Umat Islam Rayakan Idul Adha 1447 H, Kenali Durasi dan Jenis Takbiran

Umat Islam Rayakan Idul Adha 1447 H, Kenali Durasi dan Jenis Takbiran

Umat Islam di berbagai belahan dunia tengah menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh pada 27 Mei 2026. Lantunan takbir terus berkumandang mengiringi momen penuh syukur dan kebersamaan ini, bahkan setelah pelaksanaan salat Id.

Banyak masyarakat kerap mempertanyakan batasan waktu mengumandangkan takbir Idul Adha, terutama perbedaannya dengan Idul Fitri yang hanya berlangsung semalam. Dilansir dari Suara yang merujuk pada data Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), takbiran Idul Adha memiliki durasi yang jauh lebih panjang.

Kajian para ulama berdasarkan Surat Al-Hajj ayat 28 dan sejumlah hadits menetapkan durasi takbiran Idul Adha berlangsung selama lima hari. Waktu pelaksanaannya dimulai sejak subuh pada hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah hingga waktu ashar pada hari Tasyrik terakhir, yaitu 13 Dzulhijjah.

Durasi panjang ini merujuk pada pandangan Imam Ahmad, Abu Saur, dan Sufyan Saury. Para ulama tersebut menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersama para sahabat senantiasa memperbanyak tahlil, takbir, serta tahmid pada hari-hari istimewa tersebut.

Pelaksanaan takbiran Idul Adha terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan ketentuan waktu dan lokasinya. Jenis pertama adalah Takbir Mursal, yaitu lantunan takbir yang dapat diucapkan di mana saja dan kapan saja tanpa terikat waktu salat, seperti di rumah, masjid, jalan, atau pasar. Waktu pelaksanaannya membentang sejak awal tanggal 1 Dzulhijjah hingga akhir hari Tasyrik pada 13 Dzulhijjah.

Jenis kedua dinamakan Takbir Muqayyad. Takbir ini digaungkan secara khusus setiap kali selesai menunaikan salat fardu, baik yang dikerjakan secara berjamaah maupun individu. Waktunya berlangsung sejak Subuh hari Arafah pada 9 Dzulhijjah sampai waktu Ashar tanggal 13 Dzulhijjah.

Hukum dan Keistimewaan Takbiran

Mengumandangkan takbir pada Hari Raya Idul Adha memiliki hukum sunnah muakkadah, yang berarti amalan ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Tradisi mengagungkan nama Allah SWT ini telah dicontohkan sejak zaman Rasulullah SAW.

Dahulu, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sering mengumandangkan takbir di area terbuka seperti pasar. Langkah tersebut bertujuan mengumumkan tibanya hari raya kepada masyarakat luas sekaligus mempersatukan hati umat dalam kegembiraan iman.

Masa pelantunan yang lebih lama menjadi salah satu keistimewaan utama bulan Dzulhijjah. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas kebudayaan, melainkan representasi dari kemenangan iman dan wujud rasa syukur atas segala nikmat Allah SWT, khususnya yang berkaitan dengan ibadah kurban.

Artikel terkait

Rekomendasi