Evolusi rahang yang membesar dan menguat menjadi senjata utama dalam memburu mangsa memicu penyusutan ukuran lengan pada berbagai lini dinosaurus predator seperti Tyrannosaurus rex. Temuan tersebut diperoleh setelah para peneliti membandingkan panjang kaki depan dengan ukuran tengkorak pada 61 spesies theropoda, seperti dilansir dari Detik iNET pada Minggu (24/5/2026).
Riset yang terbit di jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences ini menemukan hubungan kuat antara reduksi anggota gerak depan dan kekokohan tengkorak pada lima keluarga theropoda. Kelompok tersebut meliputi tyrannosaurid, abelisaurid, carcharodontosaurids, megalosaurids, dan ceratosaurids, di mana beberapa spesies tetap berukuran kecil meski memiliki kombinasi kepala kuat dan lengan kecil.
Pola penyusutan lengan terjadi dalam proporsi berbeda di setiap garis keturunan, baik menyusut bersamaan maupun hanya pada bagian tertentu, namun tangan pendek tersebut diperkirakan tetap mampu meremuk beban di atas 100 kilogram. Para ilmuwan menduga lengan pendek tersebut berfungsi membantu dinosaurus bangkit dari tanah, bertahan saat kawin, merobek mangsa, atau menghindari gigitan tidak sengaja dari sesamanya saat berebut makanan.
"Kami berusaha memahami apa yang mendorong perubahan ini dan menemukan hubungan kuat antara lengan pendek dan kepala besar dan kuat," kata Charlie Roger Scherer, ahli paleontologi vertebrata di University College London.
Scherer menambahkan bahwa perubahan ini terjadi karena lengan tidak lagi efektif digunakan dalam melumpuhkan mangsa raksasa. Anggota badan yang tidak terpakai tersebut akhirnya mengecil secara evolusioner karena fungsinya telah digantikan sepenuhnya oleh bagian kepala.
"Kepala mengambil alih lengan sebagai metode serangan. Ini adalah kasus 'gunakan atau hilangkan' -- lengan tidak lagi berguna dan ukurannya akan mengecil seiring berjalannya waktu," sambung Charlie Roger Scherer, ahli paleontologi vertebrata di University College London.
Tim peneliti menilai bahwa adaptasi fisik ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan mangsa-mangsa berukuran masif di lingkungan sekitar mereka. Penggunaan rahang dinilai jauh lebih efektif dan aman bagi keselamatan predator dibandingkan memaksakan penggunaan cakar depan.
"Adaptasi ini sering terjadi di daerah dengan mangsa raksasa. Mencoba menarik dan menangkap sauropoda sepanjang 30 meter dengan cakar bukanlah hal yang ideal. Menyerang dan bertahan dengan rahang mungkin lebih efektif," menurut Charlie Roger Scherer, ahli paleontologi vertebrata di University College London.
Berdasarkan kecenderungan data yang dikumpulkan, tim peneliti menyimpulkan bahwa kemunculan tengkorak yang kokoh kemungkinan besar mendahului proses penyusutan lengan depan dinosaurus. Skema evolusi ini dinilai paling logis karena predator membutuhkan senjata pengganti yang siap pakai sebelum lengan mereka kehilangan fungsinya.
"Meskipun penelitian kami mengidentifikasi korelasi sehingga tidak dapat menentukan sebab dan akibat, kemungkinan besar tengkorak bertubuh kuat muncul sebelum kaki depan lebih pendek," pendapat Charlie Roger Scherer, ahli paleontologi vertebrata di University College London.
Analisis ini sekaligus mematahkan asumsi bahwa penyusutan lengan terjadi secara acak tanpa adanya organ substitusi yang memadai. Keberadaan rahang besar bertindak sebagai jaminan bagi keberlangsungan hidup predator tersebut selama fase transisi anatomis.
"Tidak masuk akal secara evolusioner jika hal ini terjadi sebaliknya, dan jika predator ini menghentikan mekanisme serangannya tanpa memiliki cadangan," tutup Charlie Roger Scherer, ahli paleontologi vertebrata di University College London.