Dzikir dan Doa Hari Arafah yang Dianjurkan Rasulullah SAW

Dzikir dan Doa Hari Arafah yang Dianjurkan Rasulullah SAW

Hari Arafah merupakan salah satu fase krusial dalam rangkaian ibadah haji yang melibatkan seluruh jamaah di Padang Arafah. Dilansir dari Cahaya, momentum ini menjadi waktu bagi jamaah untuk melaksanakan wukuf sebagai rukun utama yang menentukan keabsahan haji seseorang.

Aktivitas utama jamaah saat berada di Arafah adalah memperbanyak interaksi spiritual dengan Allah SWT. Hal ini dilakukan melalui rangkaian doa, dzikir, istighfar, serta permohonan ampunan dengan penuh ketundukan di tengah hamparan padang pasir tersebut.

Pentingnya posisi Hari Arafah dalam Islam ditegaskan langsung melalui sabda Rasulullah SAW mengenai kedudukan wukuf. Penegasan ini memberikan gambaran bahwa tanpa kehadiran di Arafah, rangkaian manasik haji tidak dianggap sempurna.

"الْحَجُّ عَرَفَةُ"

Hadis tersebut menjadi landasan utama bahwa wukuf di Padang Arafah adalah inti dari seluruh prosesi haji. Di lokasi ini, jamaah berkumpul untuk bertaubat dan memohon pertolongan Tuhan dengan suasana yang sangat khusyuk.

Dzikir Tauhid sebagai Doa Utama

Di antara berbagai bacaan, terdapat satu dzikir tauhid yang secara khusus dianjurkan untuk dibaca secara berulang. Dzikir ini bersumber dari riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah dalam kitab Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah.

Rasulullah SAW bersabda:

"أَكْثَرُ دُعَائِي وَدُعَاءِ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي بِعَرَفَةَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شريكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ"

"Doa yang paling banyak aku panjatkan dan begitu juga para nabi sebelumku di Hari Arafah adalah: Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Para ulama berpendapat bahwa meski kalimat tersebut berupa pujian tauhid, namun di dalamnya terkandung makna permohonan yang sangat mendalam kepada Allah SWT.

Doa Memohon Cahaya dan Perlindungan

Selain dzikir tauhid, riwayat lain dari Ibnu Abi Syaibah juga mencatat rangkaian doa panjang untuk memohon ketenangan hati dan perlindungan dari berbagai keburukan. Doa ini mencakup permintaan agar Allah memberikan petunjuk pada setiap indra manusia.

"اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا، اللَّهُمَّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسْوَاسِ الصَّدْرِ وَشَتَاتِ الْأَمْرِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي النَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَمِنْ شَرِّ بَوَائِقِ الدَّهْرِ"

"Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada pendengaranku, dan cahaya pada penglihatanku. Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan aku berlindung kepada-Mu dari bisikan hati yang buruk, dari kekacauan urusan, dan dari fitnah kubur. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang masuk pada malam hari, dari keburukan yang masuk pada siang hari, dari keburukan yang dibawa oleh hembusan angin, dan dari segala bencana serta malapetaka zaman."

Kualitas Sanad Riwayat Dzikir

Meskipun terdapat variasi bacaan, para ulama menilai bahwa riwayat yang paling kuat adalah dzikir tauhid tanpa tambahan doa yang panjang. Namun secara substansi, kedua jenis bacaan tersebut tetap diperbolehkan karena mengandung nilai penghambaan yang tinggi.

Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan bahwa riwayat terkait dzikir Hari Arafah memiliki kualitas sanad yang hasan. Dukungan serupa juga ditemukan dalam riwayat Imam Ahmad, di mana para perawinya dikategorikan sebagai tsiqah atau terpercaya.

Anjuran untuk memperbanyak dzikir ini tidak hanya berlaku bagi jamaah yang sedang wukuf. Umat Islam di seluruh penjuru dunia juga disarankan untuk mengisi Hari Arafah dengan doa dan keyakinan penuh kepada Allah SWT.

Artikel terkait

Rekomendasi