain bergerigi di sisi depan atau sawtooth leading edge.

Rancangan bergerigi tersebut memiliki fungsi krusial untuk memicu pusaran udara kecil. Pusaran ini menjaga aliran udara tetap mengarah ke sisi belakang baling-baling dan tidak tersebar ke arah samping.

Pola ini mendatangkan peningkatan efisiensi aerodinamika yang signifikan sehingga drone dapat melesat lebih kencang. Sudut kemiringan baling-baling juga dirancang sejajar dengan jalur terbang guna meminimalkan hambatan angin.

Menurut Ben Biggs, modifikasi minor pada aspek aerodinamika ini memberikan pengaruh yang sangat masif. Dampak besar tersebut mulai terasa ketika wahana terbang sudah bergerak di atas kecepatan 400 mph atau berkisar 643 km/jam.

Kendala Teknis dan Kerusakan Komponen

Perjalanan memecahkan rekor dunia ini sempat diwarnai hambatan besar pada hari pertama pengujian. Blackbird kehilangan transmisi sinyal video setelah sempat menyentuh kecepatan sekitar 630 km/jam.

Tim teknis menduga gangguan tersebut dipicu oleh tata letak antena, efek Doppler pada sistem video digital, serta intensitas sinyal yang terlampau kuat sewaktu drone melintas dekat posisi operator.

Insiden pada hari pertama itu menyebabkan satu unit Blackbird hilang dan ditemukan dalam keadaan rusak. Beruntung, tim pengembang masih menyimpan satu unit prototipe cadangan untuk melanjutkan pengujian.

Memasuki hari kedua, tantangan alam muncul berupa hembusan angin berkecapatan 60 km/jam disertai cuaca buruk. Meski demikian, Blackbird berhasil menembus batas kecepatan 700 km/jam sekaligus mencetak rekor baru.

Proses pengujian ekstrem ini memaksa seluruh sistem elektronik bekerja hingga batas tertinggi. Blackbird menyedot aliran arus listrik hingga 400 ampere dalam durasi sekitar 10 detik.

Kondisi tersebut memicu kenaikan suhu unit baterai hingga mencapai 80 derajat Celsius. Sesaat setelah mendarat, komponen baterai tampak mengeluarkan asap dan lapisan pelindung kabel mulai meleleh akibat panas.

Tim pengembang memastikan bahwa komponen inti drone balap tersebut masih dapat diselamatkan. Kerusakan yang terjadi akibat panas ekstrem tersebut tidak bersifat permanen.

Siklus Persaingan Rekor Dunia Drone

Kompetisi untuk menjadi drone tercepat di dunia berlangsung sangat ketat dalam beberapa periode terakhir. Sebelumnya, Luke dan Mike Bell mengamankan rekor resmi Guinness memakai drone Peregreen 2 yang melesat 298 mph atau 479,58 km/jam.

Gelar tersebut selanjutnya diambil alih oleh drone Fastboy 2 yang mengukir kecepatan 346 mph atau setara 556,83 km/jam. Informasi ini melengkapi data persaingan teknologi penerbangan tanpa awak.

Ben Biggs dan Aidan Kelly kemudian merebut posisi puncak lewat proyek Blackbird generasi awal dengan kecepatan rata-rata 626 km/jam. Posisi mereka sempat digeser kembali oleh Peregreen V4 yang mencatatkan kecepatan rata-rata 656,6 km/jam.

Kini, Blackbird kembali memimpin persaingan lewat pencapaian kecepatan rata-rata 685 km/jam dan kecepatan puncak 730 km/jam. Drone ini berpeluang besar merebut kembali gelar resmi jika mampu mengulang performa serupa di bawah pengawasan langsung perwakilan Guinness World Records.

Artikel terkait

Rekomendasi